Wednesday, October 30, 2013

Listen to Her

“Terus mau kamu sekarang apa?” tanya perempuan yang mulai kehabisan kesabarannya itu.     
Please, stay here.” Pinta lelaki yang menjadi lawan bicaranya bersungguh-sungguh.
                “Gampang ya kamu ngomong gitu? Aku udah ga tahan, Ris. Aku cape…” suara wanita itu mulai terdengar parau. Ia berusaha menahan air matanya yang sudah memaksa untuk ke luar.
                “Aku salah apa sih sama kamu? Tara, tolong jelasin ke aku.” Pinta lelaki yang bernama Haris sekali lagi.
                “Pikir sendiri.” Jawab Tara ketus.
                “Aku bukan mentalist yang bisa baca pikiran kamu, Tara.” Tara terdiam mendengar jawaban Haris. Ia menarik napasnya berkali-kali, berusaha menenangkan dirinya sendiri.
                Melihat Tara yang tak kunjung membuka mulut lagi, Haris kembali bertanya, “aku salah apa?”
                “Kamu pikir aku apa sih, Ris? Aku cuma minta kamu buat dengerin aku… gampang kan? Kamu sadar apa yang kamu lakuin kalau aku udah ngomong?” Tara gagal menahan emosinya. Kali ini Haris yang terdiam.
                “Ga sadar? Kamu ga sadar, Ris? Kamu dengan kencangnya ngebentak aku, nyuruh aku diem. Apa salah seorang perempuan cerita tentang hari-harinya sama pacarnya sendiri? Salah? Aku ngerasa kamu itu, bukan Haris-nya-aku. Kamu emang bukan buat aku.” Jelas Tara, air mata mulai mengalir dari mata beningnya.
                “Tar…”
                “Sebentar, aku belum selesai.” Ucap Tara tegas membuat Haris menghentikan niatnya untuk berbicara. Tolong, aku ingin didengar, sekali saja, saat ini saja. Oke?” pinta Tara sungguh-sungguh lalu menarik napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya.                             

                “Kamu ga tau gimana rasanya jadi aku, Ris. Sorry, I’m done believing you. No more us. Ga peduli apa maumu sekarang, walaupun aku sekarang ga tau arah tujuanku… I’ll move on. Thank you for everything, Haris. We are done.” Tepat setelah Tara menyelesaikan kalimatnya, Tara melengkah tegas meninggalkan Haris yang masih terdiam, Haris yang tak mampu menahan kepergiannya, Haris yang saat ini hanya mampu menyesali apa yang dahulu tak ia lalu, padahal hanya hal sederhana. Listen to her.

No comments:

Post a Comment