Wednesday, September 18, 2013

Aku Yakin, Aku Tak Akan Sendiri

                Sandra kembali membuka kotak itu. Kotak yang tak pernah ia buka lagi sejak kejadian naas yang menimpa sahabatnya, kejadian yang merenggut nyawa sahabatnya. Sandra sadar betapa ia merindukan sosok Radit. Sosok yang selalu menjadi motivasinya, sosok yang selalu merangkai kata-kata indah bersamanya hingga membentuk bait-bait puisi.

                “Nih, ini kotak kumpulan puisi-puisi yang aku buat selama aku kenal kamu.” Sandra kembali teringat perkataan Radit saat menyerahkan kotak berwarna abu-abu itu. Otaknya seolah-olah memutarkan sebuah film lama yang masih teringat jelas dalam pikirannya.
                “Kenapa dikasih ke aku, Dit?” Tanya Sandra polos.
                “Aku ga mau kamu sendiri.” Jawab Radit sambil tersenyum sarat makna. Kening Sandra mengerut. Ia tidak mengerti dengan maksud perkataan Radit.
                “Maksud kamu?”
                “Suatu hari nanti, kalau aku udah ga ada, kalau aku ga bisa nemenin kamu lagi, puisi-puisi ini yang bakal nemenin kamu.” Seulas senyum tampak terus menghiasa wajah Radit yang teduh.
                “Suatu hari nanti, kalau jasadku hanya tinggal seonggok daging tanpa nyawa dan kau merindukanku… bukalah kotak ini, dan setiap kata dari puisi yang ku tulis akan menjelma menjadi nyawaku. Kau tak akan pernah sendiri, Sandra.”
               
                Saat itu, Sandra hanya mengira perkataan Radit adalah perkataan tak berarti.  Sandra kira Radit hanya menakut-nakutinya, seolah-olah Radit akan segera pergi. Namun… takdir telah menentukan, Radit benar-benar pergi darinya. Selamanya.
                “Walaupun ku tak lagi bisa melihat jasadmu, walaupun ku tak lagi bisa mendengar suaramu, walaupun ku tak lagi bisa membantumu menggapai semua impianmu, namun aku yakin, aku takkan sendiri. Kau masih menemaniku lewat semua untaian kata-kata ini.” Ucap Sandra berharap Radit dapat mendengarnya dari sana. “Aku merindukanmu, Dit.”


Kamulah Alasanku

                Tidak seperti biasanya keheningan mengisi detik-detik yang mereka lewati bersama. Hanya hembusan karbon dioksida yang mengisi kekosongan. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
                “Kenapa baru bilang sekarang?” akhirnya Laras angkat bicara. Rendra menoleh kearahnya, dan menatap kedua bola mata indah Laras lekat-lekat. Sebentar lagi, ia akan segera kehilangan mata indah Laras. Ia tak akan lagi leluasa memandangi kedua bola mata tersebut.
                “Maaf, Laras. Aku takut ga bisa lepasin kamu.” Jawab Rendra jujur. Laras terenyuh mendengar jawaban Rendra. “Bukankah ini maumu? Bukankah ini syarat darimu sebelum aku bisa meminangmu? Kau ingin aku sukses kan?”
                Laras menundukkan kepalanya. Matanya memanas. Benar, memang ia menginginkan Rendra untuk menjadi orang yang sukses. Tetapi kenapa baru sekarang? Kenapa baru sekarang Rendra mengatakannya? Bahwa ia akan berangkat ke Australia untuk melanjutkan S2nya. Esok.
                “Maafin aku, Ras…. Aku sadar aku nyakitin kamu. Kalau aku bisa, akan aku ambil semua rasa sakit yang kamu rasain. Biar aku yang rasain…” ucap Renda tulus sambil menggengam kedua tangan Laras.
                Air mata mengaliri pipi halus Laras. Pertahanannya runtuh. Ia belum siap melepas Rendra. Ia takut.  “Bukankah kamu sendiri yang bilang, kamu ga mau studi ke luar negeri?” Tanya Laras dengan suaranya yang parau menahan tangisan.
                “Itu dulu.”
                “Seingatku kau keras kepala.”
                “Aku punya alasan untuk apa yang akan kulakukan, Ras.” Rendra mempererat genggamannya.  Laras kembali terdiam. Ternyata Rendra masih keras kepala. Tidak mungkin Laras dapat menahan kepergiannya ke negeri kangguru itu.
                “Kau tau, tidak ada seorang pun yang dapat mengubah seseorang.” Ucap Rendra sambil melepas genggamannya lalu menangkup wajah Laras dengan kedua tangannya. “Tapi seseorang, dapat menjadi alasan bagi seseorang untuk berubah. Dan alasanku untuk berubah itu… kamu.”
                Laras dan Rendra bertatapan dalam diam. Berusaha menyelami isi hati mereka masing. Bulir-bulir air mata kembali mengalir dari mata Laras.
                “Bolehkan aku meminta sesuatu padamu?” Tanya Laras tiba-tiba. Rendra hanya memberikan anggukan sebagai jawaban.
                “Berjanjilah kau akan segera kembali. Untukku.”

                “Janji. Untukmu.” Rendra menarik Laras ke dalam pelukannya. Larasnya, Laras yang menjadi alasannya untuk berubah. 

Thursday, September 12, 2013

Tak Bisa Dipaksakan

“Hey, kau tuli atau apa? Apa kau mendengar perkataanku?” Tanya seorang perempuan pada lawan bicaranya. Suaranya yang lumayan kencang menarik perhatian orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar mereka.
“Aku dengar, Rena.” Jawab lelaki itu singkat.
Rena sudah tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan pada Dirga. Sudah hampir tiga tahun Dirga mengejarnya. Sudah banyak cara yang Rena lakukan agar Dirga menjauhinya. Semakin Rena menjauhi Dirga, Dirga malah semakin mendekatinya. Semakin Rena membuat Dirga sakit hati, Dirga malah semakin mengejarnya.
“Kau sinting. Apa kau tak punya hati?” Tanya Rena dengan nada seketus mungkin.
“Tentu aku punya. Kalau aku tak punya hati, dengan apa aku mencintaimu?” ucapnya santai.
“Berhentilah berkata cinta. Ku yakin kau sudah gila, Dirga. Apa yang harus aku lakukan agar bisa jauh dariku?” Rena merasa kesabarannya hampir habis.
“Mungkin dengan menghilangkan hatiku.” Jawaban macam apa itu? “Apakah sesulit itu mencintaiku, Ren?” tanyanya tiba-tiba. Aku membulatkan mataku mendengar pertanyaan konyolnya.
“Cinta tak bisa dipaksakan, Dirga.”
“Baiklah. Kalau begitu kau juga tidak bisa memaksaku untuk menjauh darimu atau berhenti mencintaimu.” Rena mati kutu mendengar jawabannya. Senjata makan tuan, batin Rena.
“Terserah kau sajalah. Aku lelah.” Jawab Rena lalu pergi melangkah meninggalkan Dirga cepat-cepat.
“Rena!” teriak Dirga membuat lebih banyak orang lagi yang menengok ke arahnya. “Aku tidak akan menyerah!” ucapnya pantang mundur.
Semoga bisa ku temukan jurus terjitu yang mampu membuatnya berhenti mencintaiku. Ucap Rena dalam hati sambil menundukkan kepalanya menghindari tatapan mata dari orang-orang yang sedari tadi menyaksikan perdebatannya dengan Dirga.


Tak Kusangka

Pernahkah kamu merasakan sesuatu yang kau pikir takkan kau rasakan? Aku pernah. Dua tahun setelah aku memutuskan hubungan dengannya, memang aku merasa sedih, namun… tak kusangka ku akan…
                Suara lagu Officialy Missing You  yang ku-set menjadi ringtone  berbunyi membuyarkan lamunanku. Ah… dia lagi.
                “Halo?” ucapku menyapa suara disebrang sana.
                “Bisakah ku bertemu denganmu, sekarang? Aku menunggu di cafĂ© yang biasa kita datangi.” Ucapnya. Setelah menjawab sekenanya, aku bergegas untuk menemuinya.
                Sosok itu… Aku berbohong jika aku tidak merasakan jantungku berdegup kencang ketika ku melihatnya sekarang. Ku lemparkan senyum semanis mungkin kepadanya saat ia menatapku. Mungkinkah ia sadar aku gugup?
                “Hey, Ren.” Sapanya dengan senyum menawan yang terlukis di wajah maskulinnya.  Aku hanya balas tersenyum.
                “Kau tahu tidak?” tanyanya tiba-tiba.
                “Tahu apa?” aku balik bertanya.
                “Tahu rasanya merasakan sesuatu yang kau pikir takkan kau rasakan.” Jelasnya.
                Aku sedang merasakan itu, batinku. “Maksudnya?” malah itu yang keluar dari bibirku.
                “Ya, kau pikir itu mustahil untuk kau rasakan, tapi nyatanya itu kau rasakan.”
                “Contohnya?”
                “Seperti saat ini.” Jawabnya singkat membuatku jantungku berdegup semakin kencang. Aku mengernyitkan dahiku. Bingung.
                “Kau sedang merasakan sesuatu? Apa itu?” aku kembali bertanya.
                “Hey, apa kau tidak merasakan hal yang sama denganku?” tanyanya cepat.
                “Sungguh, aku bingung dengan perkataanmu yang bertele-tele.” Ucapku jujur.
                “Aku merindukanmu.” DEG!
                Kurasa saat ini wajahku memerah. Ku rasa, aku juga merindukanmu. Tak kusangka aku akan merindukanmu…
               


Wednesday, September 4, 2013

Cinta Tidak Butuh Alasan

                Angin berhembus lembut melewati sepasang remaja yang sedan duduk bersisian beralaskan rumput. Mereka duduk menghadap sebuah danau yang terbentang luas. Lisa menyenderkan kepalanya ke bahu Fajar yang tegap.
                “Lis…” Panggil Fajar tiba-tiba dan membuat Lisa menoleh kepadanya. “Maafin aku ya.”
                “Maafin apa, Jar? Kamu kan ga salah apa-apa.” Lisa heran dengan pernyataan maaf Fajar yang tiba-tiba.  Lisa menatap kedua bola mata Fajar, berusaha mencari jawaban.
                “Aku suka keras kepala. Kadang, aku cuek. Aku juga ga bisa nyanyi kayak cowo-cowo romantis itu. Aku ga pinter-pinter banget. Aku…” belum sempat Fajar menyelesaikan kalimatnya, Lisa meletakkan jari telunjuknya ke depan bibir Fajar dan membuatnya terdiam. Lisa tersenyum manis.
                “Terus kenapa kalo kamu keras kepala? Terus kenapa kalo kamu kadang cuek? Emangnya romantis itu selalu dengan nyanyian?” Tanya Lisa. Fajar hanya terdiam sambil menatap wajah Lisa lekat-lekat.
                “Semua itu ga penting buat aku, Jar. Mau kamu keras kepala, cuek, perhatian banget, bisa nyanyi atau engga, kamu pinter atau bodoh. Aku, cintanya sama kamu yang begini. Kamu yang apa adanya.” Jelas Lisa sambil tersenyum, Fajar ikut tersenyum mendengar perkataan Lisa yang terdengar begitu manis di telinganya.
                “Kenapa kamu bisa mencintaiku seperti ini, Lis?”
                “Memangnya, mencintai seseorang butuh alasan?” sekali lagi, Lisa berhasil membuat Fajar tersenyum.

                “Lisa, aku bangga banget punya kamu.  Kamu… bener-bener buat aku ngerasa sempurna untukmu.” Ucap Fajar tulus lalu merangkul bahu Lisa halus. Angin yang berhembus punmenjadi saksi akan ketulusan cinta mereka berdua. Ya, cinta memang tidak butuh alasan.

Unspoken Love

                Rasanya aneh. Rasanya bibir ini tersenyum secara otomatis saat melihatnya. Rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu dengan sayap yang menggelitik perutku setiap kali melihat tawanya. Seperti saat ini. Aku melihatnya tertawa bersama teman-temannya saat ia bermain basket. Ya, ia  kak Rafa, seniorku. Berdiri memandanginya dari depan kelasku sudah menjadi kegiatan rutin selama sebulan ini. Tentu saja kak Rafa tidak mengetahuinya – ku harap ia tidak mengetahuinya.
                “Ata! Masih liatin dia?” Tanya Dini yang sudah mengetahui kebiasaanku ini. “Kalo cuma liatin terus tapi ga kenal, gimana bisa mau, Ta?”
                “Ssst… Namanya juga suka diem-diem.” Jawabku tanpa mengalihkan pandanganku sedetikpun.
                “Kalo diem aja, keburu diambil cewe lain loh.” Sontak aku langsung menoleh pada diri dan menatapnya dengan pandangan dingin. Dini hanya tertawa cekikikan melihat tingkahku. Baru saja aku ingin menjawab pertanyaan Dini, tetapi…
                “Aww!” pekikku saat merasakan sebuah bola basket yang terlempar ke bahu kananku.
                Tidak. Tidak mungkin. Kak Rafa menghampiriku! Baiklah, saat ini aku merasakan lebih banyak kupu-kupu yang terbang di dalam perutku.
                “Lu kena bola basketnya? Sorry, gue ga sengaja. Lu ga apa-apa kan?” Tanya kak Rafa santai namun terlihat sedikit cemas.
                “Eh? Iya… Eng.. Engga apa-apa ko kak. Santai aja, hehehe…” aku mencoba bersikap setenang mungkin, tetatpi gagal.
                “Lu anak komplek Perumahan Indah ya?” Tanya kak Rafa tiba-tiba.
                “Loh? Kok tau, Kak?” baiklah, ini hal yang aneh. Tidak mungkin ia menguntitku.
                “Pantesan, gue sering liat lu kalo berangkat atau balik sekolah. Gue juga anak komplek itu.” Ia sering melihatku? Baiklah, ku rasa wajahku saat ini sudah memerah.
                “Nanti balik sekolah sama siapa? Ikut gue aja yuk.” Ajaknya sambil mendribble pelan bola basket di hadapanku.
                “Rafa! Lama amat ngambil bola doang?!” Salah satu temannya berteriak tak sabaran.
                “Bentar, Cong!” Kak Rafa balas berteriak. “Jadi gimana?” ia kembali bertanya padaku.
                “Yaudah deh, terserah kak Rafa aja.” Jawabku pelan. Kulihat kak Rafa tersenyum kecil.
                “Nomer lu? Biar gue gampang ngehubungin lu nanti. Sekalian aja, besok kita berangkat bareng juga.” Kak Rafa berhasil membuatku merasa kaki ini tak sanggup menahan badanku. Rasanya aku akan segera meleleh di tempat. Ku berikan nomer ponselku padanya dengan gerakan cepat.  Tanpa sadar, Dini meninggalkanku secara perlahan. Memberikan waktu dan tempat yang lebih leluasa untuk aku dan kak Rafa. Terimakasih, Din.

                “Sip, nanti gue sms ya!” ucapnya sambil pergi kembali ke teman-temannya dan melanjutkan permainan basketnya. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Kak Rafa, mungkinkah kakak merasakan hal yang sama padaku?