Wednesday, October 23, 2013

Tak Bisa Bersatu

                Mungkinkah kamu tahu isi hatiku? Terkadang mulut ini gatal untuk mengatakan yang sebenarnya. Tapi apa daya, kita sudah terjebak dan tak bisa lari. Ingatkah, sudah hampir 10 tahun kita bersahabat. Ya, hanya bersahabat. Apa kamu tak sadar? Inginku lebih dari itu.
                Setiap kita bersama, aku memandangmu lebih tapi kau hanya memandangku sebagai sahabat, dan akan tetap sebagai sahabat. Bukankah begitu?
                “Yo? Ko bengong aja sih?” ucapmu tiba-tiba membuyarkan lamunanku. “Makan itu nasi gorengnya, nanti keburu dingin.” Seperti biasanya, kita selalu menghabiskan malam minggu bersama. Tetap, hanya sebagai sahabat.
                “Eh, iya… ini di makan nih.” Ucapku sambil mulai menyuap sesendok nasi.
                Kembali pikiran itu datang. Pikiran untuk memilikimu, menjagamu, melindungimu, lebih dari sahabat. Mungkin salahku yang terlalu pengecut. Hingga akhirnya kita terjebak dalam sebuah zona, di mana kita hanya bisa bersahabat.
                Kembali mataku memandangimu lekat-lekat. Memandangi setiap senti wajahmu yang sudah ku kenal lama. Gina, apa kau tidak merasakan hal yang sama denganku? Bukankah kau juga ingin terus bersamaku?
                “Gina.” Panggilku pelan. Mungkin ini saatnya, aku harus segera mengatakannya.
                “Kenapa, Rio?” tanyamu pelan sambil tersenyum lembut ke arahku.
                “Emm… abis makan kita ke mana?” nyaliku ciut. Kubatalkan niatku untuk mengatakan semua itu.
                “Jalan-jalan keliling kota aja, kamu mau kan?” ajakmu riang. Aku tak pernah mampu menolak permintaanmu. Asal bersamamu, aku akan setuju.

                Mungkin memang ini takdirku, takdir kami. Lengkap jika berdua, tapi tak akan bisa bersatu. Bagaikan sepasang sepatu.

No comments:

Post a Comment