Saturday, December 12, 2015

Apaan sih?

Pengaderan? Kaderisasi? Apaan sih?


Hai! J

Dari kalimat pertama pasti udah ketebak kan mau bahas apa? Ya, pengaderan. Sebelumnya udah ada nih entri yang bahas pengaderan gitu walaupun Cuma dikit, tapi boleh lah dicek~
nih klik

Sebenernya pengaderan itu apa?

Jadi, kalau diambil dari KBBI, pengaderan adalah

Tuesday, November 17, 2015

Jarak: Alasan untuk Bertemu

Narendra

Kayla sukses bikin gue bingung. Iya, gue bingung kenapa dia bisa setenang itu jalan sama gue yang padahal baru dia kenal. Gue bingung kenapa dia bisa membawa suasana senyaman itu. Dan gue bingung kenapa gue betah berlama-lama sama dia, padahal di waktu yang sama gue juga gugup. Namun, perempuan seatraktif dia juga bisa ga suka sama sesuatu. Gue mengetahui sesuatu dari Kayla waktu kemarin kami pergi nonton, dia ga suka horror.

“Terserah lo nonton apa, asal jangan horror.” Katanya saat kami baru sampai di bioskop.

“Kenapa?” tanya gue berusaha

Thursday, September 24, 2015

Jarak: Rencana untuk Bertemu

Kayla

Hai Kay

Aku sempat terdiam beberapa detik saat menerima chat LINE itu, heran. Pesannya memang langsung ku buka, tapi tak langsung ku balas. Aku membaca pesan tersebut berulang-ulang, dan masih tidak percaya kalau aku baru saja menerima pesan dari Narendra, laki-laki yang tak sengaja bertemu denganku.

Hai Naren, knp?

Aku berusaha

Saturday, September 5, 2015

Jarak: Rahasia Narendra II

Narendra

“Kok lo nyimpen foto dia?”

“Lo kenal dia?” apakah dunia – atau Bogor – memang sesempit ini?

“Lo ngapain nyimpen foto Kayla? Itu Kayla kan?” tanya Farel.

“Kok lo kenal dia?” gue balik tanya sekali lagi.

“Yaelah, dia temen SMP gue dulu, sebelum kita satu SMP.” Kami sempat sama-sama diam untuk beberapa detik, “lo kenal dia dari mana?”

Gue berdehem, “bukannya gue udah

Sunday, August 16, 2015

Jarak: Rahasia Narendra I

Kayla

Semester pertama memang luar biasa. Aku harus beradaptasi dengan lingkungan, teman-teman, dan kebiasaan baru lebih cepat. Aku akhirnya paham bagaimana sistem perkuliahan. Ujian akhir semester yang berbeda dengan yang biasa aku kerjakan saat perkuliahan. Perjuangan yang lebih untuk mengejar dosen. Berusaha menerima materi-materi yang saat SMA tidak pernah terbayangkan. Semua itu luar biasa.

Dan akhirnya, aku bisa pulang ke Bogor. Aku mendapatkan waktu selama dua minggu untuk berada di Bogor. Walaupun aku belum memiliki rencana, yang pasti aku ingin bertemu dengan teman-temanku. Di sinilah aku sekarang, berbaring menatap langit-langit kamarku.

***

Narendra

Makhluk yang sekarang ini lagi sama gue udah bener-bener kayak saudara gue. Lagi di Bali atau di Bogor, gue pasti ketemu dia. Gue yang

Sunday, August 9, 2015

Jarak: Adaptasi

Kayla

Jadi begini rasanya kuliah. Beberapa minggu pertama, aku merasa begitu ingin pulang. Aku merindukan suasana rumah. Terlebih lagi Surabaya yang jarang sekali diguyur hujan. Ya, aku menyukai hujan. Dan angkot, aku yang terbiasa ke sana ke mari sendirian menggunakan angkot, kesulitan untuk seperti itu di Surabaya.

Namun, setelah bulan ketiga aku di sini, aku mulai betah. Syukurlah aku adalah salah satu jenis orang yang mudah beradaptasi. Aku mulai menikmati panasnya Surabaya, bukannya hujan dengan petirnya Bogor. Aku mulai terbiasa dengan segala kegiatan semester awal sebagai mahasiswa. Aku menyadari hal lucu, saat kuliah, jam di dalam kelas lebih sedikit daripada saat bersekolah, tapi aku merasa lebih sibuk dibanding saat sekolah dulu. Sungguh, kalau kau masih SMA, manfaatkan sebaik-baiknya.

“Kay, makan ga?” aku langsung menoleh

Sunday, August 2, 2015

Jarak: Hello, Goodbye

Narendra

Kalian pasti udah sering dengar tentang berbagai macam kepribadian. Ada yang extrovert ada yang introvert. Menurut gue sendiri, gue adalah orang yang introvert. Walau tampaknya gue ga tidak setertutup itu, kadang gue suka ngomong atau bahkan cerita sama diri gue sendiri dibanding cerita ke orang lain. Gue ga semudah itu menceritakan apa-apa tentang hidup gue ke orang lain. Gue cenderung jarang basa-basi juga sama orang, gue milih diam, apalagi sama orang baru kenal.

Cuma ada beberapa orang yang gue kenal dan bisa bikin gue nyaman ngobrol sama dia berlama-lama. Nyokap gue salah satu orang tersebut, dan

Saturday, July 25, 2015

Jarak: Pertemuan (Narendra)

Narendra

Hey, lo Naren yang duduk di depan gue ya?

Gue diam. Mikir. Siapa yang tiba-tiba ngechat gue? Dari display namenya yang tertulis ‘Kayla’, gue yakin dia perempuan. Karena dia bilang
gue duduk di depannya, berarti dia ada di belakang gue kan? Iya pertanyaan konyol. Tanpa basa-basi,

Saturday, July 18, 2015

Jarak: Pertemuan (Kayla)

Kayla

Sudah sering sekali kita melihat – aku yakin tak hanya aku – macam-macam pertemuan manis antara dua orang, biasanya laki-laki dan perempuan, lalu akhirnya mereka menjadi pasangan yang katanya hidup bahagia.

Friday, July 17, 2015

Jarak: Perkenalan

Pertemuan kami mungkin bukan salah satu jenis pertemuan romantis yang biasa kalian lihat di film.

Pertemuan kami bukan lah kejadian bertabrakan dengan buku berceceran, lalu bertemu pandang saat membereskan buku tersebut.

Friday, July 10, 2015

Kebahagiaan

Happiness

Bukan, ini bukan cerpen2 galau yg biasa aku tulis. Ini hanya tulisan, entah apa namanya, yang ingin aku tulisan.

"Be grateful."

Bersyukur.
Hal kecil dan sesederhana itu sebenarnya sangat berarti. Why? Because it's one of many keys to happiness.
Rasakan. Kamu akan merasa bahagia saat bersyukur atas apa yg kamu punya, bukan mengeluh atas apa yang tidak kamu punya.
Aku masih belajar untuk begitu.
"Aku iri deh sama A, dia blablabla..."
Who says that A's life is better or easier than you?
Bisa jadi sebenarnya kamu lebih bahagia, hanya saja A lebih bersyukur dan tidak banyak mengeluh. Ia menikmati hidupnya.

"Expect nothing and you'll be not disappointed."

Berharap memang perlu, bahkan kadang kita hidup karena ada harapan. Namun, kadang harapan ini juga yang membunuh kebahagiaan kita. Saat keadaan, saat situasi, tidak sesuai dengan apa yang kamu inginkan, kamu akan kecewa yang berujung pada ketidak bahagiaan. Berharaplah, tapi juga bersiaplah untuk kecewa.
Aku pun masih belajar untuk itu.

"Everything happens for a reason."

Percayalah, segala sesuatu yang terjadi bukan tanpa alasan, semua yang terjadi bukan kebetulan. Jangan sesali apa yang telah terjadi, apa yang telah kamu lakukan. Mungkin kita memang tidak akan selalu mengetahui 'alasan' tersebut, tapi hal tersebut terjadi karena Allah pasti memang sudah punya rencana untuk kita. Ingatlah, masa lalumu yang membuatmu seperti sekarang, stronger, tougher, better.
Selalu ada pelajaran yang bisa kamu ambil di setiap kejadian, jika kau bisa membuka matamu, membuka pikiranmu.
Aku pun masih belajar untuk itu.

"Move on, keep moving forward."

Jangan gantungkan hidupmu pada sesuatu. Kamu berhak atas kebahagiaanmu sendiri. Jangan biarkan orang lain, sesuatu apa pun membuat dirimu kehilangan kebahagiaan itu. Ya, kau boleh bersedih, kau boleh marah, kau boleh kecewa, tapi ingat, kau masih berhak untuk bahagia.
Lanjutkan hidup yang kau punya. Syukuri, jadikan masa lalu sebagai pelajaran, bukan penyesalan.
Aku pun masih belajar untuk itu.

Saturday, June 27, 2015

Berjalan Sedikit Jauh


Again???” tanya Kayla, temanku sejak kami masih sama-sama bocah ingusan yang tidak tahu apa-apa. Mungkin saat ini aku sudah menganggapnya seperti saudara sendiri. Ia selalu begitu, ekspresif tentang apapun yang ia sampaikan. Mungkin hal itu yang membuatku senang bercerita padanya, karena ia selalu memberi tanggapan-tanggapan dengan ekspresinya yang tak biasa. Seperti saat ini, saat aku bercerita aku dan teman-teman jurusanku akan pergi – yang menurut dia sudah terlalu sering – menjelajah keindahan di Indonesia, ia tampak kaget.
            Aku tertawa melihat ekspresinya, “terakhir dua minggu lalu loh, Kay. Mau ikut?” ajakku walau aku tahu ia pasti menolaknya.


Tuesday, June 23, 2015

Merindu

Rindu ini terlalu menyiksa
Karena sang hati sudah tenggelam
Dan sang akal hanya diam

Rindu ini terlalu menyiksa
Karena jiwa sudah terkapar
Dan sang raga hanya terpaku

Rindu ini terlalu menyiksa
Karena mata sudah buta
Dan sang bibir hanya bisu

Lagi-Lagi

Lagi-lagi
Sekali lagi ia torehkan tinta itu
Tinta merah pertanda dirinya dalam amarah
Kini ia sudah pasrah dan menyerah

Lagi-lagi
Sekali lagi ia tumpahkan harapannya
Harapan tentang ia dan kasihnya
Kini kasihnya hilang, telah diambil orang

Lagi-lagi
Sekali lagi ia menggumam
Tentang penyesalan akan kelalaiannya
Kelalaian menjaga kasihnya

Friday, June 19, 2015

Pecundang

Sebut aku pecundang karena tak mampu mengatakan ini padanya.
            Sebut aku pecundang karena menantikan, mencari, menunggu waktu yang tepat bukannya menciptakan waktu yang tepat untuk mengatakan semua ini pada Zara, perempuan yang membuatku mengenal kehidupan. Kata-kata yang ku rangkai selama ini terasa sia-sia hanya karena ciutnya nyali yang kupunya setiap bertemu dirinya, setiap melihatnya tersenyum. Seperti saat ini.
            “Hei, maaf lama ya.” Sapanya sambil tersenyum manis. Kau pinta aku menunggu lebih lama pun tak apa, asal aku masih bisa melihat senyummu.
            “Engga, kok...” jawabku, menggantung. Ide gila itu tiba-tiba terlintas. Apa harus ku katakan semua ini sekarang? Apa waktunya tepat? Sial. Aku tidak akan pernah menemukan waktu yang tepat jika aku harus menunggu, aku harus menciptakannya.
            “Zara...” panggilku, masih mengumpulkan keberanian itu.
            “Kenapa, Raf?”
            Andai kamu mampu membaca mataku, menelusuri isi hati dan pikiranku, semua ini akan lebih mudah, Zar.
            “Berangkat sekarang yuk.”

            Sebut aku pecundang karena masih tak mampu mengungkapkan ini semua. Aku hanya ingin mencintaimu seperti hujan, murni dan kuat. Mungkin tak sekarang, tapi aku pastikan kau akan segera mengetahui rahasia hatiku.

Monday, June 15, 2015

Spasi

"Kita harus berpisah, Ren." Aku hanya bisa diam, setiap kata yang ia ucapkan saat ini membuatku semakin sakit. "Listen, it's not about you. It's about me. You do nothing wrong, but I have to go. Ok?"
"I'm not ok, Evan." Suaraku bergetar menahan tangis. Aku tidak siap dengan ini.
"You will. See you when I see you." Apa ini senyum terakhirnya untukku? 

*** 

Mungkin akan lebih mudah bagiku untuk menerima kenyataan jika ia jujur dari awal. Dia tidak mengatakan alasannya dengan jelas. Dia meninggalkanku dalam bayangan kebingungan.
Aku melihatnya. Aku melihatnya bersama seorang wanita anggun. Mereka tertawa seraya menyantap makanannya. Dan aku hanya bisa melihat mereka dari kejauhan. Walau sebenarnya ingin, aku tak lagi bisa menegurnya. Aku tak punya hak untuk itu. Aku bukanlah siapa-siapa lagi untuknya, dan aku sadar spasi itu memang ada.

Wednesday, June 10, 2015

(Kebanyakan) Mahasiswa Sekarang

Ini murni pendapat aku, tanpa bermaksud untuk menyinggung, tapi maaf kalau menyinggung(?). Aku hanya ingin menyampaikan apa yang ingin aku sampaikan lewat tulisan, enjoy! :)

Kita tahu, hampir di semua perguruan tinggi mengadakan kaderisasi untuk para mabanya dengan cara yang berbeda. Memang masih berhubungan dnegan kaderisasi, tapi apa yang akan aku bahas sekarang bukan masalah bagaimana kaderisasi yang tepat blablablanya. Ada hal menyedihkan yang aku temui dari kaderisasi. Banyak mahasiswa yang mengagung-agungkan kaderisasi ini dan itu, merasa kaderisasinya paling keras, disiplin, berhasil dan sebagainya.


*ga bahas wisudaan* ._.

Sunday, June 7, 2015

Perpisahan

Perpisahan sering dikaitkan dengan hal-hal menyedihkan atau menyakitkan. Padahal, tak selamanya perpisahan itu menyedihkan. Namun, perpisahan yang mereka rasakan ini memang menyedihkan, menyakitkan. Bukan perpisahan yang mereka inginkan. Perpisahan yang menyedihkan. Saat pihak-pihak yang ada ingin bersama, tapi keadaan berkata lain.

Nadya hanya bisa memandangi Naren dari jauh saat ini, entah sampai kapan. Naren tampak tak berubah, ia masih tertawa seperti biasa. Apa Naren memang baik-baik saja? Karena Nadya tidak, ia tersiksa. Kata-kata yang Naren sampaikan sebelum akhirnya mereka berpisah terus terngiang.

“Sela-sela jarimu diciptakan bukan hanya agar orang lain bisa mengisi sela-sela itu, tapi artinya kamu juga bisa menggenggam dirimu sendiri, kamu bisa berkembang sendiri, kamu bisa mengurus dirimu sendiri. Bisa ya tanpa aku?”

Nadya tersenyum sedih. Entah sampai kapan ia bisa bertahan. Ia belum bisa, dan mungkin takkan pernah bisa, merelakan Naren. Khayalan Nadya melambung ke masa lalu. Ke masa-masa di mana ia dan Naren masih bersama, mengukir harapan bersama, melakukan hal-hal konyol bersama. Air mata Nadya terjatuh lagi, ia terlalu merindukan Naren. Di sela tangisannya ia berharap.


Tuhan, aku ingin bersama Naren.