Wednesday, October 2, 2013

Terlambat

                “Gimana bro perkembangan lu sama dia?” tanya Daru pada sahabatnya yang sudah lama menyukai seorang perempuan namun tidak kunjung ia nyatakan.
                “Lu mesti tau deh. Tinggal nunggu waktu deh ini, kita udah deket banget. Udah sama-sama punya chemistry gitu loh.” Jawab Rama membanggakan dirinya sendiri.
                “Gaya banget sih bahasa lu. Gue tunggu deh tanggal mainnya.” Daru menantang Rama.
                “Siap deh!”
                Saat mereka masih asyik dengan obrolan mereka, tiba-tiba saja terdengar suara keramaian dari arah kantin sekolah.               
                “Terima! Terima! Terima!” anak-anak berteriak untuk menyoraki seorang perempuan yang baru saja ditembak dan tampak bingung untuk memberi jawaban.
                “Ada yang lagi nembak?” tanya Rama heran.      
                “Iya kali ya, ke sana deh yuk.” Ajak Daru lalu segera beranjak menuju kantin. Dan…
                “Indah… would you be mine?” tanya seorang lelaki sambil memberikan bunga dan bergaya seolah-olah ia adalah pangeran berkuda. Daru dan Rama yang baru saja berganbung dengan sumber keramaian itu langsung terdiam mematung.
                “Ram… Indah, Ram…” ucap Daru pelan sambil menepuk pundak Rama. Rama masih saja terdiam tanpa menunjukkan reaksi sedikitpun. Tanpa berkata, Rama membalikkan badannya dan pergi meninggalkan kantin. Rahangnya mengeras, tangannya terkepal.
                “Sial! Keduluan deh gue!” Rama melampiaskan emosinya sambil menonjok tembok yang ada di sampingnya.
                “Bro, sabar bro…” Daru berusaha menenangkan Rama yang sudah seperti orang kesetanan.
                “Gimana gue bisa sabar? gue keduluan, meeen!”
                Daru bingung bagaimana ia harus menanggapi Rama. Saat mereka sama-sama tediam, wanita yang menyebabkan Rama mengamuk lewat. Rama menyadari akan kedatangan Indah, sebelum Indah pergi menjauh, Rama berteriak.
                “Indah!” Daru menoleh kaget pada Rama, apa yang akan Rama lakukan?
                Indah yang merasa namanya dipanggil pun segera menoleh. Saat mendapati Rama yang memanggil dirinya, Indah berjalan mendekat. “Kenapa, Ram?” tanyanya lembut.
                “Maaf ya, gue sayang sama lu yang udah punya pacar. Gue cuma mau lu tau, gue bakal nungguin lu. Sampai lu putus sama dia, dan lu akan nerima gue.” Dengan mudahnya kata-kata tersebut meluncur dari bibir Rama. Rama langsung meninggalkan Indah yang masih terdiam heran dan bingung akan perkataan Rama.
                Andai gue ga terlambat. Batin Rama dalam hati merutuki dirinya yang hanya bisa menjadi orang ketiga.

No comments:

Post a Comment