Wednesday, October 30, 2013

Senyumnya Tak Lagi Untukku

Sampai kapan aku akan bermimpi?       
Kesekian kalinya, aku hanya bisa menatapnya dalam diam. Memandanginya dari jauh tanpa bisa menyentuh dirinya lagi.  Terserah apa kau bilang, aku bodoh? Aku tolol? Ya, terserah. Mungkin aku memang begitu. Bagaimana bisa, seorang pria seperti aku, menyia-nyiakan dirinya? Dengan mudahnya menerima permintaannya untuk mengakhiri hubungan kami tanpa berusaha mempertahankannya. Ya, aku bodoh, sangat bodoh.
                Lalu apa yang bisa aku lakukan sekarang selain bermimpi dan berharap bahwa dirinya akan kembali dalam pelukanku? Menunggu. Aku masih merinduinya, aku masih mencintainya. Walaupun sekarang, bukan lagi aku yang menjadi pemilik cintanya.
                Seperti yang aku lakukan sekarang, melihatnya tertawa dari kejauhan. Seperti penguntit. Untunglah kami satu kampus, jadi, dengan mudahnya aku masih bisa bertemu dengannya walaupun ia tak pernah menegurku. Seolah-olah aku tak pernah ada dalam hidupnya – setidaknya, masa lalunya.
                Tara – wanita yang masih kucintai itu – tiba-tiba menatap lurus ke arahku,dan… dia tersenyum? Hey, benarkah ia tersenyum? Apa aku bermimpi? Tara berjalan ke arahku… ia mendekat!!! Tuhan, apa ini jawaban atas segala penantianku? Kurasakan dada ini berdegup lebih kencang saat melihatnya lebih dekat. Perasaan ini masih sama, rasa rindu ini masih sama.

Dengan seluruh nyali yang ku punya, ku beranikan diri untuk kembali menyapanya, melantunkan namanya. Sedetik sebelum ku membuka mulutku, ku lihat bibirnya tersenyum senang, tersenyum rindu. Namun, matanya tak menatapku. Ku coba mengikuti arah pandangannya. Ku temukan sosok lelaki itu, yang mungkin telah memiliki cintanya. Benar, Tara menghampiri lelaki itu masih dengan senyumnya, yang dulu ia berikan padaku. Namun sekarang? Ya tentu saja, senyumnya tak lagi untukku.

No comments:

Post a Comment