Friday, December 27, 2013

Lluvia

                Hujan kembali mengguyur kota itu tanpa ampun. Adrian memang tak pernah membenci hujan, ia selalu suka hujan. Suara rintik yang begitu menenangkan, bau tanah yang semerbak karena tersiram air hujan yang menyejukkan, ia mencintai segala sesuatu tentang hujan. Termasuk pemandangan yang ia lihat saat ini, seorang wanita tak berpayung yang tampak dengan santainya berjalan di tengah rintik hujan.
                Mata Adrian tak sedetik pun melepaskan pandangan pada wanita berambut sebahu itu. Awalnya wanita itu tampak bingung, namun tiba-tiba wajahnya berbinar. Apa yang baru ia temukan? Pikir Adrian. Wanita itu melangkah dengan pasti. Ah, Adrian sadar… wanita menemukan café ini sebagai tempat meneduh, café yang sedang Adrian tempati.
                Pelayan yang berjaga di depan pintu member salam dan tersenyum sopan pada wanita yang sedari tadi Adrian pandangi. Wanita itu memilih tempat dekat dengan jendela, tepat di meja sebelahnya, meja bernomor 27. Tak henti-hentinya Adrian memandangi wanita itu, berusaha menelusuri tiap jengkal wajah wanita yang baru ia lihat saat hujan turun.
                Seperti sadar dipandangi, wanita itu menoleh ke arahnya dengan tatapan bingung. Adrian yang tertangkap basah sedang menatapi dirinya tak mampu berkutik. Wanita itu tersenyum lembut melihat Adrian yang nampak kaget tertangkap basah olehnya.
                “Suka kopi?” tanya wanita itu tiba-tiba sambil memandang Adrian lekat-lekat.
                Adrian menganggup mantap lalu berkata, “dan hujan.” sambil melemparkan senyum terbaiknya dan beranjak untuk duduk di sebelah wanita itu.

                Empat hal penting bagi Adrian hari ini. Senyuman, dua cangkir kopi, hujan, dan wanita yang baru ia jumpai yang selanjutnya ia panggil, Lluvia. Hujan.

Te Quiero

                “Sudah berapa tahun ya?” tanya lelaki berbadan tegap itu tiba-tiba pada wanta yang saat ini sedang asyik membaca majalah di sebelah.
                “Apanya yang sudah berapa tahun?” tanya wanita itu setelah meletakkan majalah yang ia baca di atas coffee table.
                Lelaki itu memandang wanita di sampingnya lekat-lekat lalu tersenyum., “kita bareng.”
                Tanpa sadar, wanita itu ikut tersenyum mendengar perkataan laki-laki itu. Dirasakan wajahnya mulai menghangat, pasti semburat kemerahan terlihat di wajahnya.
                “Emmm, berapa ya?” tanya wanita itu terlihat mulai menghitung dengan jari-jarinya.
                Alih-alih membantu wanitanya menghitung, lelaki itu malah menggenggam tangan wanitanya dan memintanya untuk berhenti menghitungi sudah berapa lama mereka bersama.
                “Belum selesai ngitung!” protes wanita itu.
                “Lupain aja.”
                “Ha?” terlihat jelas wanita itu tampak kaget. Apa kata lelakinya barusan? Lupain?  Melihat reaksi wanitanya yang begitu kaget karena kalimatnya, lelaki itu tertawa kecil dan kembali berkata.
                “Love is not about how many days, months, or years you’ve been together. Love is about how much you love each other everyday.”
                Wanita itu terdiam mendengar lelaki yang selama ini bersama dirinya mampu mengucapkan kata-kata manis seperti itu.
                “Lucu deh kamu, merah tuh wajahnya.” Ucap lelaki itu sambil mencubit hidung wanitanya pelan.
                “Ihh!” wanita itu tidak benar-benar kesal, ia hanya merajuk sambil memukul lengan kokoh lelakinya pelan.
                “Aku, akan selalu sama kamu, till death do us part.” Perkataan manis lainnya dari lelaki itu.
                Tak mampu lagi berkata-berkata, wanita itu hanya memeluk erat lelakinya, seperti tak ingin dipisahkan, seperti tak ingin dilepaskan.
                “Te quiero, mi querida.”  Aku mencintaimu, sayangku. Bisik lelaki itu pelan.

                “Te quiero, mi querido.” Aku mencintaimu, sayangku.

Wednesday, December 4, 2013

Let's See

                Sudah minggu ke 7 sejak ia mengantar jemputku. Sungguh, ini bukan permintaanku, ia yang selalu melakukan ini. Setidaknya, aku diuntungkan dalam hal ini. Bukankah aku menghemat sebagian uang jajanku? Hehehe. Seperti hari-hari selama 7 minggu ini, aku pulang bersamanya. Dan seperti hari-hari biasanya pula. Kami hanya diam di sepanjang perjalanan.
                Namun, tiba-tiba saja ia memelankan motornya. Padahal rumahku masih jauh. Apa mungkin… bensinnya habis?
                “Ko berhenti sih, Dir?” tanyaku bingung setelah Dirga benar-benar menghentikan motornya.
                “Bosen ga sih, Ren?” tanyanya balik. Apa maksudnya?
                “Bosen? Bingung iya, Dir. Bosen apaan?” aku kembali bertanya.
 Kami masih di atas motor, aku tak dapat melihat wajahnya saat ia berbicara. Ia tidak menyuruhku turun, jadi aku tetap berada di jok belakang. Bagaimana jika aku turun dan tiba-tiba ia meninggalkanku? Tidak, tidak mungkin. Ia tidak sejahat itu. Dirga melepas helmnya dan mulai mengatur letak kaca spion agar mampu melihatku tanpa harus menoleh atau turun motor.
“Bosen ga sih jomblo?” tanyanya lebih jelas.
Tanpa sadar, aku memasang tampang seperti orang bloon saat ia bertanya saking bingungnya. “Jomblo? Gue sih ga bosen sih ya. Lu kenapa sih tiba-tiba nanya gini?”
Hening beberapa detik…
“Jadian yuk, Ren.” Ucapnya tiba-tiba tanpa basa-basi. Jantungku berdegup kencang saat ia mengucapkan kata-kata sederhana tersebut.
“Sinting lu, Dir.”
“Serius, jadian yuk.” Kali ini aku yang terdiam setelah mendengar kalimatnya. Ia menatapku melalui kaca spion.
“Gue tahu kita belum bener-bener deket. Tapi tiap hari gue mikirin lu. Dan gue pikir… gue mulai suka sama lu… dan gara-gara lu juga, gue pengen sayang sama seseorang.” Lanjut Dirga lalu tersenyum.
“Pengen sayang sama seseorang? Funny…” ucapku menanggapi kalimatnya.
So how? Will you…?”  kali ini ia terlihat sedikit gugup. Aku tersenyum simpul melihat wajahnya yang terlihat gugup.
I will.” Jawabku singkat. “Let’s see, how this thing will work on us.”

Jauh dari kata romantis. Isn’t it funny? Let’s see, how this thing will work on Dirga and I.

Bantu Aku

                Aku sadar aku berusaha memenangkan egoku sendiri. Aku sadar ini sebuah kesalahan besar. Namun, apalagi yang bisa aku lakukan? Hanya mengemis pada seorang pria untuk membuka hatinya padaku dan membantu melupakan sosok pria lain. Ya, egois bukan?

***

                “Bantu aku, Rif…” ucapku dengan suara yang parau menahan suara tangis yang kian pecah. Arif bergeming. Ku lihat otot-otot wajahnya masih tegang.
                “Rif… Kamu… sayang kan… sama aku?” tanyaku terbata-bata sambil menangkup wajahnya dnegan kedua tanganku.
                Otot-otot wajahnya mulai mengendur. Tatapannya begitu sedih. Andai aku bisa membaca pikiranmu…
                “Aku sayang sama kamu, Key…. Tapi…”
                “Jangan tinggalin aku…” potongku cepat sebelum ia melanjutkan kalimatnya. Kurasakan kedua tangan Arif menggenggam tanganku yang masih menangkup wajahnya. Ia melepaskan tanganku dari wajahnya.
                “It’s not that easy to be with someone who doesn’t really love you. Apa gunanya kita bareng, tapi di hati kamu ada orang lain? Apa gunanya, Key?” tanya Arif sambil memandangku lekat-lekat. Perasaan bersalah semakin menyelebungi hatiku. Kau bodoh, Key.
                “Tapi kamu juga mau kita bareng kan?” aku balik bertanya, berusaha mempertahankan hubungan demi keegoisanku.
                “Key…” ucap Arif pelan seolah-olah putus asa. “Jangan paksa hati kamu untuk sayang sama aku saat hati kamu memilih yang lain…”
                “Arif… please…” bulir-bulir air mata kembali membasahi pipiku. Jahatnya aku, bodohnya aku.
                “Bantu aku… aku mau lupain dia. Bantu aku lupain dia… aku mau sayang sama kamu, bantu aku…” pintaku sungguh-sungguh tanpa berani menatap wajah Arif lagi.
                Tiba-tiba Arif menarikku kedalam pelukannya. Saat itu pula ia mencium puncak kepalaku lembut dan tangisku semakin pecah. Dengan tenaga yang masih tersisa, kembali kuucapkan permintaanku.

                “Bantu aku, Rif…”

Wednesday, November 27, 2013

"Pasti."

                “Aku cape, Rik.” Ini adalah kalimat keluhan kesekian kalinya yang keluar dari mulut Dini. Erik masih berusaha untuk tetap sabar mengahadapi Dini yang tak henti-hentinya mengeluh.
                “Dunia tuh ga adil banget tau ga.” Ucap Dini ketus.
                “Sssstt...” desis Erik pelan lalu meletakkan jari telunjuknya ke depan bibir Dini. “Dunia itu adil, karena semua orang merasa tidak adil. Bukankah begitu?” ucap Erik lembut berusaha menenangkan Dini.
                “Tapi, coba kamu bayangin jadi aku yang…” belum sempat Dini melanjutkan kalimatnya, Erik segera memotongnya cepat.
                “Dini, hidup jangan selamanya lihat ke atas. Kalau begitu caranya, kamu ga akan bersyukur. Tapi, jangan selamanya juga lihat ke bawah.” Erik berkata sambil memandang Dini tepat di kedua bola matanya. “Kamu masih punya aku, Din. Aku, kamu, kita… kita bisa sama-sama mewujudkan mimpi kamu itu. Kita masih bisa bahagia, kita masih bisa buat harapan itu jadi nyata.” Jelas Erik panjang lebar tanpa mengalihkan pandangannya pada Dini sedetikpun.
                Dini terenyuh. Tangan menggenggam Erik semakin kuat. “Bantu aku, Rik. Bantu… bantu aku melewati ini…” pinta Dini pelan.

                Tanpa banyak kata, Erik menarik Dini ke dalam pelukannya dan berbisik halus, “Pasti.”

Rindu

                Seperti malam-malam biasanya, hanya ada aku dan laptopku. Mengerjakan segala coding yang membuatku pusing. Twitter? On, facebook? On, email? Ya, available. Aku tahu ini sudah larut, tetapi aku masih ingin mengerjakan coding itu. Ya, walau membuatku pusing. Namun setidaknya, hal ini yang mampu mengalihkan pikiranku darinya. Tidak, aku kembali mengingatnya.
                Ku regangkan tanganku yang sudah mulai terasa pegal. Aku rasa aku butuh sedikit hiburan. Twitter, no new mention. Facebook, no new notification. Email, …  a new email?
                Alright, this new e-mail makes me… miss that jerk. That lucky jerk who still has my heart. He sent me an e-email. Kalian tahu apa yang ia kirimkan melalui e-mailnya? Sebuah video.
                Ku putar video yang ia kirimkan. Perlahan-lahan, muncul sosok dirinya yang sedang memetik gitar dengan lembut. Wajahnya tersenyum teduh ke arah kamera, dan… ia mulai bernyanyi

Tahukah engkau wahai langit
Aku ingin bertemu membelai wajahnya
Kan ku pasang hiasan angkasa yang terindah
Hanya untuk dirinya
Lagu rindu ini kuciptakan
Hanya untuk bidadari hatiku tercinta
Walau hanya nada sederhana
Ijinkan ku ungkap segenap rasa dan kerinduan


                “Aku juga merindukanmu.” Batinku berharap ia akan mendengarnya, walau ku tahu ini mustahil.

Wednesday, November 13, 2013

Tanpa Kata

                Matahari senja yang saat ini menjadi saksi bisu dari cinta sepasang remaja yang saat ini sedang berjalan bersisian. Tanpa ucapan, tanpa sepatah kata. Sepasang remaja itu terus berjalan menelusuri taman, mencari tempat terbaik untuk menyaksikan tenggelamnya sang surya yang segera digantikan bulan.
                Pria itu sadar, wanitanya sudah kelelahan karena mereka terus berjalan. Tanpa kata, pria itu berhenti dan mulai duduk di atas rerumputan hijau. Ia menarik kekasihnya untuk ikut duduk dengannya. Wanita itu tersenyum dan duduk tepat di sebelah pria tersebut.
Tepat setelah wanita itu menemukan posisi duduknya yang nyaman, pria yang berpostur tegap dan gagah itu merangkulkan lengannya. Menarik wanitanya lebih erat ke dalam pelukannya. Tanpa aba-aba, wanita itu menyenderkan kepalanya  ke bahu pria yang paling ia cintai.
Matahari senja melukiskan warna-warna eksotis yang membuat suasana diam merasa terasa begitu tenang, romantis. 3… 2… 1… matahari tenggelam sudah. Warna-warna tersebut digantikan dengan warna gelapnya malam yang mulai datang.

Begitulah mereka menghabiskan waktu berdua, duduk bersisian, tanpa kata, menyelami hati masing-masing dalam diam. Tak butuh banyak kata. Saat kau benar-benar menyayangi seseorang, hanya berdiam di sebelahnya pun sudah membuatmu bahagia. Cinta tak butuh banyak kata.

From Zero to Hero

                Apa mereka pikir aku ini buta atau tuli? Bisa-bisanya mereka membicarakan tentang diriku di depan diriku sendiri. Sekali lagi, di depan mata kepalaku sendiri. Awalnya aku hanya diam saja setiap mereka membicarakan tentang diriku, mengolok-olokku. Kalian tahu apa yang mereka bicarakan? Perempuan-perempuan centil yang menurutku terlihat seperti tante itu tak henti-hentinya membicarakan penampilanku yang look-so-nerd. So what, huh?
                “Coba tuh liat, cewe-cewe di SMA ini mana ada sih yang tampaknya kutu banget gitu?”
                “Ada tau! Coba deh liat tuh liat!” rasanya ingin ku sumpel mulutnya dengan sambel penjual mie ayam di kantin.
                “Ngomongin siapa kalian?” ucapku memberanikan diri. Hey, aku bukannya takut pada mereka, aku hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk menghajar mereka.
                “Eits, look, girls! Someone is talking to us!” ucap salah satu perempuan di geng tante itu.
                “I wanna make it short. Can you just shut your mouth? Can you stop underestimated people?”  ucapku dengan wajah tenang yang membuat mereka kaget setengah mati melihatku berbicara dengan nada ketus namun terlihat tenang. Tidak ada yang menanggapi perkataanku.

                “People that you mocked maybe a zero, but later they’ll be a hero. How about you? From zero to moron?” kataku melanjutkan kalimat sebelumnya dan pergi meninggalkan mereka yang masih terbengong menatapi keberanianku.

Wednesday, October 30, 2013

Listen to Her

“Terus mau kamu sekarang apa?” tanya perempuan yang mulai kehabisan kesabarannya itu.     
Please, stay here.” Pinta lelaki yang menjadi lawan bicaranya bersungguh-sungguh.
                “Gampang ya kamu ngomong gitu? Aku udah ga tahan, Ris. Aku cape…” suara wanita itu mulai terdengar parau. Ia berusaha menahan air matanya yang sudah memaksa untuk ke luar.
                “Aku salah apa sih sama kamu? Tara, tolong jelasin ke aku.” Pinta lelaki yang bernama Haris sekali lagi.
                “Pikir sendiri.” Jawab Tara ketus.
                “Aku bukan mentalist yang bisa baca pikiran kamu, Tara.” Tara terdiam mendengar jawaban Haris. Ia menarik napasnya berkali-kali, berusaha menenangkan dirinya sendiri.
                Melihat Tara yang tak kunjung membuka mulut lagi, Haris kembali bertanya, “aku salah apa?”
                “Kamu pikir aku apa sih, Ris? Aku cuma minta kamu buat dengerin aku… gampang kan? Kamu sadar apa yang kamu lakuin kalau aku udah ngomong?” Tara gagal menahan emosinya. Kali ini Haris yang terdiam.
                “Ga sadar? Kamu ga sadar, Ris? Kamu dengan kencangnya ngebentak aku, nyuruh aku diem. Apa salah seorang perempuan cerita tentang hari-harinya sama pacarnya sendiri? Salah? Aku ngerasa kamu itu, bukan Haris-nya-aku. Kamu emang bukan buat aku.” Jelas Tara, air mata mulai mengalir dari mata beningnya.
                “Tar…”
                “Sebentar, aku belum selesai.” Ucap Tara tegas membuat Haris menghentikan niatnya untuk berbicara. Tolong, aku ingin didengar, sekali saja, saat ini saja. Oke?” pinta Tara sungguh-sungguh lalu menarik napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya.                             

                “Kamu ga tau gimana rasanya jadi aku, Ris. Sorry, I’m done believing you. No more us. Ga peduli apa maumu sekarang, walaupun aku sekarang ga tau arah tujuanku… I’ll move on. Thank you for everything, Haris. We are done.” Tepat setelah Tara menyelesaikan kalimatnya, Tara melengkah tegas meninggalkan Haris yang masih terdiam, Haris yang tak mampu menahan kepergiannya, Haris yang saat ini hanya mampu menyesali apa yang dahulu tak ia lalu, padahal hanya hal sederhana. Listen to her.

Senyumnya Tak Lagi Untukku

Sampai kapan aku akan bermimpi?       
Kesekian kalinya, aku hanya bisa menatapnya dalam diam. Memandanginya dari jauh tanpa bisa menyentuh dirinya lagi.  Terserah apa kau bilang, aku bodoh? Aku tolol? Ya, terserah. Mungkin aku memang begitu. Bagaimana bisa, seorang pria seperti aku, menyia-nyiakan dirinya? Dengan mudahnya menerima permintaannya untuk mengakhiri hubungan kami tanpa berusaha mempertahankannya. Ya, aku bodoh, sangat bodoh.
                Lalu apa yang bisa aku lakukan sekarang selain bermimpi dan berharap bahwa dirinya akan kembali dalam pelukanku? Menunggu. Aku masih merinduinya, aku masih mencintainya. Walaupun sekarang, bukan lagi aku yang menjadi pemilik cintanya.
                Seperti yang aku lakukan sekarang, melihatnya tertawa dari kejauhan. Seperti penguntit. Untunglah kami satu kampus, jadi, dengan mudahnya aku masih bisa bertemu dengannya walaupun ia tak pernah menegurku. Seolah-olah aku tak pernah ada dalam hidupnya – setidaknya, masa lalunya.
                Tara – wanita yang masih kucintai itu – tiba-tiba menatap lurus ke arahku,dan… dia tersenyum? Hey, benarkah ia tersenyum? Apa aku bermimpi? Tara berjalan ke arahku… ia mendekat!!! Tuhan, apa ini jawaban atas segala penantianku? Kurasakan dada ini berdegup lebih kencang saat melihatnya lebih dekat. Perasaan ini masih sama, rasa rindu ini masih sama.

Dengan seluruh nyali yang ku punya, ku beranikan diri untuk kembali menyapanya, melantunkan namanya. Sedetik sebelum ku membuka mulutku, ku lihat bibirnya tersenyum senang, tersenyum rindu. Namun, matanya tak menatapku. Ku coba mengikuti arah pandangannya. Ku temukan sosok lelaki itu, yang mungkin telah memiliki cintanya. Benar, Tara menghampiri lelaki itu masih dengan senyumnya, yang dulu ia berikan padaku. Namun sekarang? Ya tentu saja, senyumnya tak lagi untukku.

Wednesday, October 23, 2013

We Have The Good One

                “Kamu kenapa sih, Nam?” Albi tak berhenti bertanya pada Nami.
                “Aku ga apa-apa, Albi.” Berulang kali pula Nami menjawab pertanyaan Albi dengan jawaban yang sama. Tetap saja Albi bersikeras untuk mendapat jawaban yang sesungguhnya dari Nami.
                “Nami, liat gue.” Perintah Albi, namun Nami tetap saja memandang lurus ke depan. “Naaam…” panggil Albi sekali lagi. Mau tak mau, akhirnya Nami pun menoleh dan memandang Albi.
                “Kita kenal ga baru tiga hari, tapi tiga tahun. Dan gue tahu lu banget. Lu kenapa?” tanya Albi sungguh-sungguh dengan suaranya yang tenang. Nami menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya seolah-olah seluruh masalahnya akan ikut terbuang. Namun, Nami tetap terdiam.
                “Ok, gue ga maksa lu buat cerita. Tapi, semangat dong! Besok ulang tahun lu kan? Jangan cemberut dong!” ucap Albi berusaha menyemangati Nami. Nami hanya mampu tersenyum kecut. Bukannya tak ingin membagi kesedihannya, ia hanya belum sanggup untuk bercerita.
                “Nami… Tahu kenapa kita bisa sedih? Tahu kenapa kita bisa ngerasain yang namanya bad day?” tanya Albi sambil memandang kedua bola mata Nami.
                “Kenapa?” Tanya Nami singkat sambil balas memandang Albi.   
“Karena kita tahu rasanya bahagia, bad day reminds us that we have the good one. Hidup itu butuh keseimbangan, ada saatnya kita bahagia ada saatnya kita sedih. Kita hanya harus selalu bersyukur.” Jelas Albi sambil tersenyum.
                Akhirnya, seulas senyum tulus terlukis di wajah Nami. “Albi…” belum sempat Nami mengucapkan terimakasih, tiba-tiba saja Albi beranjak dan mulai berlari sambil berteriak. “Kalo bisa ngejar gue, gue penuhin semua kemauan lu besok!”
                “Bener??!” tanya Nami setengah berteriak.

                “IYAAA.” Tanpa aba-aba, Nami pun ikut berlari mengejar Albi. Sejenak, ia berhasil melupakan keresahannya. Kata-kata yang Albi lontarkan senantiasa terngiang di telinganya, bad day reminds us that we have the good one

Tak Bisa Bersatu

                Mungkinkah kamu tahu isi hatiku? Terkadang mulut ini gatal untuk mengatakan yang sebenarnya. Tapi apa daya, kita sudah terjebak dan tak bisa lari. Ingatkah, sudah hampir 10 tahun kita bersahabat. Ya, hanya bersahabat. Apa kamu tak sadar? Inginku lebih dari itu.
                Setiap kita bersama, aku memandangmu lebih tapi kau hanya memandangku sebagai sahabat, dan akan tetap sebagai sahabat. Bukankah begitu?
                “Yo? Ko bengong aja sih?” ucapmu tiba-tiba membuyarkan lamunanku. “Makan itu nasi gorengnya, nanti keburu dingin.” Seperti biasanya, kita selalu menghabiskan malam minggu bersama. Tetap, hanya sebagai sahabat.
                “Eh, iya… ini di makan nih.” Ucapku sambil mulai menyuap sesendok nasi.
                Kembali pikiran itu datang. Pikiran untuk memilikimu, menjagamu, melindungimu, lebih dari sahabat. Mungkin salahku yang terlalu pengecut. Hingga akhirnya kita terjebak dalam sebuah zona, di mana kita hanya bisa bersahabat.
                Kembali mataku memandangimu lekat-lekat. Memandangi setiap senti wajahmu yang sudah ku kenal lama. Gina, apa kau tidak merasakan hal yang sama denganku? Bukankah kau juga ingin terus bersamaku?
                “Gina.” Panggilku pelan. Mungkin ini saatnya, aku harus segera mengatakannya.
                “Kenapa, Rio?” tanyamu pelan sambil tersenyum lembut ke arahku.
                “Emm… abis makan kita ke mana?” nyaliku ciut. Kubatalkan niatku untuk mengatakan semua itu.
                “Jalan-jalan keliling kota aja, kamu mau kan?” ajakmu riang. Aku tak pernah mampu menolak permintaanmu. Asal bersamamu, aku akan setuju.

                Mungkin memang ini takdirku, takdir kami. Lengkap jika berdua, tapi tak akan bisa bersatu. Bagaikan sepasang sepatu.

Dua Patah Kata

Mungkin orang memandangku heran. Mungkin orang menganggapku aneh. Tentu saja, sudah hampir dua jam aku duduk terdiam di depan sekolah sambil memandangi layar ponselku. Aku menunggu sesuatu yang tidak pasti. Sudah puluhan orang berlalu lalang di hadapanku. Sekedar menyapa, berpamitan, atau bahkan bertanya apa yang sedang aku lakukan. Dan aku hanya menjawab, menunggu.
            Ya, kami rombongan panitia LDK sudah dua jam sampai di sekolah. Bukan, aku bukan menunggu seseorang menjemputku, aku bukan menunggu seseorang untuk mengantarku pulang. Aku sedang menunggu dua patah kata. Lalu, mengapa aku tak kunjung pulang? Aku sendiri bingung.
            Sekolah sudah semakin sepi. Hampir seluruh panitia dan peserta LDK sudah pergi meninggalkan sekolah. Tak ada gunanya pula aku menunggu hal tersebut di sekolah, ia tak akan segera mengatakan dua patah kata tersebut. Ku langkahkan kaki dengan lemah untuk meninggalkan sekolah.
            Tak butuh waktu lama untukku sampai di rumah. Segalanya terasa datar tanpa dua patah kata yang ingin ku baca atau ku dengar darinya. Tentu saja aku lelah, tetapi aku tak ingin beristirahat hingga aku mendapatkan apa yang sedari tadi ku tunggu. Sayangnya, badan dan keinginanku tak sejalan. Mataku terlelap begitu saja saat badanku menyentuh kasur. Tanpa ku sadari, selama tujuh jam aku tertidur.
            Aku terbangun di malam harinya. Dengan segera ku lihat layar ponselku, berharap segera menemukan apa yang sudah kutunggu.
            Nihil.   
            Percuma. Yang kutunggu tak kunjung datang. Apa dirinya tak lagi peduli padaku? Atau inginku yang terlalu tinggi? Tetapi, aku rasa ini tidak berlebihan. Aku hanya menunggu dua patah kata, dua patah kata. Sederhana bukan?
            Ku rasa ini akan sia-sia. Kuletakkan kembali ponsel yang sedari tadi kugenggam. Ku lanjutkan tidurku yang terpotong. Satu yang kuharapkan saat terbangun nanti, penantianku berakhir.

***

            Aku masih menunggu dua patah kata tersebut walaupun ini sudah hari ketiga. Selama tiga hari ini pula tak henti-hentinya aku memandang ke arah kelasnya, atau memandang layar ponselku dengan pandangan berharap. Hari ini, aku duduk di depan kelasku, menunggu dengan tangan menggenggam ponsel dan pandangan ke arah kelasnya.
            “Sar, lagi ngapain?” sebuah pertanyaan yang sudah sering ku dengar akhir-akhir ini dari orang yang sudah ku kenal dekat, Anna.  Aku tersenyum simpul melihat Anna mendekat dan duduk di sampingku.
            “Menunggu.” Jawabku singkat setelah dia duduk nyaman disebelahku.
            “Menunggu apa? Rey? Kalian belum bertemu?” tanyanya heran.
            Aku menganggukkan kepala pelan sebelum menjawab pertanyaannya. “Kami belum benar-benar bertemu, aku hanya melihatnya sekilas. Aku bukan sedang menunggunya, aku sedang menunggu sesuatu darinya.” Jelasku sambil memandang Anna dengan misterius.
            Anna mengernyitkan dahinya, ia terlihat bingung. “Apa yang kau tunggu darinya?”
            “Dua patah kata.”
            “Dua patah kata? Bolehkah aku tahu, apa dua patah kata itu?”
            Belum sempat aku menjawab pertanyaan Anna, suara berat yang tak asing memanggil namaku pelan. “Sara…”
            Dengan cepat aku menoleh ke sumber suara. Dia… Rey datang menemuiku. Kami bertatapan untuk waktu yang singkat, namun saat itu waktu terasa berjalan begitu lambat.
            “Apa kabar?
            Tanpa bisa kutahan, sebuah senyum bahagia terlukis secara otomatis di wajahku. Penantianku berakhir. Dua patah kata tersebut akhirnya kudengar. Tanpa pikir panjang, ku jawab pertanyaannya dengan senyum yang tak hentinya ku lemparkan.
            “Baik…” 

Wednesday, October 2, 2013

Terlambat

                “Gimana bro perkembangan lu sama dia?” tanya Daru pada sahabatnya yang sudah lama menyukai seorang perempuan namun tidak kunjung ia nyatakan.
                “Lu mesti tau deh. Tinggal nunggu waktu deh ini, kita udah deket banget. Udah sama-sama punya chemistry gitu loh.” Jawab Rama membanggakan dirinya sendiri.
                “Gaya banget sih bahasa lu. Gue tunggu deh tanggal mainnya.” Daru menantang Rama.
                “Siap deh!”
                Saat mereka masih asyik dengan obrolan mereka, tiba-tiba saja terdengar suara keramaian dari arah kantin sekolah.               
                “Terima! Terima! Terima!” anak-anak berteriak untuk menyoraki seorang perempuan yang baru saja ditembak dan tampak bingung untuk memberi jawaban.
                “Ada yang lagi nembak?” tanya Rama heran.      
                “Iya kali ya, ke sana deh yuk.” Ajak Daru lalu segera beranjak menuju kantin. Dan…
                “Indah… would you be mine?” tanya seorang lelaki sambil memberikan bunga dan bergaya seolah-olah ia adalah pangeran berkuda. Daru dan Rama yang baru saja berganbung dengan sumber keramaian itu langsung terdiam mematung.
                “Ram… Indah, Ram…” ucap Daru pelan sambil menepuk pundak Rama. Rama masih saja terdiam tanpa menunjukkan reaksi sedikitpun. Tanpa berkata, Rama membalikkan badannya dan pergi meninggalkan kantin. Rahangnya mengeras, tangannya terkepal.
                “Sial! Keduluan deh gue!” Rama melampiaskan emosinya sambil menonjok tembok yang ada di sampingnya.
                “Bro, sabar bro…” Daru berusaha menenangkan Rama yang sudah seperti orang kesetanan.
                “Gimana gue bisa sabar? gue keduluan, meeen!”
                Daru bingung bagaimana ia harus menanggapi Rama. Saat mereka sama-sama tediam, wanita yang menyebabkan Rama mengamuk lewat. Rama menyadari akan kedatangan Indah, sebelum Indah pergi menjauh, Rama berteriak.
                “Indah!” Daru menoleh kaget pada Rama, apa yang akan Rama lakukan?
                Indah yang merasa namanya dipanggil pun segera menoleh. Saat mendapati Rama yang memanggil dirinya, Indah berjalan mendekat. “Kenapa, Ram?” tanyanya lembut.
                “Maaf ya, gue sayang sama lu yang udah punya pacar. Gue cuma mau lu tau, gue bakal nungguin lu. Sampai lu putus sama dia, dan lu akan nerima gue.” Dengan mudahnya kata-kata tersebut meluncur dari bibir Rama. Rama langsung meninggalkan Indah yang masih terdiam heran dan bingung akan perkataan Rama.
                Andai gue ga terlambat. Batin Rama dalam hati merutuki dirinya yang hanya bisa menjadi orang ketiga.

I Love You As Much As You Love to Talk

                Sudah hampir 2 jam Rendy mendengar cerita yang tak kunjung berhenti meluncur dari bibir Dini. Rendy tidak pernah bosan mendengar cerita-cerita yang Dini sampaikan dengan riang. Walaupun terkadang Rendy merasa cerita yang Dini ceritakan itu tidak penting. Hingga suatu hari, Rendy hanya menanggapi cerita Dini seadanya.
                “Ko kamu nanggepinnya gitu doang sih daritadi?” tanya Dini yang mulai heran dengan sikap Rendy.
                “Ha? Gitu doang gimana maksudnya?” jujur saja, Rendy sadar akan perubahan dirinya.
                “Gitu deh. Kayak ga niat. Udah males dengerin cerita aku ya? Yaudah deh, aku berhenti cerita.”
                “Yah ko gitu sih?? Aku dengerin ko.” Ucap Rendy sambil menggenggam tangan Dini agar Dini percaya padanya. Dini hanya terdiam dengan wajahnya yang terlihat masam.
                “Jelek ah kalo cemberut gitu, senyum dong, sayang…” Rendi berusaha membuat Dini tersenyum. Namun, Dini hanya terdiam dan menundukkan wajahnya. Rendi semakin heran dengan sikap Dini yang tiba-tiba berubah.
                “Din?” Rendi mencoba merangkul Dini namun dia merasa tubuh Dini mulai berguncang. Apa Dini menangis?
                “Hey, Din? Dini?? Yah… ko nangis?”
                “Kamu jahat, ga seneng kan denger aku cerita terus?” tanya DIni dengan isakan tangis yang ditahan. Bukannya menanggapi tuduhan Dini, Rendy malah tersenyum lembut dan menatap Dini lekat-lekat.
                “Aku diem bukan berarti aku ga seneng dengerin kamu cerita terus, Din…”
                “Terus apa?” tanya Dini dengan suara ketus yang dibuat-buat.
                “Aku lagi bersyukur ketemu dan punya wanita yang seperti kamu. Aku bersyukur masih bisa denger kamu terus cerita sama aku, Din…”
                “Bohong…” ucap Dini pelan. Tanpa ia sadari, wajahnya mulai merona karena kata-kata Rendi.
                “Yeeeh, ga percaya?” tanya Rendy menantang. Tiba-tiba saja Rendy menangkup wajah Dini dengan kedua tangannya lalu mencium kening Dini lembut.
                Dini merasakan detak jantungnya yang semakin cepat. Beribu-ribu sayap kupu-kupu seolah-olah memenuhi perutnya.
                Rendy menatap wajah Dini lekat-lekat lalu tersenyum sarat makna dan berkata, “I love you as much as you love to talk, Dini.”

                Dini tidak sanggup menahan senyumnya mendengar perkataan Rendy yang terdengar bergitu manis di telinganya, I love you as much as you love to talk, Dini.

Wednesday, September 18, 2013

Aku Yakin, Aku Tak Akan Sendiri

                Sandra kembali membuka kotak itu. Kotak yang tak pernah ia buka lagi sejak kejadian naas yang menimpa sahabatnya, kejadian yang merenggut nyawa sahabatnya. Sandra sadar betapa ia merindukan sosok Radit. Sosok yang selalu menjadi motivasinya, sosok yang selalu merangkai kata-kata indah bersamanya hingga membentuk bait-bait puisi.

                “Nih, ini kotak kumpulan puisi-puisi yang aku buat selama aku kenal kamu.” Sandra kembali teringat perkataan Radit saat menyerahkan kotak berwarna abu-abu itu. Otaknya seolah-olah memutarkan sebuah film lama yang masih teringat jelas dalam pikirannya.
                “Kenapa dikasih ke aku, Dit?” Tanya Sandra polos.
                “Aku ga mau kamu sendiri.” Jawab Radit sambil tersenyum sarat makna. Kening Sandra mengerut. Ia tidak mengerti dengan maksud perkataan Radit.
                “Maksud kamu?”
                “Suatu hari nanti, kalau aku udah ga ada, kalau aku ga bisa nemenin kamu lagi, puisi-puisi ini yang bakal nemenin kamu.” Seulas senyum tampak terus menghiasa wajah Radit yang teduh.
                “Suatu hari nanti, kalau jasadku hanya tinggal seonggok daging tanpa nyawa dan kau merindukanku… bukalah kotak ini, dan setiap kata dari puisi yang ku tulis akan menjelma menjadi nyawaku. Kau tak akan pernah sendiri, Sandra.”
               
                Saat itu, Sandra hanya mengira perkataan Radit adalah perkataan tak berarti.  Sandra kira Radit hanya menakut-nakutinya, seolah-olah Radit akan segera pergi. Namun… takdir telah menentukan, Radit benar-benar pergi darinya. Selamanya.
                “Walaupun ku tak lagi bisa melihat jasadmu, walaupun ku tak lagi bisa mendengar suaramu, walaupun ku tak lagi bisa membantumu menggapai semua impianmu, namun aku yakin, aku takkan sendiri. Kau masih menemaniku lewat semua untaian kata-kata ini.” Ucap Sandra berharap Radit dapat mendengarnya dari sana. “Aku merindukanmu, Dit.”


Kamulah Alasanku

                Tidak seperti biasanya keheningan mengisi detik-detik yang mereka lewati bersama. Hanya hembusan karbon dioksida yang mengisi kekosongan. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
                “Kenapa baru bilang sekarang?” akhirnya Laras angkat bicara. Rendra menoleh kearahnya, dan menatap kedua bola mata indah Laras lekat-lekat. Sebentar lagi, ia akan segera kehilangan mata indah Laras. Ia tak akan lagi leluasa memandangi kedua bola mata tersebut.
                “Maaf, Laras. Aku takut ga bisa lepasin kamu.” Jawab Rendra jujur. Laras terenyuh mendengar jawaban Rendra. “Bukankah ini maumu? Bukankah ini syarat darimu sebelum aku bisa meminangmu? Kau ingin aku sukses kan?”
                Laras menundukkan kepalanya. Matanya memanas. Benar, memang ia menginginkan Rendra untuk menjadi orang yang sukses. Tetapi kenapa baru sekarang? Kenapa baru sekarang Rendra mengatakannya? Bahwa ia akan berangkat ke Australia untuk melanjutkan S2nya. Esok.
                “Maafin aku, Ras…. Aku sadar aku nyakitin kamu. Kalau aku bisa, akan aku ambil semua rasa sakit yang kamu rasain. Biar aku yang rasain…” ucap Renda tulus sambil menggengam kedua tangan Laras.
                Air mata mengaliri pipi halus Laras. Pertahanannya runtuh. Ia belum siap melepas Rendra. Ia takut.  “Bukankah kamu sendiri yang bilang, kamu ga mau studi ke luar negeri?” Tanya Laras dengan suaranya yang parau menahan tangisan.
                “Itu dulu.”
                “Seingatku kau keras kepala.”
                “Aku punya alasan untuk apa yang akan kulakukan, Ras.” Rendra mempererat genggamannya.  Laras kembali terdiam. Ternyata Rendra masih keras kepala. Tidak mungkin Laras dapat menahan kepergiannya ke negeri kangguru itu.
                “Kau tau, tidak ada seorang pun yang dapat mengubah seseorang.” Ucap Rendra sambil melepas genggamannya lalu menangkup wajah Laras dengan kedua tangannya. “Tapi seseorang, dapat menjadi alasan bagi seseorang untuk berubah. Dan alasanku untuk berubah itu… kamu.”
                Laras dan Rendra bertatapan dalam diam. Berusaha menyelami isi hati mereka masing. Bulir-bulir air mata kembali mengalir dari mata Laras.
                “Bolehkan aku meminta sesuatu padamu?” Tanya Laras tiba-tiba. Rendra hanya memberikan anggukan sebagai jawaban.
                “Berjanjilah kau akan segera kembali. Untukku.”

                “Janji. Untukmu.” Rendra menarik Laras ke dalam pelukannya. Larasnya, Laras yang menjadi alasannya untuk berubah. 

Thursday, September 12, 2013

Tak Bisa Dipaksakan

“Hey, kau tuli atau apa? Apa kau mendengar perkataanku?” Tanya seorang perempuan pada lawan bicaranya. Suaranya yang lumayan kencang menarik perhatian orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar mereka.
“Aku dengar, Rena.” Jawab lelaki itu singkat.
Rena sudah tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan pada Dirga. Sudah hampir tiga tahun Dirga mengejarnya. Sudah banyak cara yang Rena lakukan agar Dirga menjauhinya. Semakin Rena menjauhi Dirga, Dirga malah semakin mendekatinya. Semakin Rena membuat Dirga sakit hati, Dirga malah semakin mengejarnya.
“Kau sinting. Apa kau tak punya hati?” Tanya Rena dengan nada seketus mungkin.
“Tentu aku punya. Kalau aku tak punya hati, dengan apa aku mencintaimu?” ucapnya santai.
“Berhentilah berkata cinta. Ku yakin kau sudah gila, Dirga. Apa yang harus aku lakukan agar bisa jauh dariku?” Rena merasa kesabarannya hampir habis.
“Mungkin dengan menghilangkan hatiku.” Jawaban macam apa itu? “Apakah sesulit itu mencintaiku, Ren?” tanyanya tiba-tiba. Aku membulatkan mataku mendengar pertanyaan konyolnya.
“Cinta tak bisa dipaksakan, Dirga.”
“Baiklah. Kalau begitu kau juga tidak bisa memaksaku untuk menjauh darimu atau berhenti mencintaimu.” Rena mati kutu mendengar jawabannya. Senjata makan tuan, batin Rena.
“Terserah kau sajalah. Aku lelah.” Jawab Rena lalu pergi melangkah meninggalkan Dirga cepat-cepat.
“Rena!” teriak Dirga membuat lebih banyak orang lagi yang menengok ke arahnya. “Aku tidak akan menyerah!” ucapnya pantang mundur.
Semoga bisa ku temukan jurus terjitu yang mampu membuatnya berhenti mencintaiku. Ucap Rena dalam hati sambil menundukkan kepalanya menghindari tatapan mata dari orang-orang yang sedari tadi menyaksikan perdebatannya dengan Dirga.


Tak Kusangka

Pernahkah kamu merasakan sesuatu yang kau pikir takkan kau rasakan? Aku pernah. Dua tahun setelah aku memutuskan hubungan dengannya, memang aku merasa sedih, namun… tak kusangka ku akan…
                Suara lagu Officialy Missing You  yang ku-set menjadi ringtone  berbunyi membuyarkan lamunanku. Ah… dia lagi.
                “Halo?” ucapku menyapa suara disebrang sana.
                “Bisakah ku bertemu denganmu, sekarang? Aku menunggu di café yang biasa kita datangi.” Ucapnya. Setelah menjawab sekenanya, aku bergegas untuk menemuinya.
                Sosok itu… Aku berbohong jika aku tidak merasakan jantungku berdegup kencang ketika ku melihatnya sekarang. Ku lemparkan senyum semanis mungkin kepadanya saat ia menatapku. Mungkinkah ia sadar aku gugup?
                “Hey, Ren.” Sapanya dengan senyum menawan yang terlukis di wajah maskulinnya.  Aku hanya balas tersenyum.
                “Kau tahu tidak?” tanyanya tiba-tiba.
                “Tahu apa?” aku balik bertanya.
                “Tahu rasanya merasakan sesuatu yang kau pikir takkan kau rasakan.” Jelasnya.
                Aku sedang merasakan itu, batinku. “Maksudnya?” malah itu yang keluar dari bibirku.
                “Ya, kau pikir itu mustahil untuk kau rasakan, tapi nyatanya itu kau rasakan.”
                “Contohnya?”
                “Seperti saat ini.” Jawabnya singkat membuatku jantungku berdegup semakin kencang. Aku mengernyitkan dahiku. Bingung.
                “Kau sedang merasakan sesuatu? Apa itu?” aku kembali bertanya.
                “Hey, apa kau tidak merasakan hal yang sama denganku?” tanyanya cepat.
                “Sungguh, aku bingung dengan perkataanmu yang bertele-tele.” Ucapku jujur.
                “Aku merindukanmu.” DEG!
                Kurasa saat ini wajahku memerah. Ku rasa, aku juga merindukanmu. Tak kusangka aku akan merindukanmu…
               


Wednesday, September 4, 2013

Cinta Tidak Butuh Alasan

                Angin berhembus lembut melewati sepasang remaja yang sedan duduk bersisian beralaskan rumput. Mereka duduk menghadap sebuah danau yang terbentang luas. Lisa menyenderkan kepalanya ke bahu Fajar yang tegap.
                “Lis…” Panggil Fajar tiba-tiba dan membuat Lisa menoleh kepadanya. “Maafin aku ya.”
                “Maafin apa, Jar? Kamu kan ga salah apa-apa.” Lisa heran dengan pernyataan maaf Fajar yang tiba-tiba.  Lisa menatap kedua bola mata Fajar, berusaha mencari jawaban.
                “Aku suka keras kepala. Kadang, aku cuek. Aku juga ga bisa nyanyi kayak cowo-cowo romantis itu. Aku ga pinter-pinter banget. Aku…” belum sempat Fajar menyelesaikan kalimatnya, Lisa meletakkan jari telunjuknya ke depan bibir Fajar dan membuatnya terdiam. Lisa tersenyum manis.
                “Terus kenapa kalo kamu keras kepala? Terus kenapa kalo kamu kadang cuek? Emangnya romantis itu selalu dengan nyanyian?” Tanya Lisa. Fajar hanya terdiam sambil menatap wajah Lisa lekat-lekat.
                “Semua itu ga penting buat aku, Jar. Mau kamu keras kepala, cuek, perhatian banget, bisa nyanyi atau engga, kamu pinter atau bodoh. Aku, cintanya sama kamu yang begini. Kamu yang apa adanya.” Jelas Lisa sambil tersenyum, Fajar ikut tersenyum mendengar perkataan Lisa yang terdengar begitu manis di telinganya.
                “Kenapa kamu bisa mencintaiku seperti ini, Lis?”
                “Memangnya, mencintai seseorang butuh alasan?” sekali lagi, Lisa berhasil membuat Fajar tersenyum.

                “Lisa, aku bangga banget punya kamu.  Kamu… bener-bener buat aku ngerasa sempurna untukmu.” Ucap Fajar tulus lalu merangkul bahu Lisa halus. Angin yang berhembus punmenjadi saksi akan ketulusan cinta mereka berdua. Ya, cinta memang tidak butuh alasan.

Unspoken Love

                Rasanya aneh. Rasanya bibir ini tersenyum secara otomatis saat melihatnya. Rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu dengan sayap yang menggelitik perutku setiap kali melihat tawanya. Seperti saat ini. Aku melihatnya tertawa bersama teman-temannya saat ia bermain basket. Ya, ia  kak Rafa, seniorku. Berdiri memandanginya dari depan kelasku sudah menjadi kegiatan rutin selama sebulan ini. Tentu saja kak Rafa tidak mengetahuinya – ku harap ia tidak mengetahuinya.
                “Ata! Masih liatin dia?” Tanya Dini yang sudah mengetahui kebiasaanku ini. “Kalo cuma liatin terus tapi ga kenal, gimana bisa mau, Ta?”
                “Ssst… Namanya juga suka diem-diem.” Jawabku tanpa mengalihkan pandanganku sedetikpun.
                “Kalo diem aja, keburu diambil cewe lain loh.” Sontak aku langsung menoleh pada diri dan menatapnya dengan pandangan dingin. Dini hanya tertawa cekikikan melihat tingkahku. Baru saja aku ingin menjawab pertanyaan Dini, tetapi…
                “Aww!” pekikku saat merasakan sebuah bola basket yang terlempar ke bahu kananku.
                Tidak. Tidak mungkin. Kak Rafa menghampiriku! Baiklah, saat ini aku merasakan lebih banyak kupu-kupu yang terbang di dalam perutku.
                “Lu kena bola basketnya? Sorry, gue ga sengaja. Lu ga apa-apa kan?” Tanya kak Rafa santai namun terlihat sedikit cemas.
                “Eh? Iya… Eng.. Engga apa-apa ko kak. Santai aja, hehehe…” aku mencoba bersikap setenang mungkin, tetatpi gagal.
                “Lu anak komplek Perumahan Indah ya?” Tanya kak Rafa tiba-tiba.
                “Loh? Kok tau, Kak?” baiklah, ini hal yang aneh. Tidak mungkin ia menguntitku.
                “Pantesan, gue sering liat lu kalo berangkat atau balik sekolah. Gue juga anak komplek itu.” Ia sering melihatku? Baiklah, ku rasa wajahku saat ini sudah memerah.
                “Nanti balik sekolah sama siapa? Ikut gue aja yuk.” Ajaknya sambil mendribble pelan bola basket di hadapanku.
                “Rafa! Lama amat ngambil bola doang?!” Salah satu temannya berteriak tak sabaran.
                “Bentar, Cong!” Kak Rafa balas berteriak. “Jadi gimana?” ia kembali bertanya padaku.
                “Yaudah deh, terserah kak Rafa aja.” Jawabku pelan. Kulihat kak Rafa tersenyum kecil.
                “Nomer lu? Biar gue gampang ngehubungin lu nanti. Sekalian aja, besok kita berangkat bareng juga.” Kak Rafa berhasil membuatku merasa kaki ini tak sanggup menahan badanku. Rasanya aku akan segera meleleh di tempat. Ku berikan nomer ponselku padanya dengan gerakan cepat.  Tanpa sadar, Dini meninggalkanku secara perlahan. Memberikan waktu dan tempat yang lebih leluasa untuk aku dan kak Rafa. Terimakasih, Din.

                “Sip, nanti gue sms ya!” ucapnya sambil pergi kembali ke teman-temannya dan melanjutkan permainan basketnya. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Kak Rafa, mungkinkah kakak merasakan hal yang sama padaku?

Wednesday, August 28, 2013

Tolong, Jangan Lupakan Aku

                 Suara dentingan piano memenuhi seisi ruangan pribadi Anna. Dengan lincah jari-jarinya melompat dari satu tuts ke tuts lain.
                “Anna? Ada tamu tuh di depan.” Suara teman satu flat Anna berhasil menghentikan permainan pianonya. Anna menoleh.
                “Siapa? Oke bentar lagi aku ke depan.” Jawab Anna sambil membereskan lembaran music sheets yang berserakan.
                “Aku baru pertama kali liat dia. Mungkin, temen lamamu, Na.”
                Anna mengangguk, “sip, makasi ya.”
                Dengan santai ia melangkahkan kakinya menuju ruang tamu yang ada di lantai bawah. Ia terdiam saat melihat siapa tamu yang dimaksud. Sosok itu… Pria yang dulu harus ia relakan… Pria yang dulu sangat dicintainya… atau bahkan sampai sekarang? Bukankah ia sudah…
                “Anna…” suara yang sudah tidak lama Anna dengar kembali mengucapkan namanya. Betapa ia merindukan sosok pria itu.
                “Hey… Arif…” balas Anna dengan suara pelan. Arif tersenyum lembut melihat Anna berjalan mendekat. Anna pun duduk di hadapan Arif. Hening. Mereka sibuk dengan pikirannya maisng-masing.
                Aku merindukanmu. Ingin rasanya Anna mengucapkan hal itu.
                “Apa kabar, Na?” Tanya Arif membuyarkan lamunan Anna.
                “Baik. Ka… kamu gimana?”
                Arif tersenyum simpul. “Baik”. Jawabnya singkat.
Lagi-lagi, keheningan menyelebungi mereka. Bukankah dulu mereka tidak pernah kehabisan topik untuk dibicarakan? Apakah Arif sudah melupakan kenangan-kenangannya bersama Anna dulu? Mengapa mereka secanggung ini?
“Ada apa ke sini, Rif?” akhirnya Anna memberanikan diri untuk bertanya.
Tiba-tiba Arif mengeluarkan amplop coklat keemasan dari tasnya. Sebuah undangan pernikahan. Dengan tangan gemetar Anna menerimanya.
“Dateng ya, Na…” pinta Arif. Anna hanya terdiam menatapi undangan yang saat ini digenggamannya.
“Yaudah, aku cuma mau nganter itu. Aku pulang dulu ya.” Arif berdiri dan berjalan meninggalkan ruang tamu.
“Rif..” panggil Anna pelan namun berhasil menghentikan langkah Arif. Arif menoleh tanpa bisa membaca ekspresi Anna.
“Tolong, jangan lupakan aku… Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu.” Ucap Anna dengan sekuat tenaga menahan air mata yang sudah memaksa untuk keluar.

Arif terdiam untuk beberapa saat lalu tersenyum sarat makna. “Terima kasih.” Lalu ia pun pergi meninggalkan Anna yang tak lagi mampu menahan air matanya.