Friday, December 27, 2013

Lluvia

                Hujan kembali mengguyur kota itu tanpa ampun. Adrian memang tak pernah membenci hujan, ia selalu suka hujan. Suara rintik yang begitu menenangkan, bau tanah yang semerbak karena tersiram air hujan yang menyejukkan, ia mencintai segala sesuatu tentang hujan. Termasuk pemandangan yang ia lihat saat ini, seorang wanita tak berpayung yang tampak dengan santainya berjalan di tengah rintik hujan.
                Mata Adrian tak sedetik pun melepaskan pandangan pada wanita berambut sebahu itu. Awalnya wanita itu tampak bingung, namun tiba-tiba wajahnya berbinar. Apa yang baru ia temukan? Pikir Adrian. Wanita itu melangkah dengan pasti. Ah, Adrian sadar… wanita menemukan café ini sebagai tempat meneduh, café yang sedang Adrian tempati.
                Pelayan yang berjaga di depan pintu member salam dan tersenyum sopan pada wanita yang sedari tadi Adrian pandangi. Wanita itu memilih tempat dekat dengan jendela, tepat di meja sebelahnya, meja bernomor 27. Tak henti-hentinya Adrian memandangi wanita itu, berusaha menelusuri tiap jengkal wajah wanita yang baru ia lihat saat hujan turun.
                Seperti sadar dipandangi, wanita itu menoleh ke arahnya dengan tatapan bingung. Adrian yang tertangkap basah sedang menatapi dirinya tak mampu berkutik. Wanita itu tersenyum lembut melihat Adrian yang nampak kaget tertangkap basah olehnya.
                “Suka kopi?” tanya wanita itu tiba-tiba sambil memandang Adrian lekat-lekat.
                Adrian menganggup mantap lalu berkata, “dan hujan.” sambil melemparkan senyum terbaiknya dan beranjak untuk duduk di sebelah wanita itu.

                Empat hal penting bagi Adrian hari ini. Senyuman, dua cangkir kopi, hujan, dan wanita yang baru ia jumpai yang selanjutnya ia panggil, Lluvia. Hujan.

Te Quiero

                “Sudah berapa tahun ya?” tanya lelaki berbadan tegap itu tiba-tiba pada wanta yang saat ini sedang asyik membaca majalah di sebelah.
                “Apanya yang sudah berapa tahun?” tanya wanita itu setelah meletakkan majalah yang ia baca di atas coffee table.
                Lelaki itu memandang wanita di sampingnya lekat-lekat lalu tersenyum., “kita bareng.”
                Tanpa sadar, wanita itu ikut tersenyum mendengar perkataan laki-laki itu. Dirasakan wajahnya mulai menghangat, pasti semburat kemerahan terlihat di wajahnya.
                “Emmm, berapa ya?” tanya wanita itu terlihat mulai menghitung dengan jari-jarinya.
                Alih-alih membantu wanitanya menghitung, lelaki itu malah menggenggam tangan wanitanya dan memintanya untuk berhenti menghitungi sudah berapa lama mereka bersama.
                “Belum selesai ngitung!” protes wanita itu.
                “Lupain aja.”
                “Ha?” terlihat jelas wanita itu tampak kaget. Apa kata lelakinya barusan? Lupain?  Melihat reaksi wanitanya yang begitu kaget karena kalimatnya, lelaki itu tertawa kecil dan kembali berkata.
                “Love is not about how many days, months, or years you’ve been together. Love is about how much you love each other everyday.”
                Wanita itu terdiam mendengar lelaki yang selama ini bersama dirinya mampu mengucapkan kata-kata manis seperti itu.
                “Lucu deh kamu, merah tuh wajahnya.” Ucap lelaki itu sambil mencubit hidung wanitanya pelan.
                “Ihh!” wanita itu tidak benar-benar kesal, ia hanya merajuk sambil memukul lengan kokoh lelakinya pelan.
                “Aku, akan selalu sama kamu, till death do us part.” Perkataan manis lainnya dari lelaki itu.
                Tak mampu lagi berkata-berkata, wanita itu hanya memeluk erat lelakinya, seperti tak ingin dipisahkan, seperti tak ingin dilepaskan.
                “Te quiero, mi querida.”  Aku mencintaimu, sayangku. Bisik lelaki itu pelan.

                “Te quiero, mi querido.” Aku mencintaimu, sayangku.

Wednesday, December 4, 2013

Let's See

                Sudah minggu ke 7 sejak ia mengantar jemputku. Sungguh, ini bukan permintaanku, ia yang selalu melakukan ini. Setidaknya, aku diuntungkan dalam hal ini. Bukankah aku menghemat sebagian uang jajanku? Hehehe. Seperti hari-hari selama 7 minggu ini, aku pulang bersamanya. Dan seperti hari-hari biasanya pula. Kami hanya diam di sepanjang perjalanan.
                Namun, tiba-tiba saja ia memelankan motornya. Padahal rumahku masih jauh. Apa mungkin… bensinnya habis?
                “Ko berhenti sih, Dir?” tanyaku bingung setelah Dirga benar-benar menghentikan motornya.
                “Bosen ga sih, Ren?” tanyanya balik. Apa maksudnya?
                “Bosen? Bingung iya, Dir. Bosen apaan?” aku kembali bertanya.
 Kami masih di atas motor, aku tak dapat melihat wajahnya saat ia berbicara. Ia tidak menyuruhku turun, jadi aku tetap berada di jok belakang. Bagaimana jika aku turun dan tiba-tiba ia meninggalkanku? Tidak, tidak mungkin. Ia tidak sejahat itu. Dirga melepas helmnya dan mulai mengatur letak kaca spion agar mampu melihatku tanpa harus menoleh atau turun motor.
“Bosen ga sih jomblo?” tanyanya lebih jelas.
Tanpa sadar, aku memasang tampang seperti orang bloon saat ia bertanya saking bingungnya. “Jomblo? Gue sih ga bosen sih ya. Lu kenapa sih tiba-tiba nanya gini?”
Hening beberapa detik…
“Jadian yuk, Ren.” Ucapnya tiba-tiba tanpa basa-basi. Jantungku berdegup kencang saat ia mengucapkan kata-kata sederhana tersebut.
“Sinting lu, Dir.”
“Serius, jadian yuk.” Kali ini aku yang terdiam setelah mendengar kalimatnya. Ia menatapku melalui kaca spion.
“Gue tahu kita belum bener-bener deket. Tapi tiap hari gue mikirin lu. Dan gue pikir… gue mulai suka sama lu… dan gara-gara lu juga, gue pengen sayang sama seseorang.” Lanjut Dirga lalu tersenyum.
“Pengen sayang sama seseorang? Funny…” ucapku menanggapi kalimatnya.
So how? Will you…?”  kali ini ia terlihat sedikit gugup. Aku tersenyum simpul melihat wajahnya yang terlihat gugup.
I will.” Jawabku singkat. “Let’s see, how this thing will work on us.”

Jauh dari kata romantis. Isn’t it funny? Let’s see, how this thing will work on Dirga and I.

Bantu Aku

                Aku sadar aku berusaha memenangkan egoku sendiri. Aku sadar ini sebuah kesalahan besar. Namun, apalagi yang bisa aku lakukan? Hanya mengemis pada seorang pria untuk membuka hatinya padaku dan membantu melupakan sosok pria lain. Ya, egois bukan?

***

                “Bantu aku, Rif…” ucapku dengan suara yang parau menahan suara tangis yang kian pecah. Arif bergeming. Ku lihat otot-otot wajahnya masih tegang.
                “Rif… Kamu… sayang kan… sama aku?” tanyaku terbata-bata sambil menangkup wajahnya dnegan kedua tanganku.
                Otot-otot wajahnya mulai mengendur. Tatapannya begitu sedih. Andai aku bisa membaca pikiranmu…
                “Aku sayang sama kamu, Key…. Tapi…”
                “Jangan tinggalin aku…” potongku cepat sebelum ia melanjutkan kalimatnya. Kurasakan kedua tangan Arif menggenggam tanganku yang masih menangkup wajahnya. Ia melepaskan tanganku dari wajahnya.
                “It’s not that easy to be with someone who doesn’t really love you. Apa gunanya kita bareng, tapi di hati kamu ada orang lain? Apa gunanya, Key?” tanya Arif sambil memandangku lekat-lekat. Perasaan bersalah semakin menyelebungi hatiku. Kau bodoh, Key.
                “Tapi kamu juga mau kita bareng kan?” aku balik bertanya, berusaha mempertahankan hubungan demi keegoisanku.
                “Key…” ucap Arif pelan seolah-olah putus asa. “Jangan paksa hati kamu untuk sayang sama aku saat hati kamu memilih yang lain…”
                “Arif… please…” bulir-bulir air mata kembali membasahi pipiku. Jahatnya aku, bodohnya aku.
                “Bantu aku… aku mau lupain dia. Bantu aku lupain dia… aku mau sayang sama kamu, bantu aku…” pintaku sungguh-sungguh tanpa berani menatap wajah Arif lagi.
                Tiba-tiba Arif menarikku kedalam pelukannya. Saat itu pula ia mencium puncak kepalaku lembut dan tangisku semakin pecah. Dengan tenaga yang masih tersisa, kembali kuucapkan permintaanku.

                “Bantu aku, Rif…”