Wednesday, August 28, 2013

Tolong, Jangan Lupakan Aku

                 Suara dentingan piano memenuhi seisi ruangan pribadi Anna. Dengan lincah jari-jarinya melompat dari satu tuts ke tuts lain.
                “Anna? Ada tamu tuh di depan.” Suara teman satu flat Anna berhasil menghentikan permainan pianonya. Anna menoleh.
                “Siapa? Oke bentar lagi aku ke depan.” Jawab Anna sambil membereskan lembaran music sheets yang berserakan.
                “Aku baru pertama kali liat dia. Mungkin, temen lamamu, Na.”
                Anna mengangguk, “sip, makasi ya.”
                Dengan santai ia melangkahkan kakinya menuju ruang tamu yang ada di lantai bawah. Ia terdiam saat melihat siapa tamu yang dimaksud. Sosok itu… Pria yang dulu harus ia relakan… Pria yang dulu sangat dicintainya… atau bahkan sampai sekarang? Bukankah ia sudah…
                “Anna…” suara yang sudah tidak lama Anna dengar kembali mengucapkan namanya. Betapa ia merindukan sosok pria itu.
                “Hey… Arif…” balas Anna dengan suara pelan. Arif tersenyum lembut melihat Anna berjalan mendekat. Anna pun duduk di hadapan Arif. Hening. Mereka sibuk dengan pikirannya maisng-masing.
                Aku merindukanmu. Ingin rasanya Anna mengucapkan hal itu.
                “Apa kabar, Na?” Tanya Arif membuyarkan lamunan Anna.
                “Baik. Ka… kamu gimana?”
                Arif tersenyum simpul. “Baik”. Jawabnya singkat.
Lagi-lagi, keheningan menyelebungi mereka. Bukankah dulu mereka tidak pernah kehabisan topik untuk dibicarakan? Apakah Arif sudah melupakan kenangan-kenangannya bersama Anna dulu? Mengapa mereka secanggung ini?
“Ada apa ke sini, Rif?” akhirnya Anna memberanikan diri untuk bertanya.
Tiba-tiba Arif mengeluarkan amplop coklat keemasan dari tasnya. Sebuah undangan pernikahan. Dengan tangan gemetar Anna menerimanya.
“Dateng ya, Na…” pinta Arif. Anna hanya terdiam menatapi undangan yang saat ini digenggamannya.
“Yaudah, aku cuma mau nganter itu. Aku pulang dulu ya.” Arif berdiri dan berjalan meninggalkan ruang tamu.
“Rif..” panggil Anna pelan namun berhasil menghentikan langkah Arif. Arif menoleh tanpa bisa membaca ekspresi Anna.
“Tolong, jangan lupakan aku… Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu.” Ucap Anna dengan sekuat tenaga menahan air mata yang sudah memaksa untuk keluar.

Arif terdiam untuk beberapa saat lalu tersenyum sarat makna. “Terima kasih.” Lalu ia pun pergi meninggalkan Anna yang tak lagi mampu menahan air matanya. 

Dan Hidupnya Tak Lagi Sama

Malam itu, seorang lelaki berpostur tegap, yang tak lain adalah Rey, menunggu sahabatnya di sebuah kedai kopi. Baru beberapa menit ia duduk, ia menangkap sosok yang ditunggunya. Tetapi… Joe, sahabat Rey, tidak sendiri.
“Rey!” panggil Joe penuh semangat.
Joe merasakan sarafnya menegang melihat sosok yang datang bersama Rey. Sisca. Seseorang yang tiba-tiba meninggalkannya di masa lalu, tanpa alasan. Ia memaksakan seulas  senyum untuk Joe.
“Maaf bro, gue telat.” Ucap Joe.
“Oh, iya. Santai aja.” Rey berusaha bersikap setenang mungkin.
“Eh, maaf lagi nih. Gue ga bisa lama-lama. Gue ada janji.”
“Janji apa?” Tanya Rey singkat lalu mencuri pandang ke arah wanita anggun berambut hitam legam sebahu yang duduk di sebelah Joe.
“Gue belum cerita? Gue mau ke rumah orang tua tunangan gue. Kita mau ngomongin tanggal pernikahan.” Jelas Joe tanpa ia sadari membuat Sisca menyembunyikan wajahya dari Rey. Dahi Rey berkerut samar. Belum sempat Rey menanggapi, Joe melanjutkan kalimatnya.
“Rey, ini Sisca, tunangan gue. Sis, ini Rey sahabat aku itu.” Joe mengenalkan kedua orang yang sebenarnya sudah saling mengenal. Mereka bersalaman, canggung. Rey merasakan rahangnya mengeras. Amarah, kecewa, dan kesedihan bercampur aduk.
“Yaudah, gue duluan, bro!” Joe berdiri dari tempat duduknya sambil menggenggam tangan Sisca. Sisca tidak mampu menatap wajah Rey. Ia terlalu takut.

Pasangan itu pun pergi meninggal Rey yang masih terdiam tak percaya. Apakah Sisca sadar? Sejak kepergiaannya, hidup Rey tak lagi sama. Ia berusaha menikmati kesendiriannya dengan luka yang tak akan bisa sembuh. Sungguh, Rey masih menyayangi Sisca.