Wednesday, October 23, 2013

Dua Patah Kata

Mungkin orang memandangku heran. Mungkin orang menganggapku aneh. Tentu saja, sudah hampir dua jam aku duduk terdiam di depan sekolah sambil memandangi layar ponselku. Aku menunggu sesuatu yang tidak pasti. Sudah puluhan orang berlalu lalang di hadapanku. Sekedar menyapa, berpamitan, atau bahkan bertanya apa yang sedang aku lakukan. Dan aku hanya menjawab, menunggu.
            Ya, kami rombongan panitia LDK sudah dua jam sampai di sekolah. Bukan, aku bukan menunggu seseorang menjemputku, aku bukan menunggu seseorang untuk mengantarku pulang. Aku sedang menunggu dua patah kata. Lalu, mengapa aku tak kunjung pulang? Aku sendiri bingung.
            Sekolah sudah semakin sepi. Hampir seluruh panitia dan peserta LDK sudah pergi meninggalkan sekolah. Tak ada gunanya pula aku menunggu hal tersebut di sekolah, ia tak akan segera mengatakan dua patah kata tersebut. Ku langkahkan kaki dengan lemah untuk meninggalkan sekolah.
            Tak butuh waktu lama untukku sampai di rumah. Segalanya terasa datar tanpa dua patah kata yang ingin ku baca atau ku dengar darinya. Tentu saja aku lelah, tetapi aku tak ingin beristirahat hingga aku mendapatkan apa yang sedari tadi ku tunggu. Sayangnya, badan dan keinginanku tak sejalan. Mataku terlelap begitu saja saat badanku menyentuh kasur. Tanpa ku sadari, selama tujuh jam aku tertidur.
            Aku terbangun di malam harinya. Dengan segera ku lihat layar ponselku, berharap segera menemukan apa yang sudah kutunggu.
            Nihil.   
            Percuma. Yang kutunggu tak kunjung datang. Apa dirinya tak lagi peduli padaku? Atau inginku yang terlalu tinggi? Tetapi, aku rasa ini tidak berlebihan. Aku hanya menunggu dua patah kata, dua patah kata. Sederhana bukan?
            Ku rasa ini akan sia-sia. Kuletakkan kembali ponsel yang sedari tadi kugenggam. Ku lanjutkan tidurku yang terpotong. Satu yang kuharapkan saat terbangun nanti, penantianku berakhir.

***

            Aku masih menunggu dua patah kata tersebut walaupun ini sudah hari ketiga. Selama tiga hari ini pula tak henti-hentinya aku memandang ke arah kelasnya, atau memandang layar ponselku dengan pandangan berharap. Hari ini, aku duduk di depan kelasku, menunggu dengan tangan menggenggam ponsel dan pandangan ke arah kelasnya.
            “Sar, lagi ngapain?” sebuah pertanyaan yang sudah sering ku dengar akhir-akhir ini dari orang yang sudah ku kenal dekat, Anna.  Aku tersenyum simpul melihat Anna mendekat dan duduk di sampingku.
            “Menunggu.” Jawabku singkat setelah dia duduk nyaman disebelahku.
            “Menunggu apa? Rey? Kalian belum bertemu?” tanyanya heran.
            Aku menganggukkan kepala pelan sebelum menjawab pertanyaannya. “Kami belum benar-benar bertemu, aku hanya melihatnya sekilas. Aku bukan sedang menunggunya, aku sedang menunggu sesuatu darinya.” Jelasku sambil memandang Anna dengan misterius.
            Anna mengernyitkan dahinya, ia terlihat bingung. “Apa yang kau tunggu darinya?”
            “Dua patah kata.”
            “Dua patah kata? Bolehkah aku tahu, apa dua patah kata itu?”
            Belum sempat aku menjawab pertanyaan Anna, suara berat yang tak asing memanggil namaku pelan. “Sara…”
            Dengan cepat aku menoleh ke sumber suara. Dia… Rey datang menemuiku. Kami bertatapan untuk waktu yang singkat, namun saat itu waktu terasa berjalan begitu lambat.
            “Apa kabar?
            Tanpa bisa kutahan, sebuah senyum bahagia terlukis secara otomatis di wajahku. Penantianku berakhir. Dua patah kata tersebut akhirnya kudengar. Tanpa pikir panjang, ku jawab pertanyaannya dengan senyum yang tak hentinya ku lemparkan.
            “Baik…” 

No comments:

Post a Comment