Wednesday, October 2, 2013

I Love You As Much As You Love to Talk

                Sudah hampir 2 jam Rendy mendengar cerita yang tak kunjung berhenti meluncur dari bibir Dini. Rendy tidak pernah bosan mendengar cerita-cerita yang Dini sampaikan dengan riang. Walaupun terkadang Rendy merasa cerita yang Dini ceritakan itu tidak penting. Hingga suatu hari, Rendy hanya menanggapi cerita Dini seadanya.
                “Ko kamu nanggepinnya gitu doang sih daritadi?” tanya Dini yang mulai heran dengan sikap Rendy.
                “Ha? Gitu doang gimana maksudnya?” jujur saja, Rendy sadar akan perubahan dirinya.
                “Gitu deh. Kayak ga niat. Udah males dengerin cerita aku ya? Yaudah deh, aku berhenti cerita.”
                “Yah ko gitu sih?? Aku dengerin ko.” Ucap Rendy sambil menggenggam tangan Dini agar Dini percaya padanya. Dini hanya terdiam dengan wajahnya yang terlihat masam.
                “Jelek ah kalo cemberut gitu, senyum dong, sayang…” Rendi berusaha membuat Dini tersenyum. Namun, Dini hanya terdiam dan menundukkan wajahnya. Rendi semakin heran dengan sikap Dini yang tiba-tiba berubah.
                “Din?” Rendi mencoba merangkul Dini namun dia merasa tubuh Dini mulai berguncang. Apa Dini menangis?
                “Hey, Din? Dini?? Yah… ko nangis?”
                “Kamu jahat, ga seneng kan denger aku cerita terus?” tanya DIni dengan isakan tangis yang ditahan. Bukannya menanggapi tuduhan Dini, Rendy malah tersenyum lembut dan menatap Dini lekat-lekat.
                “Aku diem bukan berarti aku ga seneng dengerin kamu cerita terus, Din…”
                “Terus apa?” tanya Dini dengan suara ketus yang dibuat-buat.
                “Aku lagi bersyukur ketemu dan punya wanita yang seperti kamu. Aku bersyukur masih bisa denger kamu terus cerita sama aku, Din…”
                “Bohong…” ucap Dini pelan. Tanpa ia sadari, wajahnya mulai merona karena kata-kata Rendi.
                “Yeeeh, ga percaya?” tanya Rendy menantang. Tiba-tiba saja Rendy menangkup wajah Dini dengan kedua tangannya lalu mencium kening Dini lembut.
                Dini merasakan detak jantungnya yang semakin cepat. Beribu-ribu sayap kupu-kupu seolah-olah memenuhi perutnya.
                Rendy menatap wajah Dini lekat-lekat lalu tersenyum sarat makna dan berkata, “I love you as much as you love to talk, Dini.”

                Dini tidak sanggup menahan senyumnya mendengar perkataan Rendy yang terdengar bergitu manis di telinganya, I love you as much as you love to talk, Dini.

No comments:

Post a Comment