Thursday, February 9, 2017

Bukan Nomer Satu

Apa yang kamu rasakan saat tidak menjadi nomer satu? Atau bagaimana rasanya tidak pernah menjadi nomer satu?

Sebenarnya semua hal itu biasa saja, hingga akhirnya kita merasa cemburu. Sebenarnya semua hal itu biasa saja, hingga akhirnya kamu merasa cemburu.

Oh bukan, bukan tentang kecemburuan yang muncul saat orang lain menjadi nomer satu di kelasnya saat di SD, SMP atau SMP. Bukan tentang kecemburuan dengan anggota keluarga.

Kalau dipikir lebih lanjut, sepertinya rasa cemburu ini muncul karena dulu seseorang pernah dinomer satukan oleh orang lainnya - bukan keluarga, maupun guru - namun sekarang entah dinomer berapakan. Menyadari hal itu seseorang menjadi cemburu.

Saat dulu mereka selalu menomer satukanmu, dalam hal apapun.
Saat ia yang kebingungan menjadikanmu orang pertama yang ia mintai pendapat
Saat ia yang kesulitan menjadikanmu orang pertama yang ia mintai tolong
Saat ia yang marah menjadikanmu orang pertama yang menyadari amarahnya
Saat ia yang mendapat berita bahagia menjadikanmu orang pertama yang ia kabari
Bahkan, saat ia yang sedang tidak ada apa-apa menjadikanmu orang pertama yang dicarinya

Lalu tiba-tiba semua itu berubah
Kamu bukan lagi orang yang pendapatnya dipertimbangkan
Kamu bukan lagi orang yang ia mintai pertolongan
Kamu menjadi orang terakhir yang menyadari amarahnya
Kamu tak pernah mendapatkan kabar bahagia lagi darinya
Kamu bukan lagi orang yang ia cari di saat senggangnya

Dan lebih sialnya, ada orang lain yang menggantikan posisimu
Dan kamu melihat itu
Dan kamu menyaksikannya langsung

Awalnya kamu tak menyadari akan segala perubahan itu
Namun lambat laun akhirnya kamu mengerti
Kamu tidak lagi menjadi nomer satu.

Saturday, December 12, 2015

Apaan sih?

Pengaderan? Kaderisasi? Apaan sih?


Hai! J

Dari kalimat pertama pasti udah ketebak kan mau bahas apa? Ya, pengaderan. Sebelumnya udah ada nih entri yang bahas pengaderan gitu walaupun Cuma dikit, tapi boleh lah dicek~
nih klik

Sebenernya pengaderan itu apa?

Jadi, kalau diambil dari KBBI, pengaderan adalah

Tuesday, November 17, 2015

Jarak: Alasan untuk Bertemu

Narendra

Kayla sukses bikin gue bingung. Iya, gue bingung kenapa dia bisa setenang itu jalan sama gue yang padahal baru dia kenal. Gue bingung kenapa dia bisa membawa suasana senyaman itu. Dan gue bingung kenapa gue betah berlama-lama sama dia, padahal di waktu yang sama gue juga gugup. Namun, perempuan seatraktif dia juga bisa ga suka sama sesuatu. Gue mengetahui sesuatu dari Kayla waktu kemarin kami pergi nonton, dia ga suka horror.

“Terserah lo nonton apa, asal jangan horror.” Katanya saat kami baru sampai di bioskop.

“Kenapa?” tanya gue berusaha

Thursday, September 24, 2015

Jarak: Rencana untuk Bertemu

Kayla

Hai Kay

Aku sempat terdiam beberapa detik saat menerima chat LINE itu, heran. Pesannya memang langsung ku buka, tapi tak langsung ku balas. Aku membaca pesan tersebut berulang-ulang, dan masih tidak percaya kalau aku baru saja menerima pesan dari Narendra, laki-laki yang tak sengaja bertemu denganku.

Hai Naren, knp?

Aku berusaha

Saturday, September 5, 2015

Jarak: Rahasia Narendra II

Narendra

“Kok lo nyimpen foto dia?”

“Lo kenal dia?” apakah dunia – atau Bogor – memang sesempit ini?

“Lo ngapain nyimpen foto Kayla? Itu Kayla kan?” tanya Farel.

“Kok lo kenal dia?” gue balik tanya sekali lagi.

“Yaelah, dia temen SMP gue dulu, sebelum kita satu SMP.” Kami sempat sama-sama diam untuk beberapa detik, “lo kenal dia dari mana?”

Gue berdehem, “bukannya gue udah

Sunday, August 16, 2015

Jarak: Rahasia Narendra I

Kayla

Semester pertama memang luar biasa. Aku harus beradaptasi dengan lingkungan, teman-teman, dan kebiasaan baru lebih cepat. Aku akhirnya paham bagaimana sistem perkuliahan. Ujian akhir semester yang berbeda dengan yang biasa aku kerjakan saat perkuliahan. Perjuangan yang lebih untuk mengejar dosen. Berusaha menerima materi-materi yang saat SMA tidak pernah terbayangkan. Semua itu luar biasa.

Dan akhirnya, aku bisa pulang ke Bogor. Aku mendapatkan waktu selama dua minggu untuk berada di Bogor. Walaupun aku belum memiliki rencana, yang pasti aku ingin bertemu dengan teman-temanku. Di sinilah aku sekarang, berbaring menatap langit-langit kamarku.

***

Narendra

Makhluk yang sekarang ini lagi sama gue udah bener-bener kayak saudara gue. Lagi di Bali atau di Bogor, gue pasti ketemu dia. Gue yang

Sunday, August 9, 2015

Jarak: Adaptasi

Kayla

Jadi begini rasanya kuliah. Beberapa minggu pertama, aku merasa begitu ingin pulang. Aku merindukan suasana rumah. Terlebih lagi Surabaya yang jarang sekali diguyur hujan. Ya, aku menyukai hujan. Dan angkot, aku yang terbiasa ke sana ke mari sendirian menggunakan angkot, kesulitan untuk seperti itu di Surabaya.

Namun, setelah bulan ketiga aku di sini, aku mulai betah. Syukurlah aku adalah salah satu jenis orang yang mudah beradaptasi. Aku mulai menikmati panasnya Surabaya, bukannya hujan dengan petirnya Bogor. Aku mulai terbiasa dengan segala kegiatan semester awal sebagai mahasiswa. Aku menyadari hal lucu, saat kuliah, jam di dalam kelas lebih sedikit daripada saat bersekolah, tapi aku merasa lebih sibuk dibanding saat sekolah dulu. Sungguh, kalau kau masih SMA, manfaatkan sebaik-baiknya.

“Kay, makan ga?” aku langsung menoleh