Wednesday, June 10, 2015

(Kebanyakan) Mahasiswa Sekarang

Ini murni pendapat aku, tanpa bermaksud untuk menyinggung, tapi maaf kalau menyinggung(?). Aku hanya ingin menyampaikan apa yang ingin aku sampaikan lewat tulisan, enjoy! :)

Kita tahu, hampir di semua perguruan tinggi mengadakan kaderisasi untuk para mabanya dengan cara yang berbeda. Memang masih berhubungan dnegan kaderisasi, tapi apa yang akan aku bahas sekarang bukan masalah bagaimana kaderisasi yang tepat blablablanya. Ada hal menyedihkan yang aku temui dari kaderisasi. Banyak mahasiswa yang mengagung-agungkan kaderisasi ini dan itu, merasa kaderisasinya paling keras, disiplin, berhasil dan sebagainya.


*ga bahas wisudaan* ._.


Nyatanya? Banyak pula - tidak semua ya - mahasiswa yang mentalnya rusak. Mereka pintar, tapi mental mereka... entahlah. Mengapa? Aku ceritakan satu contoh yang mungkin selanjutnya akan menjadi topik utama dari entri ini :)

Mencontek. Sudah sangat sering bukan mendengar kata ini? Apa mungkin sudah bosan? Bahkan sampai duduk di bangku kuliah, aku masih melihat kejadian ini. Maaf kalau aku terkesan sok suci, tapi, jujur, aku adalah salah satu orang yang tidak menyukai hal ini. Saya akui, saya juga pernah mencontek.



Mahasiswa memang semakin pintar, dan banyak pula mahasiswa yang kepintarannya dipakai untuk mencontek. Bahkan sampai menggunakan media komunikasi seperi handphone, grup chatting di media sosial. Yang membuat aku kaget adalah... aku menemukan seseorang yang memiliki nilai tinggi di kelas, aku tahu dia memang pintar, tapi dia juga melakukan hal tersebut, membantu jalannya contek mencontek. Rusah. Dan sedihnya lagi, orang-orang ini tampak tenang dan terbiasa melakukan ini. Tragis.

Ada hal lucu di sini. Saat ada acara, entah resmi atau tidak diadakan oleh jurusan, banyak orang di dalam angkatan tersebut yang tampak kesal dan marah. Saling menceramahi satu sama lain karena dari orang dalam angkatan yang mau datang ke acara tersebut. Orang-orang yang emosinya tersulut tersebut biasanya akan berkata, "apakah kalian tidak peduli?"

Sadarkah di mana letak kelucuannya? Mereka saling menceramahi karena ketidak pedulian mereka akan angkatan/jurusan. Terkadang mereka terkesan mengecap orang-orang yang tampak tidak peduli adalah produk gagal kaderisasi. Ke mana saja mereka selama ini?

Belum sadar di mana letak kelucuannya? Biar aku perjelas lagi. Mereka anggap tidak datang ke acara yang diadakan adalah hal yang salah, tapi contek mencontek adalah hal yang wajar. Menggelikan. Bukan berarti aku membenarkan orang yang tidak datang ke acara. Kalau memang orang tersebut memiliki alasan yang jelas, tidak masalah.

Hal tragis lainnya. Ada yang menganggap bahwa contek mencontek, membantu teman saat ujian adalah bentuk peduli terhadap temannya. Lalu apa? Apa orang-orang yang tidak ikut dalam contek mencontek dikatakan tidak peduli? Inilah pemikiran yang salah.

Bukankah sebenarnya kita memiliki banyak waktu sebelum ujian untuk meminta bantuan pada teman kita? Saat kita tidak mengerti materi, atau tugas yang diberikan. Bukankah kita bisa membantu teman-teman kita yang lain sebelum ujian?

Mungkin hanya ini untuk sekarang yang ingin aku sampaikan. Sekali lagi, entri ini aku buat tanpa bermaksud untuk menyinggung pihak tertentu, tapi kalau ada yang tersinggung biasanya sih yang ngelakuin HEHEHEHE. no hard feeling.

Daaaan sekali lagi, aku hanya ingin menyampaikan apa yang ingin aku sampaikan lewat tulisan, terimakasih! :3


sumber gambar: abah google

No comments:

Post a Comment