Monday, June 15, 2015

Spasi

"Kita harus berpisah, Ren." Aku hanya bisa diam, setiap kata yang ia ucapkan saat ini membuatku semakin sakit. "Listen, it's not about you. It's about me. You do nothing wrong, but I have to go. Ok?"
"I'm not ok, Evan." Suaraku bergetar menahan tangis. Aku tidak siap dengan ini.
"You will. See you when I see you." Apa ini senyum terakhirnya untukku? 

*** 

Mungkin akan lebih mudah bagiku untuk menerima kenyataan jika ia jujur dari awal. Dia tidak mengatakan alasannya dengan jelas. Dia meninggalkanku dalam bayangan kebingungan.
Aku melihatnya. Aku melihatnya bersama seorang wanita anggun. Mereka tertawa seraya menyantap makanannya. Dan aku hanya bisa melihat mereka dari kejauhan. Walau sebenarnya ingin, aku tak lagi bisa menegurnya. Aku tak punya hak untuk itu. Aku bukanlah siapa-siapa lagi untuknya, dan aku sadar spasi itu memang ada.



***

Aku tahu apa yang aku lakukan saat ini mungkin tak berarti apa-apa, tapi aku ingin penjelasan darinya. "Selamat, Van." ucapku saat Evan mengangkat telepon dariku.
"Rena? Selamat untuk apa?" terdengar jelas Evan heran dengan perkataanku.
"Untukmu, dan... Wanita itu."
"Wanita...?" aku menghela napas sebelum akhirnya menjelaskan maksudku.
"Aku melihatmu tadi siang. Dia sangat cantik."
"We need to talk, 4 pm at de Café. See you there." Evan menutup teleponnya sebelum aku menanggapi ajakannya, atau perintahnya?

*** 

Evan datang tepat waktu, aku datang sepuluh menit sebelum jam empat. Aku tidak mengerti mengapa Evan tiba-tiba mengajakku berbicara. Apa ia ingin luka itu kembali terbuka?
"Kamu sudah pesan?" tanyanya basa-basi begitu duduk di meja yang telah ku pilih.
Aku hanya mengangguk. Ia beranjak lagi dan memesan secangkir kopi. Tak ada satupun dari kami yang memulai percakapan, kami sama-sama diam. "Silahkan." ucap seorang pelayan yang mengantar pesanan kami sambil tersenyum. Aku membalas senyumnya singkat.
"Ada apa?" tanyaku akhirnya.
"Tentang wanita itu..." aku menunggunya menyelesaikan kalimatnya. "Ayahku menjodohkanku, dengan wanita itu."
"Dan kau mau?"
"Tolong biarkan aku bercerita terlebih dahulu." Aku kembali diam dan mulai menata kembali emosiku. "Ayahku sejak dulu berkata, aku hanya tinggal membentuk diri dan mencapai cita-citaku, ia akan menyiapkan pasangan hidupku."
"..."
"Rena... Maafkan aku."
Aku tidak mengerti apa yang aku rasakan sekarang. Sedih. Kesal. Marah. Kecewa. "Mengapa tidak kau katakan lebih awal? Selama ini kau tinggalkan aku dalam kebingungan."
"Aku tak mau menyakitimu, Ren. Bahkan sampai saat ini, karena aku masih menyayangimu."
"Kau pikir seperti tidak menyakitiku?" aku tidak mau ada air mata yang mengalir lagi di depan Evan. Aku tidak ingin Evan merasa dirinya masih begitu berarti bagiku, walau memang begitu adanya.
"Rena... Aku masih mengusahakan kita, aku masih sayang padamu. Permintaan ayahku belum aku setujui, aku hanya... Berusaha mengenal wanita itu." Aku mendengar nada penyesalan dari suara Evan, tapi aku terlalu kecewa dengan dirinya yang baru menceritakan alasan sebenarnya padaku.
"Evan, ada spasi di antara kita yang entah sampai kapan tak bisa kita hapus. Spasi itu yang memisahkan aku dan kamu, layaknya kata-kata yang berdampingan namun terpisah. Mungkin kita tidak berada di cerita yang sama. Kau akan menemui kalimat-kalimatmu sendiri, begitu pula aku. Kamu yang sudah memilih untuk meninggalkanku." aku terdiam untuk beberapa saat karena air mata itu kembali memaksa untuk keluar.
"Terimakasih pernah merangkai cerita bersamaku. Maaf, kali ini aku yang meninggalkanmu." Dengan sekuat hati aku tinggalkan Evan, membiarkannya tenggelam dalam spasi yang takkan terhapus.

No comments:

Post a Comment