Sunday, June 7, 2015

Perpisahan

Perpisahan sering dikaitkan dengan hal-hal menyedihkan atau menyakitkan. Padahal, tak selamanya perpisahan itu menyedihkan. Namun, perpisahan yang mereka rasakan ini memang menyedihkan, menyakitkan. Bukan perpisahan yang mereka inginkan. Perpisahan yang menyedihkan. Saat pihak-pihak yang ada ingin bersama, tapi keadaan berkata lain.

Nadya hanya bisa memandangi Naren dari jauh saat ini, entah sampai kapan. Naren tampak tak berubah, ia masih tertawa seperti biasa. Apa Naren memang baik-baik saja? Karena Nadya tidak, ia tersiksa. Kata-kata yang Naren sampaikan sebelum akhirnya mereka berpisah terus terngiang.

“Sela-sela jarimu diciptakan bukan hanya agar orang lain bisa mengisi sela-sela itu, tapi artinya kamu juga bisa menggenggam dirimu sendiri, kamu bisa berkembang sendiri, kamu bisa mengurus dirimu sendiri. Bisa ya tanpa aku?”

Nadya tersenyum sedih. Entah sampai kapan ia bisa bertahan. Ia belum bisa, dan mungkin takkan pernah bisa, merelakan Naren. Khayalan Nadya melambung ke masa lalu. Ke masa-masa di mana ia dan Naren masih bersama, mengukir harapan bersama, melakukan hal-hal konyol bersama. Air mata Nadya terjatuh lagi, ia terlalu merindukan Naren. Di sela tangisannya ia berharap.


Tuhan, aku ingin bersama Naren. 

No comments:

Post a Comment