Saturday, June 27, 2015

Berjalan Sedikit Jauh


Again???” tanya Kayla, temanku sejak kami masih sama-sama bocah ingusan yang tidak tahu apa-apa. Mungkin saat ini aku sudah menganggapnya seperti saudara sendiri. Ia selalu begitu, ekspresif tentang apapun yang ia sampaikan. Mungkin hal itu yang membuatku senang bercerita padanya, karena ia selalu memberi tanggapan-tanggapan dengan ekspresinya yang tak biasa. Seperti saat ini, saat aku bercerita aku dan teman-teman jurusanku akan pergi – yang menurut dia sudah terlalu sering – menjelajah keindahan di Indonesia, ia tampak kaget.
            Aku tertawa melihat ekspresinya, “terakhir dua minggu lalu loh, Kay. Mau ikut?” ajakku walau aku tahu ia pasti menolaknya.




            “Kamu kayak baru kenal aku tiga hari, Ren. Emang aku bakal dibolehin?” itulah alasannya kenapa ia selalu menolak ajakanku untuk berpergian sedikit jauh. Perempuan yang merupakan anak semata wayang pasangan Wiadmaja ini tidak diizinkan untuk berpergian jauh tanpa orang tuanya, dan Kayla adalah anak yang penurut.
            “Kalau sampai boleh?” aku menantangnya.
            “Ga akan, Narendra.” Ucapnya pasrah sambil mengaduk-aduk affogato yang hampir habis. “Emang yang sekarang mau ke mana? Berangkat besok dong?”
            Aku menengadahkan kepala sambil berdehem, berpura-pura berpikir. “Tujuan utamanya sih Pantai Teluk Hijau, sama Kawah Ijen. Ga tau kalau mendadak nambah destinasi hehehe. Banyuwangi deket sih soalnya dari Surabaya” Aku menyengir, Kayla malah cemberut.
            “Aku dulu pengen cepet kuliah biar bisa jalan-jalan, tapi ya... yaudah deh.”
            “Aku janji bakal bawa kamu piknik.” Tiba-tiba saja aku mengatakan itu.
            Kayla tertawa memamerkan deretan giginya yang rapi, “piknik? Ke taman deket sini juga piknik.”
            “Piknik maksudku, jalan-jalan sedikit jauh.” Jelasku sambil menatapnya jahil saat mengatakan sedikit jauh.
Kayla kembali tertawa lembut, “aku tunggu, Ren.”

***

Sepulangnya aku dari Banyuwangi, aku membawa bagiak, salah satu makanan khas Banyuwangi, dan beberapa lembar film polaroid bergambar keindahan-keindahan yang aku abadikan selama di sana.
Aku langsung menelepon Kayla, mengajaknya untuk bertemu malam ini di cafe yang tak jauh dari indekosnya. Ia menyetui ajakanku walaupun aku harus merayunya, ia tidak begitu senang keluar malam hari. Padahal, sekarang baru pukul delapan malam.
Seperti biasa kalau kami akan keluar, aku menjemputnya. Sesampainya di cafe, Kayla memesan affogato seperti biasanya, dan aku hanya memesan secangkir hot cappucino. Jujur, aku merasa sangat lelah saat ini, tapi rasa ingin bertemu dengan Kayla lebih besar.
Aku berikan bagiak dan beberapa lembar foto yang sengaja aku oleh-olehkan untuk Kayla. Dia tersenyum manis seperti biasanya. “Makasi, Naren. Foto-fotonya bagus banget...” ia takjub memandangi setiap pemandangan yang ada di foto tersebut.

kawah ijen

Aku ikut tersenyum. “Ceritain dong, di sana ngapain aja?” tanyanya sembari masih memandangi foto yang aku berikan.
Lalu aku bercerita panjang lebar tentang perjalananku yang melelahkan namun sangat menyenangkan. Aku bercerita tentang pasir putih yang lembut di pantai teluk hijau, dan betapa menakjubkannya kawah ijen.

teluk hijau

“Tunggu ya, aku bakal kamu bawa jalan jauh. Beneran.” Ucapku sungguh-sungguh karena aku sudah memiliki rencana tentang itu.
“Silahkan saja, kalau bisa. Aku tak yakin orang tuaku akan mengizinkannya.” Jawab Kayla seperti biasanya.
Aku tahu, pasti tidak mudah membawa Kayla piknik. Untuk kuliah di luar kota seperti ini saja, Kayla harus membujuk orang tuanya berminggu-minggu. Setelah tahu, aku – yang merupakan teman Kayla sejak kecil – juga berkuliah di Surabaya seperti Kayla, barulah orang tuanya mengizinkan. Mungkin, aku bisa membuat mereka mengizinkan Kayla satu kali lagi.

***

            Aku ingat benar ulang tahun Kayla tinggal menghitung hari. Ulang tahunnya jatuh di hari Rabu ini, dan aku ingin menculiknya di akhir minggu ini.  Aku tahu in tindakan nekat. Ya, aku memberanikan diri untuk menelepon Ayah Kayla, meminta izinnya secara langsung untuk membawa Kayla setidaknya melihat hal-hal indah di sekitarnya.
            “Halo, Naren? Tumben sekali menelepon. Ada apa? Kayla baik-baik saja kan?” Aku tersenyum dalam hati menyadari betapa Ayah Kayla begitu mengkhawatirkan Kayla.
            “Baik, Om. Sangat baik, Om apa kabar?” Tanyaku basa-basi sebelum langsung ke topik utama.
            “Om, baik sekali. Kamu bagaimana? Kamu menelepon tidak mungkin tidak memiliki maksud kan?” tanyanya diakhiri tawa. Aku ikut tertawa.
            “Baik, Om. Ah... iya, jadi...” aku sedikit gugup. Aku takut mendengar penolakan.

***

            Aku memang sama sekali tidak berencana memberi kejutan pada Kayla di hari ulang tahunnya, tapi aku sudah memiliki kejutan lain. Aku sengaja menjemputnya di jurusan, dan mengajaknya makan siang. Ia langsung menyetujuinya begitu saja.
            “Selamat ulang tahun.” Bisikku sambil memeluknya dengan sebelah tanganku, saat ia sudah masuk ke dalam mobil.
            “Hey, makasiii.” Ucapnya sambil tersenyum, “ga ada hadiah nih?” rajuknya.
            “Punya ga ya? But I have a surprise for you.”
            Ia menatapku heran, “apa?”
            “Sabtu kita berangkat setelah subuh.” Jawabku menyisa tanda tanya di kepala Kayla.
            “Ke?”
            “Namanya aja kejutan, Kay. You have to prepare...” kalimatku menggantung, dan Kayla menatapku sungguh-sungguh. “nothing.
            Kayla tampak lebih bingung dari sebelumnya, dan aku menyadari itu. “Pokoknya semua beres sama aku, berangkat setelah subuh. Ok?”

***

            Seperti yang kukatakan pada Kayla, berangkat setelah subuh. Kami sudah dalam perjalan dan Kayla terus bertanya ke mana kita akan pergi, tapi tidak pernah aku jawab.
            “Tenang, ga akan aku culik terlalu jauh. Ngomong-ngomong, tidur aja kalau masih mengantuk.” Ucapku.
            “Nope. Mana mungkin aku tidur, nanti bahaya kalau kamu aneh-aneh sama aku.”
            “Really? Kamu mikir aku bakal aneh-aneh sama kamu?” aku tertawa. “Tenang, Kay. Ga bakal nyesel pokoknya setelah aku culik.”
            Walaupun katanya ia memilih untuk tidak tidur, nyatanya ia tertidur saat di tengah perjalanan. Ini baru permulaan, ucapku dalam hati saat aku sudah memarkir mobilku. Aku tinggal membangunkan Kay dan mengajaknya untuk turun, untuk piknik.
            “Kay...” ucapku pelan sambil mengguncangkan tubuhnya. Terakhir kali aku melihatnya tidur, saat kami duduk di bangku SD, dan sekarang aku merasa kembali ke masa itu. Wajahnya yang polos itu masih tampak lucu saat tidur, membuatku tidak tega membangunkannya.
            “Kayla.” Ucapku sekali lagi. Kayla sepertinya terbangun dan mengucek matanya, lalu menegakkan posisi duduknya tiba-tiba.
            “Eh aku tidur? Kita di...?” Pertanyaannya menggantung. Aku tahu dia terpesona dengan pemandangan yang ada di sekitarnya.
            Aku segera turun, dan membukakan pintu mobil untuknya. “I present you, bukit Jaddih.” Aku mengatakannya dengan percaya diri setelah ia benar-benar turun dari mobil.

Bukit Jaddih

            Wajahnya tampak tak percaya, kagum, dan terharu. Aku tersenyum menunggu apa yang akan ia ucapkan. Alih-alih mengatakan sesuatu, ia langsung memelukku kencang.
            “You are the best and the craziest man!” sambil menatapku ia mengolok sekaligus memujiku. Ya, aku cukup percaya diri dia memujiku.
            “Suka?” tanyaku.
            “Banget...” matanya melihat ke sekeliling gundukan batu kapur yang terlihat indah. “Kok kamu bisa tahu ada tempat kayak gini di Madura?” tanya Kayla heran.
            “Ya tau lah. Ayo ke sana.” Ajakku tanpa benar-benar menjawab pertanyaan Kayla.
Aku mengajaknya berjalan menyusuri setiap sisi Bukit Jaddih. Sesekali kami berfoto, atau bahkan diam-diam aku yang memotonya. Sudah pukul delapan, sudah satu setengah jam kami di sini. Aku kembali mengajaknya duduk di salah satu tempat. Kami duduk bersisian. Senyum Kayla belum hilang dari wajahnya.
“Wow, terus kita pulang kapan? Kalau Ayah telepon gimana?’ aku tahu Kayla akan bertanya seperti ini.
“Aku udah minta izin sama beliau.” Jawabku santai.
“Ha?”
“Aku udah minta izin sama beliau.” Aku mengulan jawabanku, tapi Kayla masih tampak bingung. “Aku menelepon Ayahmu, lalu minta izin buat nyulik kamu.”
“Dan dibolehin?” sekali lagi ia memasang wajah kagetnya. Aku mengangguk. “Wow.” Gumamnya.
“Ayo berangkat lagi, masih ada perjalanan panjang.” Seperti dugaanku, Kayla masih tampak tak percaya. “Ayo.” Ajakku sekali lagi.

***

            Perjalanan menuju Pulau Gili Labak yang terletak  di Kecamatan talang Kabupaten Sumenep ini menghabiskan waktu cukup lama. Namun aku sama sekali tidak merasa bosan, berpergian bersama Kayla memang selalu menyenangkan. Aku yakin sekali ia lelah, karena aku pun begitu.

Gili Labak
            Kayla memasang wajah takjubnya sekali lagi. Aku biarkan ia melihat sekitar, sementara aku membangun tenda untuk tempat kami beristirahat.
            “Naren!” Kayla memanggilku tiba-tiba, aku hanya menoleh. “Sini bentar, tendanya nanti ajaa.” Ajaknya setengah berteriak.
            “Tunggu!” aku juga hampir berteriak. Aku menyelesaikan tenda yang tinggal sedikit lagi lalu segera menyusulnya yang duduk di atas pasir.
            “Ada apa?” tanyaku. Ia menepuk pasir di sebelahnya, mengisyaratkanku untuk ikut duduk bersamanya. Aku menurutinya.
            Langit mulai tampak kemerahan, matahari terbenam di pantai memang selalu menakjubkan. Wajah Kayla pun tampak kemerahan karena sinar matahari yang mulai tenggelam menyentuh wajahnya. Ini luar biasa. Kadang aku tak sadar sudah belasan tahun aku mengenal Kayla, dan kami sudah sedewasa ini.
            “Makasi banyak, Naren.” Ucapnya tulus sambil menatapku. Aku membalas tatapannya dan tersenyum.
            Dan kadang, aku juga tidak sadar Kayla memiliki senyum semanis itu. “Aku ga tahu gimana ceritanya kamu nyiapin semua ini. It means a lot to me.”
            Tidak. Apa aku tiba-tiba gugup ketika ia menatapku? Kenapa bocah yang dulu cengeng bisa tumbuh menjadi secantik ini? Aku tertawa, berusaha menutupi kegugupanku.
            Matahari semakin tenggelam, laut memantulkan cahaya matahari itu. Aku tiba-tiba tersenyum. Aku cukup bahagia mengetahui kejutanku berhasil.
            “Mau aku culik lagi?” tanyaku iseng pada Kayla.
            “Kalau penculikannya kayak gini sih, mau banget.” Jawabnya sambil tertawa pelan sebelum melanjutkan perkataannya. “Emang ya, rugi banget kalau tinggal di Indonesia, tapi ga pernah jalan-jalan. Indonesia terlalu indah kalau cuma dijadiin tempat tinggal.”
            “Kalau gitu, I will take you to Banyuwangi¸ Malang, or Lombok? Oh... I will take you...” belum aku menyelesaikan kalimatku. Kayla memelukku, erat. Aku terdiam, terlalu bahagia.
            Aku balas memeluknya, dan berbisik, “I will take you everywhere.” Dan tenggelamnya matahari menjadi saksi aku akan membawanya melihat Indonesia.


Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Awesome Journey” Diselenggarakan oleh Yayasan Kehati dan Nulisbuku.com 

No comments:

Post a Comment