Friday, June 19, 2015

Pecundang

Sebut aku pecundang karena tak mampu mengatakan ini padanya.
            Sebut aku pecundang karena menantikan, mencari, menunggu waktu yang tepat bukannya menciptakan waktu yang tepat untuk mengatakan semua ini pada Zara, perempuan yang membuatku mengenal kehidupan. Kata-kata yang ku rangkai selama ini terasa sia-sia hanya karena ciutnya nyali yang kupunya setiap bertemu dirinya, setiap melihatnya tersenyum. Seperti saat ini.
            “Hei, maaf lama ya.” Sapanya sambil tersenyum manis. Kau pinta aku menunggu lebih lama pun tak apa, asal aku masih bisa melihat senyummu.
            “Engga, kok...” jawabku, menggantung. Ide gila itu tiba-tiba terlintas. Apa harus ku katakan semua ini sekarang? Apa waktunya tepat? Sial. Aku tidak akan pernah menemukan waktu yang tepat jika aku harus menunggu, aku harus menciptakannya.
            “Zara...” panggilku, masih mengumpulkan keberanian itu.
            “Kenapa, Raf?”
            Andai kamu mampu membaca mataku, menelusuri isi hati dan pikiranku, semua ini akan lebih mudah, Zar.
            “Berangkat sekarang yuk.”

            Sebut aku pecundang karena masih tak mampu mengungkapkan ini semua. Aku hanya ingin mencintaimu seperti hujan, murni dan kuat. Mungkin tak sekarang, tapi aku pastikan kau akan segera mengetahui rahasia hatiku.

No comments:

Post a Comment