Wednesday, September 4, 2013

Unspoken Love

                Rasanya aneh. Rasanya bibir ini tersenyum secara otomatis saat melihatnya. Rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu dengan sayap yang menggelitik perutku setiap kali melihat tawanya. Seperti saat ini. Aku melihatnya tertawa bersama teman-temannya saat ia bermain basket. Ya, ia  kak Rafa, seniorku. Berdiri memandanginya dari depan kelasku sudah menjadi kegiatan rutin selama sebulan ini. Tentu saja kak Rafa tidak mengetahuinya – ku harap ia tidak mengetahuinya.
                “Ata! Masih liatin dia?” Tanya Dini yang sudah mengetahui kebiasaanku ini. “Kalo cuma liatin terus tapi ga kenal, gimana bisa mau, Ta?”
                “Ssst… Namanya juga suka diem-diem.” Jawabku tanpa mengalihkan pandanganku sedetikpun.
                “Kalo diem aja, keburu diambil cewe lain loh.” Sontak aku langsung menoleh pada diri dan menatapnya dengan pandangan dingin. Dini hanya tertawa cekikikan melihat tingkahku. Baru saja aku ingin menjawab pertanyaan Dini, tetapi…
                “Aww!” pekikku saat merasakan sebuah bola basket yang terlempar ke bahu kananku.
                Tidak. Tidak mungkin. Kak Rafa menghampiriku! Baiklah, saat ini aku merasakan lebih banyak kupu-kupu yang terbang di dalam perutku.
                “Lu kena bola basketnya? Sorry, gue ga sengaja. Lu ga apa-apa kan?” Tanya kak Rafa santai namun terlihat sedikit cemas.
                “Eh? Iya… Eng.. Engga apa-apa ko kak. Santai aja, hehehe…” aku mencoba bersikap setenang mungkin, tetatpi gagal.
                “Lu anak komplek Perumahan Indah ya?” Tanya kak Rafa tiba-tiba.
                “Loh? Kok tau, Kak?” baiklah, ini hal yang aneh. Tidak mungkin ia menguntitku.
                “Pantesan, gue sering liat lu kalo berangkat atau balik sekolah. Gue juga anak komplek itu.” Ia sering melihatku? Baiklah, ku rasa wajahku saat ini sudah memerah.
                “Nanti balik sekolah sama siapa? Ikut gue aja yuk.” Ajaknya sambil mendribble pelan bola basket di hadapanku.
                “Rafa! Lama amat ngambil bola doang?!” Salah satu temannya berteriak tak sabaran.
                “Bentar, Cong!” Kak Rafa balas berteriak. “Jadi gimana?” ia kembali bertanya padaku.
                “Yaudah deh, terserah kak Rafa aja.” Jawabku pelan. Kulihat kak Rafa tersenyum kecil.
                “Nomer lu? Biar gue gampang ngehubungin lu nanti. Sekalian aja, besok kita berangkat bareng juga.” Kak Rafa berhasil membuatku merasa kaki ini tak sanggup menahan badanku. Rasanya aku akan segera meleleh di tempat. Ku berikan nomer ponselku padanya dengan gerakan cepat.  Tanpa sadar, Dini meninggalkanku secara perlahan. Memberikan waktu dan tempat yang lebih leluasa untuk aku dan kak Rafa. Terimakasih, Din.

                “Sip, nanti gue sms ya!” ucapnya sambil pergi kembali ke teman-temannya dan melanjutkan permainan basketnya. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Kak Rafa, mungkinkah kakak merasakan hal yang sama padaku?

4 comments:

  1. Bagus ran :') *ngarep bisa jd kaya gitu*

    ReplyDelete
  2. Gue dan mira tersentuh . Kak rafanya lucu haha

    ReplyDelete
  3. Berharap ata itu gue. Dan rafa itu seseorang yg udh nun jauh di ugm. Hehehehehe.

    ReplyDelete
  4. tengah membayangkan jika hal itu terjadi padaku. senior yang telah lama diam-diam kuperhatikan. aaah...

    ReplyDelete