Thursday, September 12, 2013

Tak Bisa Dipaksakan

“Hey, kau tuli atau apa? Apa kau mendengar perkataanku?” Tanya seorang perempuan pada lawan bicaranya. Suaranya yang lumayan kencang menarik perhatian orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar mereka.
“Aku dengar, Rena.” Jawab lelaki itu singkat.
Rena sudah tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan pada Dirga. Sudah hampir tiga tahun Dirga mengejarnya. Sudah banyak cara yang Rena lakukan agar Dirga menjauhinya. Semakin Rena menjauhi Dirga, Dirga malah semakin mendekatinya. Semakin Rena membuat Dirga sakit hati, Dirga malah semakin mengejarnya.
“Kau sinting. Apa kau tak punya hati?” Tanya Rena dengan nada seketus mungkin.
“Tentu aku punya. Kalau aku tak punya hati, dengan apa aku mencintaimu?” ucapnya santai.
“Berhentilah berkata cinta. Ku yakin kau sudah gila, Dirga. Apa yang harus aku lakukan agar bisa jauh dariku?” Rena merasa kesabarannya hampir habis.
“Mungkin dengan menghilangkan hatiku.” Jawaban macam apa itu? “Apakah sesulit itu mencintaiku, Ren?” tanyanya tiba-tiba. Aku membulatkan mataku mendengar pertanyaan konyolnya.
“Cinta tak bisa dipaksakan, Dirga.”
“Baiklah. Kalau begitu kau juga tidak bisa memaksaku untuk menjauh darimu atau berhenti mencintaimu.” Rena mati kutu mendengar jawabannya. Senjata makan tuan, batin Rena.
“Terserah kau sajalah. Aku lelah.” Jawab Rena lalu pergi melangkah meninggalkan Dirga cepat-cepat.
“Rena!” teriak Dirga membuat lebih banyak orang lagi yang menengok ke arahnya. “Aku tidak akan menyerah!” ucapnya pantang mundur.
Semoga bisa ku temukan jurus terjitu yang mampu membuatnya berhenti mencintaiku. Ucap Rena dalam hati sambil menundukkan kepalanya menghindari tatapan mata dari orang-orang yang sedari tadi menyaksikan perdebatannya dengan Dirga.


No comments:

Post a Comment