Wednesday, September 18, 2013

Kamulah Alasanku

                Tidak seperti biasanya keheningan mengisi detik-detik yang mereka lewati bersama. Hanya hembusan karbon dioksida yang mengisi kekosongan. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
                “Kenapa baru bilang sekarang?” akhirnya Laras angkat bicara. Rendra menoleh kearahnya, dan menatap kedua bola mata indah Laras lekat-lekat. Sebentar lagi, ia akan segera kehilangan mata indah Laras. Ia tak akan lagi leluasa memandangi kedua bola mata tersebut.
                “Maaf, Laras. Aku takut ga bisa lepasin kamu.” Jawab Rendra jujur. Laras terenyuh mendengar jawaban Rendra. “Bukankah ini maumu? Bukankah ini syarat darimu sebelum aku bisa meminangmu? Kau ingin aku sukses kan?”
                Laras menundukkan kepalanya. Matanya memanas. Benar, memang ia menginginkan Rendra untuk menjadi orang yang sukses. Tetapi kenapa baru sekarang? Kenapa baru sekarang Rendra mengatakannya? Bahwa ia akan berangkat ke Australia untuk melanjutkan S2nya. Esok.
                “Maafin aku, Ras…. Aku sadar aku nyakitin kamu. Kalau aku bisa, akan aku ambil semua rasa sakit yang kamu rasain. Biar aku yang rasain…” ucap Renda tulus sambil menggengam kedua tangan Laras.
                Air mata mengaliri pipi halus Laras. Pertahanannya runtuh. Ia belum siap melepas Rendra. Ia takut.  “Bukankah kamu sendiri yang bilang, kamu ga mau studi ke luar negeri?” Tanya Laras dengan suaranya yang parau menahan tangisan.
                “Itu dulu.”
                “Seingatku kau keras kepala.”
                “Aku punya alasan untuk apa yang akan kulakukan, Ras.” Rendra mempererat genggamannya.  Laras kembali terdiam. Ternyata Rendra masih keras kepala. Tidak mungkin Laras dapat menahan kepergiannya ke negeri kangguru itu.
                “Kau tau, tidak ada seorang pun yang dapat mengubah seseorang.” Ucap Rendra sambil melepas genggamannya lalu menangkup wajah Laras dengan kedua tangannya. “Tapi seseorang, dapat menjadi alasan bagi seseorang untuk berubah. Dan alasanku untuk berubah itu… kamu.”
                Laras dan Rendra bertatapan dalam diam. Berusaha menyelami isi hati mereka masing. Bulir-bulir air mata kembali mengalir dari mata Laras.
                “Bolehkan aku meminta sesuatu padamu?” Tanya Laras tiba-tiba. Rendra hanya memberikan anggukan sebagai jawaban.
                “Berjanjilah kau akan segera kembali. Untukku.”

                “Janji. Untukmu.” Rendra menarik Laras ke dalam pelukannya. Larasnya, Laras yang menjadi alasannya untuk berubah. 

No comments:

Post a Comment