Wednesday, December 4, 2013

Bantu Aku

                Aku sadar aku berusaha memenangkan egoku sendiri. Aku sadar ini sebuah kesalahan besar. Namun, apalagi yang bisa aku lakukan? Hanya mengemis pada seorang pria untuk membuka hatinya padaku dan membantu melupakan sosok pria lain. Ya, egois bukan?

***

                “Bantu aku, Rif…” ucapku dengan suara yang parau menahan suara tangis yang kian pecah. Arif bergeming. Ku lihat otot-otot wajahnya masih tegang.
                “Rif… Kamu… sayang kan… sama aku?” tanyaku terbata-bata sambil menangkup wajahnya dnegan kedua tanganku.
                Otot-otot wajahnya mulai mengendur. Tatapannya begitu sedih. Andai aku bisa membaca pikiranmu…
                “Aku sayang sama kamu, Key…. Tapi…”
                “Jangan tinggalin aku…” potongku cepat sebelum ia melanjutkan kalimatnya. Kurasakan kedua tangan Arif menggenggam tanganku yang masih menangkup wajahnya. Ia melepaskan tanganku dari wajahnya.
                “It’s not that easy to be with someone who doesn’t really love you. Apa gunanya kita bareng, tapi di hati kamu ada orang lain? Apa gunanya, Key?” tanya Arif sambil memandangku lekat-lekat. Perasaan bersalah semakin menyelebungi hatiku. Kau bodoh, Key.
                “Tapi kamu juga mau kita bareng kan?” aku balik bertanya, berusaha mempertahankan hubungan demi keegoisanku.
                “Key…” ucap Arif pelan seolah-olah putus asa. “Jangan paksa hati kamu untuk sayang sama aku saat hati kamu memilih yang lain…”
                “Arif… please…” bulir-bulir air mata kembali membasahi pipiku. Jahatnya aku, bodohnya aku.
                “Bantu aku… aku mau lupain dia. Bantu aku lupain dia… aku mau sayang sama kamu, bantu aku…” pintaku sungguh-sungguh tanpa berani menatap wajah Arif lagi.
                Tiba-tiba Arif menarikku kedalam pelukannya. Saat itu pula ia mencium puncak kepalaku lembut dan tangisku semakin pecah. Dengan tenaga yang masih tersisa, kembali kuucapkan permintaanku.

                “Bantu aku, Rif…”

No comments:

Post a Comment