Wednesday, November 27, 2013

"Pasti."

                “Aku cape, Rik.” Ini adalah kalimat keluhan kesekian kalinya yang keluar dari mulut Dini. Erik masih berusaha untuk tetap sabar mengahadapi Dini yang tak henti-hentinya mengeluh.
                “Dunia tuh ga adil banget tau ga.” Ucap Dini ketus.
                “Sssstt...” desis Erik pelan lalu meletakkan jari telunjuknya ke depan bibir Dini. “Dunia itu adil, karena semua orang merasa tidak adil. Bukankah begitu?” ucap Erik lembut berusaha menenangkan Dini.
                “Tapi, coba kamu bayangin jadi aku yang…” belum sempat Dini melanjutkan kalimatnya, Erik segera memotongnya cepat.
                “Dini, hidup jangan selamanya lihat ke atas. Kalau begitu caranya, kamu ga akan bersyukur. Tapi, jangan selamanya juga lihat ke bawah.” Erik berkata sambil memandang Dini tepat di kedua bola matanya. “Kamu masih punya aku, Din. Aku, kamu, kita… kita bisa sama-sama mewujudkan mimpi kamu itu. Kita masih bisa bahagia, kita masih bisa buat harapan itu jadi nyata.” Jelas Erik panjang lebar tanpa mengalihkan pandangannya pada Dini sedetikpun.
                Dini terenyuh. Tangan menggenggam Erik semakin kuat. “Bantu aku, Rik. Bantu… bantu aku melewati ini…” pinta Dini pelan.

                Tanpa banyak kata, Erik menarik Dini ke dalam pelukannya dan berbisik halus, “Pasti.”

No comments:

Post a Comment