Wednesday, February 19, 2014

Lebih Dari Cukup

                Tempat biasa, jam 8 malam
                Alika membaca pesan yang baru saja ia terima berulang-ulang. Ia mengerti maksud surat itu, sungguh ia mengerti. Tempat biasa yang dimaksud Roy, kekasihnya, adalah lantai paling atas dari gedung apartemen mereka. Alika sungguh mengerti mengapa Roy memintanya untuk menemuinya mala mini, tentu saja, hari ini tepat  hubungan mereka meginjak satu tahun. Yang tidak ia mengerti, mengapa harus malam hari? Mengapa tak saat sore hari? Bukankah menyasikan terbenamnya matahari bersama-sama itu… romantis?

***

                Sepuluh menit sebelum pukul delapan. Alika mematut bayangan dirinya di depan cermin. Memastikan penampilannya sebelum bertemu Roy di hari spesial mereka. Memang belum pukul delapan, tetapi Alika sudah berjalan menuju lantai atas.
                Seketika bulu kuduknya meremang. Gelap, di sana benar-benar gelap. Tak seperti biasanya, lampu-lampu kecil yang ada di atas semuanya padam. Baru saja Alika hendak untuk kembali turun ke apartemennya. Ia mendengar suara itu.
                “Jangan ke mana-mana, Alika…” sungguh, Alika tahu pasti itu suara Roy.
                “Roy, di mana???” tanya Alika sedikit panik, namun Roy tak menjawabnya, membuat Alika semakin panik.
                DUAAARR!
                Suara ledakan yang tidak begitu kencang tiba-tiba terdengar kurang lebih tujuh meter di depan Aiika. Warna warni kembang api terlihat jelas menghiasi langit yang cerah saat itu. Tepat saat itu pula, lampu-lampu kecil yang tadi padam kembali menyala, dan saat itu Alika mampu melihat sosok Roy yang tersenyum lembut ke arahnya dengan jelas.
                “Roy…” Alika tak mampu lagi berkata-kata, ia terlalu bahagia.
                Roy melangkah pelan mendekati Alika. Roy tampak mengambil sesuatu dari kantong celananya, sebuah lipatan kertas, lalu ia memberikan kertas itu pada Alika.
                Alika tampak bingung saat Roy memberi kertas itu, Alika buka lipatan tiap kertas perlahan-lahan lalu…
                “Alika, maukah kau menjadi wanita yang akan mengisi hari-hari tuaku nanti?”
                “Roy…” Alika kembali tak mampu berkata-kata.
                “Maukah?”
                “Apalagi yang bisa aku katakan? Tentu saja, Roy….” Jawab Alika pasti. Spontan Roy langsung memeluk Alika.      
                “Maaf ya, cincinnya baru gambar aja. Belum sempet beli hehehe.” Aku Roy malu.
                “Cuma cincin. It’s more than enough… Apa artinya sebuah cincin mahal jika kamu apa adanya sudah cukup?”

                Roy tersenyum mendengar ucapan Alika dan kembali memeluknya erat. Semua karena cinta.

No comments:

Post a Comment