“Gimana
bro perkembangan lu sama dia?” tanya Daru pada sahabatnya yang sudah lama
menyukai seorang perempuan namun tidak kunjung ia nyatakan.
“Lu
mesti tau deh. Tinggal nunggu waktu deh ini, kita udah deket banget. Udah sama-sama
punya chemistry gitu loh.” Jawab Rama
membanggakan dirinya sendiri.
“Gaya
banget sih bahasa lu. Gue tunggu deh tanggal mainnya.” Daru menantang Rama.
“Siap
deh!”
Saat mereka
masih asyik dengan obrolan mereka, tiba-tiba saja terdengar suara keramaian
dari arah kantin sekolah.
“Terima!
Terima! Terima!” anak-anak berteriak untuk menyoraki seorang perempuan yang
baru saja ditembak dan tampak bingung untuk memberi jawaban.
“Ada
yang lagi nembak?” tanya Rama heran.
“Iya
kali ya, ke sana deh yuk.” Ajak Daru lalu segera beranjak menuju kantin. Dan…
“Indah…
would you be mine?” tanya seorang
lelaki sambil memberikan bunga dan bergaya seolah-olah ia adalah pangeran
berkuda. Daru dan Rama yang baru saja berganbung dengan sumber keramaian itu langsung
terdiam mematung.
“Ram…
Indah, Ram…” ucap Daru pelan sambil menepuk pundak Rama. Rama masih saja
terdiam tanpa menunjukkan reaksi sedikitpun. Tanpa berkata, Rama membalikkan
badannya dan pergi meninggalkan kantin. Rahangnya mengeras, tangannya terkepal.
“Sial!
Keduluan deh gue!” Rama melampiaskan emosinya sambil menonjok tembok yang ada
di sampingnya.
“Bro,
sabar bro…” Daru berusaha menenangkan Rama yang sudah seperti orang kesetanan.
“Gimana
gue bisa sabar? gue keduluan, meeen!”
Daru
bingung bagaimana ia harus menanggapi Rama. Saat mereka sama-sama tediam,
wanita yang menyebabkan Rama mengamuk lewat. Rama menyadari akan kedatangan
Indah, sebelum Indah pergi menjauh, Rama berteriak.
“Indah!”
Daru menoleh kaget pada Rama, apa yang
akan Rama lakukan?
Indah
yang merasa namanya dipanggil pun segera menoleh. Saat mendapati Rama yang
memanggil dirinya, Indah berjalan mendekat. “Kenapa, Ram?” tanyanya lembut.
“Maaf
ya, gue sayang sama lu yang udah punya pacar. Gue cuma mau lu tau, gue bakal
nungguin lu. Sampai lu putus sama dia, dan lu akan nerima gue.” Dengan mudahnya
kata-kata tersebut meluncur dari bibir Rama. Rama langsung meninggalkan Indah
yang masih terdiam heran dan bingung akan perkataan Rama.
Andai gue ga terlambat. Batin Rama dalam
hati merutuki dirinya yang hanya bisa menjadi orang ketiga.
No comments:
Post a Comment