Sampai
kapan aku akan bermimpi?
Kesekian kalinya, aku hanya bisa
menatapnya dalam diam. Memandanginya dari jauh tanpa bisa menyentuh dirinya
lagi. Terserah apa kau bilang, aku
bodoh? Aku tolol? Ya, terserah. Mungkin aku memang begitu. Bagaimana bisa,
seorang pria seperti aku, menyia-nyiakan dirinya? Dengan mudahnya menerima
permintaannya untuk mengakhiri hubungan kami tanpa berusaha mempertahankannya. Ya,
aku bodoh, sangat bodoh.
Lalu apa
yang bisa aku lakukan sekarang selain bermimpi dan berharap bahwa dirinya akan
kembali dalam pelukanku? Menunggu. Aku masih merinduinya, aku masih
mencintainya. Walaupun sekarang, bukan lagi aku yang menjadi pemilik cintanya.
Seperti
yang aku lakukan sekarang, melihatnya tertawa dari kejauhan. Seperti penguntit.
Untunglah kami satu kampus, jadi, dengan mudahnya aku masih bisa bertemu
dengannya walaupun ia tak pernah menegurku. Seolah-olah aku tak pernah ada
dalam hidupnya – setidaknya, masa lalunya.
Tara –
wanita yang masih kucintai itu – tiba-tiba menatap lurus ke arahku,dan… dia tersenyum? Hey, benarkah ia tersenyum? Apa
aku bermimpi? Tara berjalan ke arahku… ia mendekat!!! Tuhan, apa ini jawaban
atas segala penantianku? Kurasakan dada ini berdegup lebih kencang saat
melihatnya lebih dekat. Perasaan ini masih sama, rasa rindu ini masih sama.
Dengan seluruh nyali yang ku punya,
ku beranikan diri untuk kembali menyapanya, melantunkan namanya. Sedetik sebelum
ku membuka mulutku, ku lihat bibirnya tersenyum senang, tersenyum rindu. Namun,
matanya tak menatapku. Ku coba mengikuti arah pandangannya. Ku temukan sosok
lelaki itu, yang mungkin telah memiliki cintanya. Benar, Tara menghampiri
lelaki itu masih dengan senyumnya, yang dulu ia berikan padaku. Namun sekarang?
Ya tentu saja, senyumnya tak lagi untukku.
No comments:
Post a Comment