Mungkin
orang memandangku heran. Mungkin orang menganggapku aneh. Tentu saja, sudah
hampir dua jam aku duduk terdiam di depan sekolah sambil memandangi layar
ponselku. Aku menunggu sesuatu yang tidak pasti. Sudah puluhan orang berlalu
lalang di hadapanku. Sekedar menyapa, berpamitan, atau bahkan bertanya apa yang
sedang aku lakukan. Dan aku hanya menjawab, menunggu.
Ya, kami rombongan panitia LDK sudah
dua jam sampai di sekolah. Bukan, aku bukan menunggu seseorang menjemputku, aku
bukan menunggu seseorang untuk mengantarku pulang. Aku sedang menunggu dua patah kata. Lalu, mengapa aku tak
kunjung pulang? Aku sendiri bingung.
Sekolah sudah semakin sepi. Hampir
seluruh panitia dan peserta LDK sudah pergi meninggalkan sekolah. Tak ada
gunanya pula aku menunggu hal tersebut di sekolah, ia tak akan segera
mengatakan dua patah kata tersebut.
Ku langkahkan kaki dengan lemah untuk meninggalkan sekolah.
Tak butuh waktu lama untukku sampai
di rumah. Segalanya terasa datar tanpa dua
patah kata yang ingin ku baca atau ku dengar darinya. Tentu saja aku lelah,
tetapi aku tak ingin beristirahat hingga aku mendapatkan apa yang sedari tadi ku tunggu. Sayangnya, badan dan keinginanku
tak sejalan. Mataku terlelap begitu saja saat badanku menyentuh kasur. Tanpa ku
sadari, selama tujuh jam aku tertidur.
Aku terbangun di malam harinya.
Dengan segera ku lihat layar ponselku, berharap segera menemukan apa yang sudah
kutunggu.
Nihil.
Percuma. Yang kutunggu tak kunjung
datang. Apa dirinya tak lagi peduli padaku? Atau inginku yang terlalu tinggi?
Tetapi, aku rasa ini tidak berlebihan. Aku hanya menunggu dua patah kata, dua patah kata. Sederhana bukan?
Ku rasa ini akan sia-sia. Kuletakkan
kembali ponsel yang sedari tadi kugenggam. Ku lanjutkan tidurku yang terpotong.
Satu yang kuharapkan saat terbangun nanti, penantianku berakhir.
***
Aku masih menunggu dua patah kata tersebut walaupun ini
sudah hari ketiga. Selama tiga hari ini pula tak henti-hentinya aku memandang
ke arah kelasnya, atau memandang layar ponselku dengan pandangan berharap. Hari
ini, aku duduk di depan kelasku, menunggu dengan tangan menggenggam ponsel dan
pandangan ke arah kelasnya.
“Sar, lagi ngapain?” sebuah
pertanyaan yang sudah sering ku dengar akhir-akhir ini dari orang yang sudah ku
kenal dekat, Anna. Aku tersenyum simpul
melihat Anna mendekat dan duduk di sampingku.
“Menunggu.” Jawabku singkat setelah
dia duduk nyaman disebelahku.
“Menunggu apa? Rey? Kalian belum
bertemu?” tanyanya heran.
Aku menganggukkan kepala pelan
sebelum menjawab pertanyaannya. “Kami belum benar-benar bertemu, aku hanya
melihatnya sekilas. Aku bukan sedang menunggunya, aku sedang menunggu sesuatu
darinya.” Jelasku sambil memandang Anna dengan misterius.
Anna mengernyitkan dahinya, ia
terlihat bingung. “Apa yang kau tunggu darinya?”
“Dua
patah kata.”
“Dua patah kata? Bolehkah aku tahu,
apa dua patah kata itu?”
Belum sempat aku menjawab pertanyaan
Anna, suara berat yang tak asing memanggil namaku pelan. “Sara…”
Dengan cepat aku menoleh ke sumber
suara. Dia… Rey datang menemuiku. Kami bertatapan untuk waktu yang singkat,
namun saat itu waktu terasa berjalan begitu lambat.
“Apa
kabar?”
Tanpa bisa kutahan, sebuah senyum
bahagia terlukis secara otomatis di wajahku. Penantianku berakhir. Dua patah kata tersebut akhirnya kudengar.
Tanpa pikir panjang, ku jawab pertanyaannya dengan senyum yang tak hentinya ku
lemparkan.
“Baik…”
No comments:
Post a Comment