Mungkinkah
kamu tahu isi hatiku? Terkadang mulut ini gatal untuk mengatakan yang
sebenarnya. Tapi apa daya, kita sudah terjebak dan tak bisa lari. Ingatkah,
sudah hampir 10 tahun kita bersahabat. Ya, hanya bersahabat. Apa kamu tak
sadar? Inginku lebih dari itu.
Setiap
kita bersama, aku memandangmu lebih tapi kau hanya memandangku sebagai sahabat,
dan akan tetap sebagai sahabat. Bukankah begitu?
“Yo? Ko
bengong aja sih?” ucapmu tiba-tiba membuyarkan lamunanku. “Makan itu nasi
gorengnya, nanti keburu dingin.” Seperti biasanya, kita selalu menghabiskan
malam minggu bersama. Tetap, hanya sebagai sahabat.
“Eh,
iya… ini di makan nih.” Ucapku sambil mulai menyuap sesendok nasi.
Kembali
pikiran itu datang. Pikiran untuk memilikimu, menjagamu, melindungimu, lebih
dari sahabat. Mungkin salahku yang terlalu pengecut. Hingga akhirnya kita
terjebak dalam sebuah zona, di mana kita hanya bisa bersahabat.
Kembali
mataku memandangimu lekat-lekat. Memandangi setiap senti wajahmu yang sudah ku
kenal lama. Gina, apa kau tidak merasakan hal yang sama denganku? Bukankah kau
juga ingin terus bersamaku?
“Gina.”
Panggilku pelan. Mungkin ini saatnya, aku harus segera mengatakannya.
“Kenapa,
Rio?” tanyamu pelan sambil tersenyum lembut ke arahku.
“Emm…
abis makan kita ke mana?” nyaliku ciut. Kubatalkan niatku untuk mengatakan
semua itu.
“Jalan-jalan
keliling kota aja, kamu mau kan?” ajakmu riang. Aku tak pernah mampu menolak
permintaanmu. Asal bersamamu, aku akan setuju.
Mungkin
memang ini takdirku, takdir kami. Lengkap jika berdua, tapi tak akan bisa
bersatu. Bagaikan sepasang sepatu.
No comments:
Post a Comment