Pages

Wednesday, November 27, 2013

"Pasti."

                “Aku cape, Rik.” Ini adalah kalimat keluhan kesekian kalinya yang keluar dari mulut Dini. Erik masih berusaha untuk tetap sabar mengahadapi Dini yang tak henti-hentinya mengeluh.
                “Dunia tuh ga adil banget tau ga.” Ucap Dini ketus.
                “Sssstt...” desis Erik pelan lalu meletakkan jari telunjuknya ke depan bibir Dini. “Dunia itu adil, karena semua orang merasa tidak adil. Bukankah begitu?” ucap Erik lembut berusaha menenangkan Dini.
                “Tapi, coba kamu bayangin jadi aku yang…” belum sempat Dini melanjutkan kalimatnya, Erik segera memotongnya cepat.
                “Dini, hidup jangan selamanya lihat ke atas. Kalau begitu caranya, kamu ga akan bersyukur. Tapi, jangan selamanya juga lihat ke bawah.” Erik berkata sambil memandang Dini tepat di kedua bola matanya. “Kamu masih punya aku, Din. Aku, kamu, kita… kita bisa sama-sama mewujudkan mimpi kamu itu. Kita masih bisa bahagia, kita masih bisa buat harapan itu jadi nyata.” Jelas Erik panjang lebar tanpa mengalihkan pandangannya pada Dini sedetikpun.
                Dini terenyuh. Tangan menggenggam Erik semakin kuat. “Bantu aku, Rik. Bantu… bantu aku melewati ini…” pinta Dini pelan.

                Tanpa banyak kata, Erik menarik Dini ke dalam pelukannya dan berbisik halus, “Pasti.”

Rindu

                Seperti malam-malam biasanya, hanya ada aku dan laptopku. Mengerjakan segala coding yang membuatku pusing. Twitter? On, facebook? On, email? Ya, available. Aku tahu ini sudah larut, tetapi aku masih ingin mengerjakan coding itu. Ya, walau membuatku pusing. Namun setidaknya, hal ini yang mampu mengalihkan pikiranku darinya. Tidak, aku kembali mengingatnya.
                Ku regangkan tanganku yang sudah mulai terasa pegal. Aku rasa aku butuh sedikit hiburan. Twitter, no new mention. Facebook, no new notification. Email, …  a new email?
                Alright, this new e-mail makes me… miss that jerk. That lucky jerk who still has my heart. He sent me an e-email. Kalian tahu apa yang ia kirimkan melalui e-mailnya? Sebuah video.
                Ku putar video yang ia kirimkan. Perlahan-lahan, muncul sosok dirinya yang sedang memetik gitar dengan lembut. Wajahnya tersenyum teduh ke arah kamera, dan… ia mulai bernyanyi

Tahukah engkau wahai langit
Aku ingin bertemu membelai wajahnya
Kan ku pasang hiasan angkasa yang terindah
Hanya untuk dirinya
Lagu rindu ini kuciptakan
Hanya untuk bidadari hatiku tercinta
Walau hanya nada sederhana
Ijinkan ku ungkap segenap rasa dan kerinduan


                “Aku juga merindukanmu.” Batinku berharap ia akan mendengarnya, walau ku tahu ini mustahil.

Wednesday, November 13, 2013

Tanpa Kata

                Matahari senja yang saat ini menjadi saksi bisu dari cinta sepasang remaja yang saat ini sedang berjalan bersisian. Tanpa ucapan, tanpa sepatah kata. Sepasang remaja itu terus berjalan menelusuri taman, mencari tempat terbaik untuk menyaksikan tenggelamnya sang surya yang segera digantikan bulan.
                Pria itu sadar, wanitanya sudah kelelahan karena mereka terus berjalan. Tanpa kata, pria itu berhenti dan mulai duduk di atas rerumputan hijau. Ia menarik kekasihnya untuk ikut duduk dengannya. Wanita itu tersenyum dan duduk tepat di sebelah pria tersebut.
Tepat setelah wanita itu menemukan posisi duduknya yang nyaman, pria yang berpostur tegap dan gagah itu merangkulkan lengannya. Menarik wanitanya lebih erat ke dalam pelukannya. Tanpa aba-aba, wanita itu menyenderkan kepalanya  ke bahu pria yang paling ia cintai.
Matahari senja melukiskan warna-warna eksotis yang membuat suasana diam merasa terasa begitu tenang, romantis. 3… 2… 1… matahari tenggelam sudah. Warna-warna tersebut digantikan dengan warna gelapnya malam yang mulai datang.

Begitulah mereka menghabiskan waktu berdua, duduk bersisian, tanpa kata, menyelami hati masing-masing dalam diam. Tak butuh banyak kata. Saat kau benar-benar menyayangi seseorang, hanya berdiam di sebelahnya pun sudah membuatmu bahagia. Cinta tak butuh banyak kata.

From Zero to Hero

                Apa mereka pikir aku ini buta atau tuli? Bisa-bisanya mereka membicarakan tentang diriku di depan diriku sendiri. Sekali lagi, di depan mata kepalaku sendiri. Awalnya aku hanya diam saja setiap mereka membicarakan tentang diriku, mengolok-olokku. Kalian tahu apa yang mereka bicarakan? Perempuan-perempuan centil yang menurutku terlihat seperti tante itu tak henti-hentinya membicarakan penampilanku yang look-so-nerd. So what, huh?
                “Coba tuh liat, cewe-cewe di SMA ini mana ada sih yang tampaknya kutu banget gitu?”
                “Ada tau! Coba deh liat tuh liat!” rasanya ingin ku sumpel mulutnya dengan sambel penjual mie ayam di kantin.
                “Ngomongin siapa kalian?” ucapku memberanikan diri. Hey, aku bukannya takut pada mereka, aku hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk menghajar mereka.
                “Eits, look, girls! Someone is talking to us!” ucap salah satu perempuan di geng tante itu.
                “I wanna make it short. Can you just shut your mouth? Can you stop underestimated people?”  ucapku dengan wajah tenang yang membuat mereka kaget setengah mati melihatku berbicara dengan nada ketus namun terlihat tenang. Tidak ada yang menanggapi perkataanku.

                “People that you mocked maybe a zero, but later they’ll be a hero. How about you? From zero to moron?” kataku melanjutkan kalimat sebelumnya dan pergi meninggalkan mereka yang masih terbengong menatapi keberanianku.

Wednesday, October 30, 2013

Listen to Her

“Terus mau kamu sekarang apa?” tanya perempuan yang mulai kehabisan kesabarannya itu.     
“Please, stay here.” Pinta lelaki yang menjadi lawan bicaranya bersungguh-sungguh.
                “Gampang ya kamu ngomong gitu? Aku udah ga tahan, Ris. Aku cape…” suara wanita itu mulai terdengar parau. Ia berusaha menahan air matanya yang sudah memaksa untuk ke luar.
                “Aku salah apa sih sama kamu? Tara, tolong jelasin ke aku.” Pinta lelaki yang bernama Haris sekali lagi.
                “Pikir sendiri.” Jawab Tara ketus.
                “Aku bukan mentalist yang bisa baca pikiran kamu, Tara.” Tara terdiam mendengar jawaban Haris. Ia menarik napasnya berkali-kali, berusaha menenangkan dirinya sendiri.
                Melihat Tara yang tak kunjung membuka mulut lagi, Haris kembali bertanya, “aku salah apa?”
                “Kamu pikir aku apa sih, Ris? Aku cuma minta kamu buat dengerin aku… gampang kan? Kamu sadar apa yang kamu lakuin kalau aku udah ngomong?” Tara gagal menahan emosinya. Kali ini Haris yang terdiam.
                “Ga sadar? Kamu ga sadar, Ris? Kamu dengan kencangnya ngebentak aku, nyuruh aku diem. Apa salah seorang perempuan cerita tentang hari-harinya sama pacarnya sendiri? Salah? Aku ngerasa kamu itu, bukan Haris-nya-aku. Kamu emang bukan buat aku.” Jelas Tara, air mata mulai mengalir dari mata beningnya.
                “Tar…”
                “Sebentar, aku belum selesai.” Ucap Tara tegas membuat Haris menghentikan niatnya untuk berbicara. Tolong, aku ingin didengar, sekali saja, saat ini saja. Oke?” pinta Tara sungguh-sungguh lalu menarik napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya.                             

                “Kamu ga tau gimana rasanya jadi aku, Ris. Sorry, I’m done believing you. No more us. Ga peduli apa maumu sekarang, walaupun aku sekarang ga tau arah tujuanku… I’ll move on. Thank you for everything, Haris. We are done.” Tepat setelah Tara menyelesaikan kalimatnya, Tara melengkah tegas meninggalkan Haris yang masih terdiam, Haris yang tak mampu menahan kepergiannya, Haris yang saat ini hanya mampu menyesali apa yang dahulu tak ia lalu, padahal hanya hal sederhana. Listen to her.

Senyumnya Tak Lagi Untukku

Sampai kapan aku akan bermimpi?       
Kesekian kalinya, aku hanya bisa menatapnya dalam diam. Memandanginya dari jauh tanpa bisa menyentuh dirinya lagi.  Terserah apa kau bilang, aku bodoh? Aku tolol? Ya, terserah. Mungkin aku memang begitu. Bagaimana bisa, seorang pria seperti aku, menyia-nyiakan dirinya? Dengan mudahnya menerima permintaannya untuk mengakhiri hubungan kami tanpa berusaha mempertahankannya. Ya, aku bodoh, sangat bodoh.
                Lalu apa yang bisa aku lakukan sekarang selain bermimpi dan berharap bahwa dirinya akan kembali dalam pelukanku? Menunggu. Aku masih merinduinya, aku masih mencintainya. Walaupun sekarang, bukan lagi aku yang menjadi pemilik cintanya.
                Seperti yang aku lakukan sekarang, melihatnya tertawa dari kejauhan. Seperti penguntit. Untunglah kami satu kampus, jadi, dengan mudahnya aku masih bisa bertemu dengannya walaupun ia tak pernah menegurku. Seolah-olah aku tak pernah ada dalam hidupnya – setidaknya, masa lalunya.
                Tara – wanita yang masih kucintai itu – tiba-tiba menatap lurus ke arahku,dan… dia tersenyum? Hey, benarkah ia tersenyum? Apa aku bermimpi? Tara berjalan ke arahku… ia mendekat!!! Tuhan, apa ini jawaban atas segala penantianku? Kurasakan dada ini berdegup lebih kencang saat melihatnya lebih dekat. Perasaan ini masih sama, rasa rindu ini masih sama.

Dengan seluruh nyali yang ku punya, ku beranikan diri untuk kembali menyapanya, melantunkan namanya. Sedetik sebelum ku membuka mulutku, ku lihat bibirnya tersenyum senang, tersenyum rindu. Namun, matanya tak menatapku. Ku coba mengikuti arah pandangannya. Ku temukan sosok lelaki itu, yang mungkin telah memiliki cintanya. Benar, Tara menghampiri lelaki itu masih dengan senyumnya, yang dulu ia berikan padaku. Namun sekarang? Ya tentu saja, senyumnya tak lagi untukku.

Wednesday, October 23, 2013

We Have The Good One

                “Kamu kenapa sih, Nam?” Albi tak berhenti bertanya pada Nami.
                “Aku ga apa-apa, Albi.” Berulang kali pula Nami menjawab pertanyaan Albi dengan jawaban yang sama. Tetap saja Albi bersikeras untuk mendapat jawaban yang sesungguhnya dari Nami.
                “Nami, liat gue.” Perintah Albi, namun Nami tetap saja memandang lurus ke depan. “Naaam…” panggil Albi sekali lagi. Mau tak mau, akhirnya Nami pun menoleh dan memandang Albi.
                “Kita kenal ga baru tiga hari, tapi tiga tahun. Dan gue tahu lu banget. Lu kenapa?” tanya Albi sungguh-sungguh dengan suaranya yang tenang. Nami menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya seolah-olah seluruh masalahnya akan ikut terbuang. Namun, Nami tetap terdiam.
                “Ok, gue ga maksa lu buat cerita. Tapi, semangat dong! Besok ulang tahun lu kan? Jangan cemberut dong!” ucap Albi berusaha menyemangati Nami. Nami hanya mampu tersenyum kecut. Bukannya tak ingin membagi kesedihannya, ia hanya belum sanggup untuk bercerita.
                “Nami… Tahu kenapa kita bisa sedih? Tahu kenapa kita bisa ngerasain yang namanya bad day?” tanya Albi sambil memandang kedua bola mata Nami.
                “Kenapa?” Tanya Nami singkat sambil balas memandang Albi.   
“Karena kita tahu rasanya bahagia, bad day reminds us that we have the good one. Hidup itu butuh keseimbangan, ada saatnya kita bahagia ada saatnya kita sedih. Kita hanya harus selalu bersyukur.” Jelas Albi sambil tersenyum.
                Akhirnya, seulas senyum tulus terlukis di wajah Nami. “Albi…” belum sempat Nami mengucapkan terimakasih, tiba-tiba saja Albi beranjak dan mulai berlari sambil berteriak. “Kalo bisa ngejar gue, gue penuhin semua kemauan lu besok!”
                “Bener??!” tanya Nami setengah berteriak.

                “IYAAA.” Tanpa aba-aba, Nami pun ikut berlari mengejar Albi. Sejenak, ia berhasil melupakan keresahannya. Kata-kata yang Albi lontarkan senantiasa terngiang di telinganya, bad day reminds us that we have the good one