“Aku
cape, Rik.” Ini adalah kalimat keluhan kesekian kalinya yang keluar dari mulut
Dini. Erik masih berusaha untuk tetap sabar mengahadapi Dini yang tak
henti-hentinya mengeluh.
“Dunia
tuh ga adil banget tau ga.” Ucap Dini ketus.
“Sssstt...”
desis Erik pelan lalu meletakkan jari telunjuknya ke depan bibir Dini. “Dunia
itu adil, karena semua orang merasa tidak adil. Bukankah begitu?” ucap Erik lembut
berusaha menenangkan Dini.
“Tapi,
coba kamu bayangin jadi aku yang…” belum sempat Dini melanjutkan kalimatnya,
Erik segera memotongnya cepat.
“Dini,
hidup jangan selamanya lihat ke atas. Kalau begitu caranya, kamu ga akan
bersyukur. Tapi, jangan selamanya juga lihat ke bawah.” Erik berkata sambil
memandang Dini tepat di kedua bola matanya. “Kamu masih punya aku, Din. Aku,
kamu, kita… kita bisa sama-sama mewujudkan mimpi kamu itu. Kita masih bisa
bahagia, kita masih bisa buat harapan itu jadi nyata.” Jelas Erik panjang lebar
tanpa mengalihkan pandangannya pada Dini sedetikpun.
Dini
terenyuh. Tangan menggenggam Erik semakin kuat. “Bantu aku, Rik. Bantu… bantu
aku melewati ini…” pinta Dini pelan.
Tanpa banyak
kata, Erik menarik Dini ke dalam pelukannya dan berbisik halus, “Pasti.”
No comments:
Post a Comment