“Hey, kau tuli atau apa? Apa kau
mendengar perkataanku?” Tanya seorang perempuan pada lawan bicaranya. Suaranya yang
lumayan kencang menarik perhatian orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar
mereka.
“Aku dengar, Rena.” Jawab lelaki
itu singkat.
Rena sudah tidak tahu lagi apa yang
harus ia lakukan pada Dirga. Sudah hampir tiga tahun Dirga mengejarnya. Sudah banyak
cara yang Rena lakukan agar Dirga menjauhinya. Semakin Rena menjauhi Dirga,
Dirga malah semakin mendekatinya. Semakin Rena membuat Dirga sakit hati, Dirga
malah semakin mengejarnya.
“Kau sinting. Apa kau tak punya
hati?” Tanya Rena dengan nada seketus mungkin.
“Tentu aku punya. Kalau aku tak
punya hati, dengan apa aku mencintaimu?” ucapnya santai.
“Berhentilah berkata cinta. Ku yakin
kau sudah gila, Dirga. Apa yang harus aku lakukan agar bisa jauh dariku?” Rena
merasa kesabarannya hampir habis.
“Mungkin dengan menghilangkan
hatiku.” Jawaban macam apa itu? “Apakah sesulit itu mencintaiku, Ren?” tanyanya
tiba-tiba. Aku membulatkan mataku mendengar pertanyaan konyolnya.
“Cinta tak bisa dipaksakan, Dirga.”
“Baiklah. Kalau begitu kau juga
tidak bisa memaksaku untuk menjauh darimu atau berhenti mencintaimu.” Rena mati
kutu mendengar jawabannya. Senjata makan
tuan, batin Rena.
“Terserah kau sajalah. Aku lelah.” Jawab
Rena lalu pergi melangkah meninggalkan Dirga cepat-cepat.
“Rena!” teriak Dirga membuat lebih
banyak orang lagi yang menengok ke arahnya. “Aku tidak akan menyerah!” ucapnya
pantang mundur.
Semoga
bisa ku temukan jurus terjitu yang mampu membuatnya berhenti mencintaiku. Ucap
Rena dalam hati sambil menundukkan kepalanya menghindari tatapan mata dari
orang-orang yang sedari tadi menyaksikan perdebatannya dengan Dirga.
No comments:
Post a Comment