Tidak
seperti biasanya keheningan mengisi detik-detik yang mereka lewati bersama. Hanya
hembusan karbon dioksida yang mengisi kekosongan. Mereka sibuk dengan
pikirannya masing-masing.
“Kenapa
baru bilang sekarang?” akhirnya Laras angkat bicara. Rendra menoleh kearahnya,
dan menatap kedua bola mata indah Laras lekat-lekat. Sebentar lagi, ia akan
segera kehilangan mata indah Laras. Ia tak akan lagi leluasa memandangi kedua
bola mata tersebut.
“Maaf,
Laras. Aku takut ga bisa lepasin kamu.” Jawab Rendra jujur. Laras terenyuh
mendengar jawaban Rendra. “Bukankah ini maumu? Bukankah ini syarat darimu
sebelum aku bisa meminangmu? Kau ingin aku sukses kan?”
Laras
menundukkan kepalanya. Matanya memanas. Benar, memang ia menginginkan Rendra
untuk menjadi orang yang sukses. Tetapi kenapa baru sekarang? Kenapa baru
sekarang Rendra mengatakannya? Bahwa ia akan berangkat ke Australia untuk
melanjutkan S2nya. Esok.
“Maafin
aku, Ras…. Aku sadar aku nyakitin kamu. Kalau aku bisa, akan aku ambil semua
rasa sakit yang kamu rasain. Biar aku yang rasain…” ucap Renda tulus sambil
menggengam kedua tangan Laras.
Air
mata mengaliri pipi halus Laras. Pertahanannya runtuh. Ia belum siap melepas
Rendra. Ia takut. “Bukankah kamu sendiri
yang bilang, kamu ga mau studi ke luar negeri?” Tanya Laras dengan suaranya
yang parau menahan tangisan.
“Itu
dulu.”
“Seingatku
kau keras kepala.”
“Aku
punya alasan untuk apa yang akan kulakukan, Ras.” Rendra mempererat genggamannya.
Laras kembali terdiam. Ternyata Rendra
masih keras kepala. Tidak mungkin Laras dapat menahan kepergiannya ke negeri
kangguru itu.
“Kau
tau, tidak ada seorang pun yang dapat mengubah seseorang.” Ucap Rendra sambil
melepas genggamannya lalu menangkup wajah Laras dengan kedua tangannya. “Tapi
seseorang, dapat menjadi alasan bagi seseorang untuk berubah. Dan alasanku
untuk berubah itu… kamu.”
Laras
dan Rendra bertatapan dalam diam. Berusaha menyelami isi hati mereka masing. Bulir-bulir
air mata kembali mengalir dari mata Laras.
“Bolehkan
aku meminta sesuatu padamu?” Tanya Laras tiba-tiba. Rendra hanya memberikan
anggukan sebagai jawaban.
“Berjanjilah
kau akan segera kembali. Untukku.”
“Janji.
Untukmu.” Rendra menarik Laras ke dalam pelukannya. Larasnya, Laras yang menjadi
alasannya untuk berubah.
No comments:
Post a Comment