“Sudah berapa tahun ya?” tanya
lelaki berbadan tegap itu tiba-tiba pada wanta yang saat ini sedang asyik
membaca majalah di sebelah.
“Apanya yang sudah berapa tahun?”
tanya wanita itu setelah meletakkan majalah yang ia baca di atas coffee table.
Lelaki itu memandang wanita di
sampingnya lekat-lekat lalu tersenyum., “kita bareng.”
Tanpa sadar, wanita itu ikut
tersenyum mendengar perkataan laki-laki itu. Dirasakan wajahnya mulai
menghangat, pasti semburat kemerahan terlihat di wajahnya.
“Emmm, berapa ya?” tanya wanita
itu terlihat mulai menghitung dengan jari-jarinya.
Alih-alih membantu wanitanya
menghitung, lelaki itu malah menggenggam tangan wanitanya dan memintanya untuk
berhenti menghitungi sudah berapa lama mereka bersama.
“Belum selesai ngitung!” protes
wanita itu.
“Lupain aja.”
“Ha?” terlihat jelas wanita itu
tampak kaget. Apa kata lelakinya barusan? Lupain? Melihat reaksi wanitanya yang begitu kaget
karena kalimatnya, lelaki itu tertawa kecil dan kembali berkata.
“Love is not about how many
days, months, or years you’ve been together. Love is about how much you love
each other everyday.”
Wanita itu terdiam mendengar
lelaki yang selama ini bersama dirinya mampu mengucapkan kata-kata manis
seperti itu.
“Lucu deh kamu, merah tuh
wajahnya.” Ucap lelaki itu sambil mencubit hidung wanitanya pelan.
“Ihh!” wanita itu tidak
benar-benar kesal, ia hanya merajuk sambil memukul lengan kokoh lelakinya
pelan.
“Aku, akan selalu sama kamu, till death do us part.” Perkataan manis
lainnya dari lelaki itu.
Tak mampu lagi berkata-berkata,
wanita itu hanya memeluk erat lelakinya, seperti tak ingin dipisahkan, seperti
tak ingin dilepaskan.
“Te quiero, mi querida.” Aku mencintaimu, sayangku. Bisik lelaki
itu pelan.
“Te
quiero, mi querido.” Aku mencintaimu, sayangku.
No comments:
Post a Comment