Hujan
kembali mengguyur kota itu tanpa ampun. Adrian memang tak pernah membenci
hujan, ia selalu suka hujan. Suara rintik yang begitu menenangkan, bau tanah
yang semerbak karena tersiram air hujan yang menyejukkan, ia mencintai segala
sesuatu tentang hujan. Termasuk pemandangan yang ia lihat saat ini, seorang
wanita tak berpayung yang tampak dengan santainya berjalan di tengah rintik
hujan.
Mata
Adrian tak sedetik pun melepaskan pandangan pada wanita berambut sebahu itu.
Awalnya wanita itu tampak bingung, namun tiba-tiba wajahnya berbinar. Apa yang
baru ia temukan? Pikir Adrian. Wanita itu melangkah dengan pasti. Ah, Adrian
sadar… wanita menemukan café ini sebagai tempat meneduh, café yang sedang
Adrian tempati.
Pelayan
yang berjaga di depan pintu member salam dan tersenyum sopan pada wanita yang
sedari tadi Adrian pandangi. Wanita itu memilih tempat dekat dengan jendela,
tepat di meja sebelahnya, meja bernomor 27. Tak henti-hentinya Adrian
memandangi wanita itu, berusaha menelusuri tiap jengkal wajah wanita yang baru
ia lihat saat hujan turun.
Seperti
sadar dipandangi, wanita itu menoleh ke arahnya dengan tatapan bingung. Adrian
yang tertangkap basah sedang menatapi dirinya tak mampu berkutik. Wanita itu
tersenyum lembut melihat Adrian yang nampak kaget tertangkap basah olehnya.
“Suka
kopi?” tanya wanita itu tiba-tiba sambil memandang Adrian lekat-lekat.
Adrian
menganggup mantap lalu berkata, “dan hujan.” sambil melemparkan senyum
terbaiknya dan beranjak untuk duduk di sebelah wanita itu.
Empat hal
penting bagi Adrian hari ini. Senyuman, dua cangkir kopi, hujan, dan wanita
yang baru ia jumpai yang selanjutnya ia panggil, Lluvia. Hujan.
No comments:
Post a Comment