Suara dentingan piano memenuhi seisi ruangan
pribadi Anna. Dengan lincah jari-jarinya melompat dari satu tuts ke tuts lain.
“Anna? Ada
tamu tuh di depan.” Suara teman satu flat
Anna berhasil menghentikan permainan pianonya. Anna menoleh.
“Siapa?
Oke bentar lagi aku ke depan.” Jawab Anna sambil membereskan lembaran music sheets yang berserakan.
“Aku
baru pertama kali liat dia. Mungkin, temen lamamu, Na.”
Anna
mengangguk, “sip, makasi ya.”
Dengan
santai ia melangkahkan kakinya menuju ruang tamu yang ada di lantai bawah. Ia terdiam
saat melihat siapa tamu yang dimaksud. Sosok itu… Pria yang dulu harus ia
relakan… Pria yang dulu sangat dicintainya… atau bahkan sampai sekarang? Bukankah
ia sudah…
“Anna…”
suara yang sudah tidak lama Anna dengar kembali mengucapkan namanya. Betapa ia
merindukan sosok pria itu.
“Hey…
Arif…” balas Anna dengan suara pelan. Arif tersenyum lembut melihat Anna berjalan
mendekat. Anna pun duduk di hadapan Arif. Hening. Mereka sibuk dengan
pikirannya maisng-masing.
Aku merindukanmu. Ingin rasanya Anna
mengucapkan hal itu.
“Apa
kabar, Na?” Tanya Arif membuyarkan lamunan Anna.
“Baik. Ka…
kamu gimana?”
Arif
tersenyum simpul. “Baik”. Jawabnya singkat.
Lagi-lagi, keheningan menyelebungi
mereka. Bukankah dulu mereka tidak pernah kehabisan topik untuk dibicarakan? Apakah
Arif sudah melupakan kenangan-kenangannya bersama Anna dulu? Mengapa mereka
secanggung ini?
“Ada apa ke sini, Rif?” akhirnya
Anna memberanikan diri untuk bertanya.
Tiba-tiba Arif mengeluarkan amplop
coklat keemasan dari tasnya. Sebuah undangan pernikahan. Dengan tangan gemetar
Anna menerimanya.
“Dateng ya, Na…” pinta Arif. Anna
hanya terdiam menatapi undangan yang saat ini digenggamannya.
“Yaudah, aku cuma mau nganter itu. Aku
pulang dulu ya.” Arif berdiri dan berjalan meninggalkan ruang tamu.
“Rif..” panggil Anna pelan namun
berhasil menghentikan langkah Arif. Arif menoleh tanpa bisa membaca ekspresi Anna.
“Tolong, jangan lupakan aku… Aku
selalu mendoakan yang terbaik untukmu.” Ucap Anna dengan sekuat tenaga menahan
air mata yang sudah memaksa untuk keluar.
Arif terdiam untuk beberapa saat
lalu tersenyum sarat makna. “Terima kasih.” Lalu ia pun pergi meninggalkan Anna
yang tak lagi mampu menahan air matanya.
bagus ko . Sangat menyentuh hati tapi kenapa tentang pernikahan kan kita masih SMA?
ReplyDeletesangat menyentuh :3
ReplyDeletesumpah ini tuh menyentuh hati bgt. rani cepetan liris buku ya :')
ReplyDeletesabar yaaa anna :')
ReplyDeleteditunggu novelnya :)
ReplyDeletearifnya jahat :'(
ReplyDeleteAku Secret Admirer kamu loh diem-diem :o
ReplyDeletegatau harus ngomong apa.....
ReplyDeleteSist, lain kali bikin yg tentang pengagum rahasia dong:) Aku pasti baca itu, semangat yaaa sist!
ReplyDeleteiya setujusetujuuu
DeleteBIKIN SEQUEL!!!
ReplyDeletetentang secret admirer dong :))
ReplyDeletejempoooolll
Delete