Malam itu, seorang lelaki berpostur
tegap, yang tak lain adalah Rey, menunggu sahabatnya di sebuah kedai kopi. Baru
beberapa menit ia duduk, ia menangkap sosok yang ditunggunya. Tetapi… Joe,
sahabat Rey, tidak sendiri.
“Rey!” panggil Joe penuh semangat.
Joe merasakan sarafnya menegang
melihat sosok yang datang bersama Rey. Sisca.
Seseorang yang tiba-tiba meninggalkannya di masa lalu, tanpa alasan. Ia memaksakan
seulas senyum untuk Joe.
“Maaf bro, gue telat.” Ucap Joe.
“Oh, iya. Santai aja.” Rey berusaha
bersikap setenang mungkin.
“Eh, maaf lagi nih. Gue ga bisa
lama-lama. Gue ada janji.”
“Janji apa?” Tanya Rey singkat lalu
mencuri pandang ke arah wanita anggun berambut hitam legam sebahu yang duduk di
sebelah Joe.
“Gue belum cerita? Gue mau ke rumah
orang tua tunangan gue. Kita mau ngomongin tanggal pernikahan.” Jelas Joe tanpa
ia sadari membuat Sisca menyembunyikan wajahya dari Rey. Dahi Rey berkerut
samar. Belum sempat Rey menanggapi, Joe melanjutkan kalimatnya.
“Rey, ini Sisca, tunangan gue. Sis,
ini Rey sahabat aku itu.” Joe mengenalkan kedua orang yang sebenarnya sudah
saling mengenal. Mereka bersalaman, canggung. Rey merasakan rahangnya mengeras.
Amarah, kecewa, dan kesedihan bercampur aduk.
“Yaudah, gue duluan, bro!” Joe berdiri dari tempat duduknya
sambil menggenggam tangan Sisca. Sisca tidak mampu menatap wajah Rey. Ia terlalu
takut.
Pasangan itu pun pergi meninggal
Rey yang masih terdiam tak percaya. Apakah Sisca sadar? Sejak kepergiaannya,
hidup Rey tak lagi sama. Ia berusaha menikmati kesendiriannya dengan luka yang
tak akan bisa sembuh. Sungguh, Rey masih menyayangi Sisca.
Not bad laaah
ReplyDelete