Perpisahan
sering dikaitkan dengan hal-hal menyedihkan atau menyakitkan. Padahal, tak
selamanya perpisahan itu menyedihkan. Namun, perpisahan yang mereka rasakan ini
memang menyedihkan, menyakitkan. Bukan perpisahan yang mereka inginkan. Perpisahan
yang menyedihkan. Saat pihak-pihak yang ada ingin bersama, tapi keadaan berkata
lain.
Nadya
hanya bisa memandangi Naren dari jauh saat ini, entah sampai kapan. Naren
tampak tak berubah, ia masih tertawa seperti biasa. Apa Naren memang baik-baik
saja? Karena Nadya tidak, ia tersiksa. Kata-kata yang Naren sampaikan sebelum
akhirnya mereka berpisah terus terngiang.
“Sela-sela jarimu
diciptakan bukan hanya agar orang lain bisa mengisi sela-sela itu, tapi artinya
kamu juga bisa menggenggam dirimu sendiri, kamu bisa berkembang sendiri, kamu
bisa mengurus dirimu sendiri. Bisa ya tanpa aku?”
Nadya
tersenyum sedih. Entah sampai kapan ia bisa bertahan. Ia belum bisa, dan
mungkin takkan pernah bisa, merelakan Naren. Khayalan Nadya melambung ke masa
lalu. Ke masa-masa di mana ia dan Naren masih bersama, mengukir harapan
bersama, melakukan hal-hal konyol bersama. Air mata Nadya terjatuh lagi, ia
terlalu merindukan Naren. Di sela tangisannya ia berharap.
Tuhan, aku ingin bersama Naren.
No comments:
Post a Comment