I almost forget how it feels of
being waited by someone. I almost forget how it feels of being together with
the loved one. I almost forget how it feels to be home. But now, I’m here. In a
place I call home.
***
Sudah
lima tahun aku tak merasakan lembutnya pasir, deruan ombak, dan semilir angin
di pantai Nusa Dua ini. Tempat yang sudah mengukir banyak kenangan masa kecilku,
tempat aku menunggu terbit dan terbenamnya matahari. Dan tempat aku bertemu
matahariku, seorang lelaki yang tak ku tahu namanya, namun sudah sangat
kukenal kebiasaannya. Menunggu datang dan perginya matahari di tempat yang
sama. Sejak ku tahu kebiasaannya itu, aku mulai menyebutnya dengan sebuah nama,
Matahari.
Pagi
ini, aku kembali menjalani kebiasaan yang sangat kurindukan. Entah karena hati kecilku
yang terlalu berharap lelaki yang kusebut Matahari itu akan datang ataukah ini
memang kenyataan, aku melihatnya. Aku
kembali melihatnya. Ia berjalan mendekati bibir pantai dan membiarkan
jari-jari kakinya disentuh oleh air pantai yang sejuk itu. Awalnya aku mulai
ragu, apa benar ia Matahari yang sama? Aku masih memandanginya, berusaha
mencari bukti bahwa itu memang dirinya. Mungkin ia sadar sedang diperhatikan,
tiba-tiba ia menoleh dan tatapan kami bertemu sepersekian detik sebelum
akhirnya ia kembali menatap langit yang sudah mulai memerah.
Saat
itu pula kurasakan jantungku berdegup kencang, aku yakin, itu dirinya, itu
Matahari. Aku benar-benar mengenal wajahnya. Rahangnya yang terlihat begitu
kokoh, bibir tipisnya yang diperindah dengan hidung mancungnya, dan alis tebal
yang menemani kedua matanya yang terlihat sedikit sayu. Aku seolah-olah lupa
dengan tujuan awalku, bukannya menatap langit, aku malah terus menatapinya.
Mungkin aku tak bisa benar-benar menyaksikan bagaimana matahari terbit hari
ini, namun yang pasti, aku berhasil melihatnya kembali.
***
“Tumben
sekali kau ke sini, Senja. Ada apa?” tanya Ibuku sedikit kaget melihat
kedatanganku siang ini ke De Opera, salah satu beach club ternama di Bali yang dikelola oleh Ayah dan Ibuku.
“
I miss you so much, so I decided to spend my afternoon here, before I go to the
beach to see sunset that I always love.” Jelasku panjang lebar setelah
memeluk dan mengecup pipi Ibuku.
“Oh
honey, I miss you more. But sorry, Ibu tak bisa temani kamu siang ini. I have something to do. But I promise, tonight we will have dinner
together at Hong Xing, with your dad
and brother.”
“Seriously?”
Aku tak pernah sesenang ini, aku begitu merindukan makan malam bersama
keluargaku. Ibu mengangguk mantap dan aku kembali memeluknya. Ibu pamit untuk
mengerjakan hal-hal yang terkait dengan beach
clubnya ini.
Aku memilih untuk berkeliling menikmati
keindahan yang disajikan De Opera. Suasana yang disajikan begitu nyaman
sehingga aku sempat berpikir untuk tak akan meninggalkan De Opera. Aku sangat
bangga pada Ibu yang dengan sukses mengelola De Opera hingga menjadi salah satu
beach club ternama di Bali
***
Sore
ini, sengaja aku memilih tempat yang biasa Matahari duduki. Sedikit nekat
mungkin, tetapi aku merasa… harus lebih mengenalnya. Aku ingin tahu siapa
sebenarnya lelaki yang ku sebut Matahari itu.
“Hmmm…
sorry, may I sit here? I mean here, umm…
next to you.” Aku menoleh cepat mendengan seseorang berbicara. DEG! Matahari. Taktikku berhasil.
“Oh,
hmm… yes.” Jawabku sok cuek. Lalu ia
duduk di sebelahku dalam diam. “Sorry,
you usually sit here, don’t you? Maaf ya, aku pikir ini tempat yang pas
untuk melihat sunset.” Jelasku asal.
“It’s
ok.” Jawabnya singkat. Hening. Kami sibuk dengan pikiran kami
masing-masing, ku lihat ia sibuk memandangi matahari yang kian turun. Aku
memainkan pasir digenggamanku sambil sesekali meliriknya.
“Jadi…
kenapa kamu selalu duduk di sini?” tanyaku berusaha membunuh keheningan yang
mulai membuatku mati gaya.
Dia
menoleh dan menatapku sebentar, ia tampak berpikir sebelum menjawab
pertanyaannya. “Kebiasaan sejak kecil. My
mom and I used to sit here, together, saw sunrise or sunset.” Jawabnya lalu
diakhiri senyum yang tampak… sedih?
“Apa
kamu… ga pernah ke sini lagi sama Mamamu?” tanyaku sedikit ragu.
Ia
kembali terlihat berpikir. “She passed
away. Heart attack, seven years ago.”
Aku
kian merasa bersalah karena telah menanyakan pertanyaan bodoh itu. “Ah.. maaf.
Aku… tidak tahu kalau…” belum aku selesai meminta maaf, ia sudah memotong
kalimatku.
“It’s ok, seriously. Itu udah lama
banget.” Jawabnya sambil tersenyum ramah. Ia tak sedingin yang aku bayangkan. Aku
menyadari hal baru dalam dirinya, matanya berwarna coklat, dan senyumnya begitu
meneduhkan.
“Fajar.”
Ucapnya tiba-tiba sambil mengulurkan tangan. “Aku Fajar.” Ucapnya sekali lagi.
Tanpa
ragu aku balas uluran tangannya dan menyebutkan namaku, “Senja.” Setelah
perkenalan singkat dengan Matahari yang ternyata bernama Fajar, kami
menyaksikan matahari terbenam bersama sore itu. Saat itu pula, kami memutuskan
untuk kembali bertemu esok pagi, saat terbitnya matahari, di tempat yang biasa
ia duduki. Happiness is when I finally
know his name.
***
“Dad!”
aku berseru kencang saat melihat Ayahku lalu berlari untuk segera memeluknya. “Finally, kita bisa makan malam bersama
lagi.”
Ayahku
mengecup puncak kepalaku lembut. “We
better go now, Ayah udah minta sahabat Ayah untuk booking tempat untuk kita. Untunglah Ayah meneleponnya lebih cepat,
katanya hari ini Hong Xing sedang ramai-ramainya.”
“You’re the best, Dad! And… look!” aku
kembali berseru kencang melihat sosok laki-laki tampan yang tak lain adalah
adikku, Nara. “Five years is a long time,
huh? Adik lelakiku ini kenapa tampan sekali?” tanyaku terkagum-kagum
memandangnya. Jika aku bukan kakaknya, mungkin saja aku jatuh cinta pada Nara,
hahaha.
“And you look stunning, Senja.” Ucapnya
balik memuji. Kami hanya berbeda dua tahun, jadi ia tetap memanggilku dengan
panggilan Senja. Aku menyukai dan sangat merindukan hubungan persaudaraan kami
yang kadang diwarnai dengan sedikit perselisihan, hal biasa.
Setelah
sedikit senda gurau, akhirnya kami berangkat menuju Hong Xing. Sesampainya di Hong
Xing, salah satu pelayannya yang ramah mengantarkan kami ke meja yang telah
disiapkan. Benar saja, Hong Xing tampak ramai. Cahaya lampu oranye membuat
suasana kian hangat. Kami memercayakan pilihan makanan malam ini pada Ayah,
Ayah mengatakan ia tahu makanan terenak di Hong Xing.
“Long time no see, Hari.” Suara berat
yang begitu tenang menyapa Ayahku.
“My brother, Dio!” aku biasa memanggilnya
Om Dio, sahabat Ayah sejak kuliah yang juga pemilik Hong Xing. Karena kedekatan
mereka, Ayah sudah menganggap Om Dio seperti saudara sendiri.
“Is she Senja?” tanya Om Dio pada Ayahku.
Ayahku menganggup dan aku hanya tersenyum. “Sudah dewasa ya, Senja. Kapan
pulang dari Itali?” tanya Om Dio.
“Baru
tadi malam sampai sini, Om.” Jawabku ramah.
“Sebenarnya
aku sudah mengajak putraku yang seumuran dengan Senja untuk ke sini, tapi dia
tidak mau, yasudahlah. Bagaimana kalau minggu depan keluargamu dan keluargaku
makan bersama di sini?” ajak Om Dio. Aku tak pernah tahu bahwa Om Dio memiliki
anak yang seumuran denganku, bagaimana bisa aku tidak mengetahuinya padahal
sejak dahulu aku sudah mengenal Om Dio?
“Ide bagus.” Jawab Ayah singkat.
“Akan ku ajak istriku, kau pasti
masih ingat dengan istriku, Asti, kan?” tanya Om Dio pada Ibuku.
“Tentu saja, dia wanita yang sangat
ramah.” Aku Ibu jujur.
“Baiklah kalau begitu, silahkan
nikmati hidangannya. Saya tinggal dulu.” Pamit Om Dio lalu beranjak
meninggalkan kami.
Tak lama kemudian, pesanan kami
datang. Dengan lahapnya kami menikmati hidangan yang tersedia sambil sesekali
diselingi gurauan ringan.
“Emang Om Dio punya anak yang
seumuran aku, Yah?” tanyaku pada Ayah.
“Punya, laki-laki, setahu Ayah anak
laki-lakinya itu semasa kecil tinggal bersama neneknya. Sejak tujuh tahun lalu
kalau tak salah, ia baru pindah ke Bali.” Jelas Ayah, aku hanya menganggukkan
kepala tanda mengerti. I wonder, who is
that litte Om Dio?
***
“Kamu
sudah di sini.” Aku datang lebih dulu
dari Fajar dan sudah dengan nyamannya duduk di tempat biasanya ia menikmati
matahari terbit. Aku tersenyum melihat kedatangannya. Sesuai janji, kami akan
menyaksikan matahari terbit dan terbenam bersama hari ini.
Pagi
ini berbeda, aku tak langsung pulang setelah menyaksikan matahari terbit pagi
ini. Aku dan Fajar sarapan bersama.
“Nanti
sore, di tempat yang sama. Oke?” Tanya Fajar memastikan janji kami sore nanti.
“Aku akan datang duluan.” Ucapnya yakin.
“Buktikan.”
Ucapku seolah-olah menantangnya.
“Sure.” Fajar menganggup mantap. “By the way, thankyou for having the sunrise
with me, Senja.”
“No problem.” Asal kau tahu, Fajar,
menyaksikan matahari bersamamu itu salah satu keinginanku dari dulu.
“See you soon.” Ucapnya. “See you.” Aku melambaikan tangan
sebelum akhirnya kami benar-benar berpisah. Aku merasa seolah-olah aku mengenal
Fajar sejak dulu. Mata coklatnya mengingatkanku pada seseorang, entah siapa.
Berada di dekatnya membuatku nyaman, kami tak pernah merasa canggung walaupun
kami tak berbicara. Dia benar-benar matahari, berada di dekatnya selalu
menghangatkan.
***
Fajar
menepati perkataannya, ia sampai duluan di pantai. Tanpa berkata apapun, aku
langsung duduk di sampingnya lalu mengikat rambut panjangku asal. “I’ve
told you, aku datang duluan.” Ucapnya memulai percakapan.
“Sejak
kapan kamu di sini?” tanyaku penasaran.
“Beberapa
menit sebelum kedatanganmu, syukurlah aku tak terlambat.”
“Aku
kira kamu tak pulang sama sekali.” Ucapku sambil tertawa, ia ikut tertawa
renyah. “Which do you like the most,
sunrise or sunset?” tanyaku tiba-tiba.
“Can’t choose one of them. Aku suka
semuanya, mereka saling melengkapi. Memangnya kamu bisa memilih di antara
mereka?” Jawabannya membuatku sedikit berpikir. Apa kita juga akan saling melengkapi?
“Benar
juga. Walaupun namaku Senja, aku tetap menyukai keduanya.”
“Do you wanna countdown together? From five.”
Ajaknya saat matahari mulai turun.
“five… four…” aku mulai menghitung
mundur. “Three… two…” gilirannya
untuk berhitung. “One…” ucap kami
bersamaan saat matahari akhirnya benar-benar terbenam dan hari mulai
gelap.
Kami
menatap satu sama lain sambil tersenyum dalam diam. Cepat dan mengejutkan, ia
mencium keningku secara tiba-tiba. Aku yang terlalu kaget hanya diam tanpa
memberi reaksi apapun. Namun, dia terlihat salah tingkah. “Ma.. maaf… aku… ah,
maaf.” Ucapnya tampak menyesal. Aku hanya tersenyum tanpa berkata. “I just feel like I’ve known you before, maaf
tadi aku tiba-tiba…”
Akhirnya
aku memotong kalimatnya, “it’s ok.” Lalu
tersenyum lembut berusaha meyakinkannya bahwa semua itu tidak apa-apa, walaupun
sebenarnya itu apa-apa karena berhasil membuat jantungku hampir meloncat
keluar.
Kami
memutuskan untuk segera pulang. Sejak kami beranjak dari pantai, ia selalu menggenggam
tanganku dan aku tak berniat untuk melepaskan genggamannya, aku malah balik
menggenggamnya. Namun, akhirnya kami harus berpisah hari ini.
“Thanks for today, Fajar.” Ucapku tulus
saat kami harus berpisah.
“No, I thank you.” Senyumnya begitu meneduhkan.
Sejak saat itu, aku dan Fajar selalu
menghabiskan pagi dan sore bersama untuk menyaksikan terbit dan terbenamnya
matahari. Kami tak pernah membahas masalah saat ia tiba-tiba mencium keningku,
dan kami tak pernah membahas apa sebenarnya hubungan kami. Tak jarang ia
merangkulku saat sedang menyaksikan matahari, atau menggenggam tanganku saat
kami hendak pulang. Satu yang pasti, aku selalu merasa aman dan nyaman berada di
dekatnya.
***
Sesuai
janji dengan Om Dio, malam ini keluarga kami dan keluarganya akan makan malam
bersama di Hong Xing. Ayah bukan orang yang suka membuat orang lain menunggu.
Sepuluh menit sebelum waktu yang dijanjikan kami sudah duduk manis menunggu
keluarga Om Dio di Hong Xing. Aku merasa senang karena akhirnya akan bertemu
dengan anak Om Dio. Aku lupa menceritakan tentang hal ini pada Fajar, saat
bersamanya aku seolah-olah lupa akan hal lain.
“Hari,
sudah di sini kau rupanya.” Sapa Om Dio yang baru saja datang dan langsung
duduk di sebelah Ayahku.
“Di
mana Asti dan anakmu itu? Mereka ikut kan?” tanya Ibu tampak heran karena Om
Dio datang sendirian.
“Senja,
kalau anaknya Om Dio ganteng ambil aja.” Bisik Nara sepelan mungkin agar tak
terdengar Ayah, Ibu apalagi Om Dio.
Aku
memukul Nara pelan, “jangan asal gitu dong.” Nara malah cekikikan pelan
mendengar jawabanku. Lagipula, aku pikir aku sudah bertemu Fajar, dan dialah
matahariku.
“Mereka
sedang di jalan ke mari, aku sengaja duluan karena yakin kau akan datang
secepat ini.” jelas Om Dio sambil tertawa kecil. “Ah itu mereka.” Ucap Om Dio
ke arah pintu masuk melihat sosok istri dan anaknya yang datang.
“Siapa
nama anakmu, Dio?” tanya Ayah.
“Fajar.
Lucu sekali bukan? Anakmu bernama Senja dan anakku bernama Fajar.” Lalu mereka
tertawa bersama.
Tunggu.
Fajar? Fajar yang…
“Senja…”
suara itu, suara yang sudah sangat familiar menyapa telingaku. Benar saja.
“Jar…”
sapaku balik sedikit terkejut lalu berusaha memberikan senyum terbaikku.
“Kalian
saling mengenal? Baguslah.” Tante Asti tampak senang melihat anaknya dan aku
sudah saling kenal.
“Kalian
kenal di mana?” tanya Ibu terlihat penasaran.
“Di
pantai Nusa Dua, tante. Kami suka ketemu kalau nunggu sunrise atau sunset.”
“Ternyata
anak kita memiliki hobi yang sama, Har.” Ucap Om Dio pada Ayahku. Dunia ini
sungguh sempit. Aku selalu berandai-andai untuk mengenal Fajar lebih dekat dan
ternyata dia adalah anak dari sahabat Ayahku.
Setelah
kami memesan makanan dan menghabiskan makanannya, kami membicarakan banyak hal.
Tentang studi ku ke Itali, tentang kehidupan Om Dio dan bagaimana akhirnya Fajar
memilih untuk ikut orang tuanya untuk tinggal di Bali.
“Om
Hari dan Tante Risa, Fajar boleh keliling sebentar sama Senja?” tanpa
menanyakan pendapatku, Fajar langsung meminta izin pada orang tuaku. Baiklah…
Dengan
mudahnya orang tuaku mengizinkanku untuk pergi bersamanya. “Pa, Ma, Fajar sama
Senja dulu, just a minute.” Pamit
Fajar pada kedua orangtuanya. Om Dio hanya mengacungkan jempolnya tanda setuju.
Setelah
kami tak terlihat lagi oleh para keluarga, Fajar menggenggam tanganku. Kami
berjalan dalam diam mendekati pantai.
“Kenapa
kamu tak bertanya padaku terlebih dulu dan malah langsung bertanya pada orang
tuaku?” tanyaku berusaha mencari jawaban atas kebingunganku.
“Kalau
orang tuamu mengizinkan, kamu pasti mau.”
“Teori
macam apa? Tunggu, aku bingung akan satu hal. Maaf aku membahas hal ini,
katamu… Ibumu sudah meninggal, lalu tante Asti?”
“She is my stepmother, she’s so kind.” Jelas Fajar.
Aku mengangguk tanda mengerti.”Jadi, ada apa
apa, Fajar?”
“Awalnya
aku kira aku tak akan mengenalmu, perempuan yang diam-diam aku perhatikan
sampai lima tahun lalu. Dan kembali kuperhatikan saat ini.” ucapnya tiba-tiba.
Sepertinya aku lupa bernapas. “Hingga akhirnya kau sukses membuatku kaget
karena duduk di tempat biasa aku menikmati matahari.”
“Fajar….kamu
memerhatikan aku?” aku masih terlalu kaget.
“Ya,
memang kenapa?” tanyanya bingung namun ia tetap melanjutkan kalimatnya. “Lalu
aku tahu namamu, Senja. Dan kau memiliki
hobi yang sama denganku, menyaksikan matahari terbit dan terbenam. Untuk itu…”
Fajar menarik napas panjang.”Maukah kau menyaksikan terbit dan terbenamnya
matahari, fajar dan senja, bersama-sama?”
Tenggorokanku
tercekat. Aku terlalu bingung. “Bukankah kita sudah melakukan itu?” tanyaku
asal.
“Maksudku…
untuk jangka panjang. Untuk masa depan. Menyaksikan fajar dan senja bersama little Fajar and Senja. Would you?”
tanya Fajar sekali lagi.
Aku
tak bisa menahan senyuman yang terlukis begitu saja di wajahku. “How could I say ‘no’?”
“So…?”
“Of course I would!” jawabku tanpa bisa menahan rasa bahagia yang
kian membuncah. Fajar mencium keningku lembut lalu memelukku erat dan berkata,
“Finally, I’ve found my sun.”
This is what I call happiness.
When you spend your time with your family like there is no end of time, and
when you finally found your love, your sun. What does happiness mean to you?
Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered!





No comments:
Post a Comment