Saturday, June 10, 2017

Pemimpin Itu Munafik

Cukup click bait ga sih judulnya? hwehwe
Jujur, mungkin sebenarnya jarang sekali saya menuliskan hal-hal terkait keorganisasian untuk dipublikasikan. Namun, ada hal yang sudah menggelitik saya cukup lama. Nyambung sama judulnya, jadi pemimpin itu harus munafik.

KOK PEMIMPIN MALAH MUNAFIK???

Begini...
Sebelumnya saya berterima kasih kepada organisasi di jurusan saya yang membesarkan saya sampai seperti ini. Serius, jaman SMP saya pernah ikut OSIS, cuma di tahun pertama. Abis itu males sama LDKnya doang jadi ga lanjut wkwkw

Jaman SMA, akhirnya saya ga ikut organisasi sama sekali. Ikut sih, tapi cuma eksul. Maksudnya ga ikut MPK atau OSIS gitu loh. Karena apa? Karena males ikut LDKnya lagi:))

Iya, dulu endurance saya masih sangat rendah.

Baiklah kembali ke permasalahan yang saya angkat. Iya, menurut saya jadi pemimpin itu harus munafik. In a good way.

Jadi pemimpin harus muka dua. Muka seribu malah. Kenapa?

Ada cerita di suatu lingkungan, suatu tim, ada ketuanya nih. Mari kita anggap ketua ini sebagai pemimpin. Terus tiba-tiba ada suatu kegiatan yang harus dilaksanakan oleh tim tersebut, tapi terkendala sama suatu bencana. Biasanya, para stafnya gitu, sebagai anak bawang, ngeluh sama atasannya.

"Saya bingung kalau udah gini harus gimana."
"Saya ga yakin ini bisa dilanjutkan."
"Saya cape."
"Saya boleh resign?"

Sungguh, dalam keadaan tersulit, pemimpin itu adalah orang yang paling hancur, tapi harus terlihat sebagai sosok yang paling kuat. Saat rekannya mengeluh seperti itu dia harus apa? Ikut mengeluh? Salah besar. Kalau begitu, dia gagal menjadi pemimpin di dalam timnya. Pemimpin itu adalah orang yang harus bisa menjaga hawa positif di dalam tim.

Saat semua orang menyerah, dia harus menjadi yang paling kuat.
Saat semua orang terjatuh, dia harus tetap bangkit dan bergerak.

Munafik kan? Lagi hancur harus nyemangatin orang lain, meyakinkan orang lain kalau masalah itu pasti selesai. Lagi sedih harus tetap senyum.

Senyumnya pemimpin itu menenangkan timnya loh. Semangatnya pemimpin itu memicu pergerakkan timnya loh.

Daaaan... pemimpin itu ga selalu ketua dalam tim. Kamu pun harus menjadi pemimpin, setidaknya bagi dirimu sendiri.

Ada sedikit cerita lagi, sebenarnya panjang sih mungkin...

Begini...

Alhamdulillah saya dipercaya sebagai orang yang bertanggung jawab atas strategi evaluasi di organisasi saya lakoni. Akibatnya, dalam beberapa kesempatan saya pula yang bertanggung jawab untuk mengumpulkan, merekap menjadi satu, berkas-berkas yang menjadi ketercapaian setiap project yang dilakukan oleh seluruh unit kerja.

Jujur, ternyata ini berat buat saya. Berulang kali mengingatkan unit kerja bahwa mereka harus segera mengumpulkan berkas pada tanggal sekian. Hampir setiap hari ngoceh di grup cuma buat ngingetin.

Sayangnya dulu saya belum tahu harus bagaimana terhadap tim saya. Banyak dari mereka ternyata yang tidak bisa mengumpulkan berkas tepat waktu. Saat itu, saya iyakan permintaan mereka untuk memundurkan deadline. Ternyata lama juga, tetep ga kelar-kelar. Pusing banget dulu.

Puncaknya, dulu saya meledak di depan tim saya. Saya nangis. Iya, dulu saya belum munafik wkwkw

Bukan nangis dibuat-buat, saya memang dulu ga tahan karena sempat merasa saya kok gerak sendiri. Setelah saya nangis, beberapa minta maaf ke saya, berterima kasih karena saya masih terus mengingatkan dan tidak membicarakan mereka di belakang. Saya terang-terangan bilang,

"Aku cape, aku juga ada urusan lain. Kerjaan kita sama-sama susah, jangan saling nyusahin."

Saya kira, setelah itu akan ada perubahan. Ternyata... hehehehehe ada sih. Dikit. Menurut saya, pengumpulan berkas saat itu masih agak lambat.

Namun saya mulai belajar. Sebenernya ga enak kalau dengar orang ngeluh, rasanya malah ikut ga semangat. Rasanya mau ikutan mutung. Rasanya pengen kabur. Rasanya... makin cape.

Tibalah waktu saya harus kembali mengingatkan rekan-rekan saya mengumpulkan berkas, di waktu yang berbeda. Jujur, ini masih sama beratnya. Kadang-kadang saya masih menangis saking geregetannya karena udah mulai ada tanda-tanda bakal molor lagi dari waktu yang diberikan.

Saya coba untuk setiap hari, sejak seminggu sebelumnya untuk selalu mengingatkan. Lewat grup, bahkan chat langsung ke orangnya. Lumayan lebih baik dari pengumpulan sebelumnya, tapi... tetep aja ada yang belum beres.

Ada salah satu unit kerja yang bilang ke saya secara pribadi minta deadlinenya diundur karena suatu hal. Sisi jahat saya merasa hal tersebut sebenarnya bukan alasan. Saya sempat begitu kekeuh ga mau mundurin deadline. Namun saya sempat dibilang ga pengertian. Implisit.

Mau nangis? Jelas. Saya ini baperan banget orangnya, tapi saya ingat dulu waktu saya nangis ga berpengaruh apa-apa untuk mereka. Akhirnya saya iyakan permintaan dia dengan beberapa syarat. Dan saya usahakan sebagaimana mungkin supaya saya tidak terlihat kesal, cape, mutung atau sebagainya. Saya berusaha tetap menyemangati dia padahal saya rasanya udah hancur. Lebay? iya emang.

Ada lagi unit kerja yang mengeluh ke saya karena pengumpulan berkasnya terkendala oleh stafnya. Gampangnya, dia mutung sama stafnya. Mau tahu perasaan saya waktu dengar itu? Saya sedih. Kalau orang ini beneran mutung, berarti kerjaan saya juga ga akan selesai nantinya.

Akhirnya apa yang saya lakukan? Saya memposisikan diri bukan sebagai orang yang meminta mereka untuk mengumpulkan berkas, Saya berusaha menyemangati mereka, walau sejujurnya saya masih nyinyir di belakang sendirian wkwkwkw

Akhirnya berkas itu selesai kok. Pada saat itu.

Saya berusaha munafik saat itu.

Berusaha jadi orang yang galak, padahal saya ga enakkan sama orang. Berusaha tetap semangat, tetap senyum padahal sudah beberapa kali saya menangis sendirian karena ga kuat saking capenya. Cape hati.

Bukan maksud sombong loh ya, hanya menceritakan barangkali jadi inspirasi:)

Jadi yang benar-benar saya pelajari dari setahun belakang ini adalah jadilah pemimpin yang munafik supaya hawa positif dalam tim tetap terjaga

DAN

Jangan menyerah untuk memahami timmu. Jika satu metode gagal, coba metode yang lain, jangan dilanjutkan. Jangan menyerah untuk mencari metode terbaik demi hasil yang terbaik pula.

Btw sampai sekarang pun saya belum benar-benar menemukan metode yang sempurna atas pengumpulan berkas-berkas itu, tapi setidaknya saya menemukan metode dengan bug yang lebih sedikit. Setidaknya saya tahu saya harus bagaimana di depan tim saya. Saya harus bisa terlihat lebih tegas di depan mereka, bukan terlihat memohon-mohon sampai menangis.

Selelah apapun kamu, jangan berhenti tersenyum.
Kamu itu pemimpin, semua orang itu pemimpin, setidaknya untuk dirinya sendiri. Hal sekecil apapun yang kamu lakukan itu memengaruhi sekitarmu.

Semoga berfaedah dan menginspirasi.


"Everybody is fighting a hard battle you know nothing about. Be kind. Always."



No comments:

Post a Comment