Thursday, September 24, 2015

Jarak: Rencana untuk Bertemu

Kayla

Hai Kay

Aku sempat terdiam beberapa detik saat menerima chat LINE itu, heran. Pesannya memang langsung ku buka, tapi tak langsung ku balas. Aku membaca pesan tersebut berulang-ulang, dan masih tidak percaya kalau aku baru saja menerima pesan dari Narendra, laki-laki yang tak sengaja bertemu denganku.

Hai Naren, knp?

Aku berusaha
membalas pesannya sebiasa mungkin walau aku sebenarnya tidak merasa biasa saja. Beberapa aku terus menengok ke arah layar ponselku. Jujur, aku menunggu balasan darinya. Aku tiba-tiba tersenyum sendiri saat chat balasan darinya datang.

Lo kenal Farel? Temen SMP lo, tp dia pindah pas kelas dua

Masih dengan bibir yang membentuk lengkungan aku langsung membalas pesannya, sambil berpikir. Apakah Farel yang dia maksud benar-benar Farel yang aku kenal?

Ohhhiyaaa, kenal. Lo kenal??

Dia pindah ke SMP gue haha

***

Narendra

Sejak hari itu, sejak pertama kali gue nyapa dia lewat LINE, gue jadi sering berkomunikasi sama dia. Padahal sudah sekian hari gue merasa akrab dengannya – walau hanya di dunia maya – gue jadi ngerasa gugup dan ragu, gue harus ngajak dia ketemu atau engga? Apa gue meminta Farel untuk mengajaknya bertemu? Atau cuma nunggu sampai kami kembali ga sengaja ketemu?

Farel sebenarnya ga tahu kalau gue sering ngobrol sama Kayla, dan ini adalah kali pertama Farel ga tahu apa-apa tentang hubungan gue sama perempuan. Dan ini juga bakalan jadi kali pertama gue ngajak seorang perempuan jalan tanpa diketahui Farel. Gue berniat cerita ke Farel setelah gue ketemu Kayla untuk kedua kalinya.

Kalau dilihat dari cara Kayla menanggapi ­chat gue selama ini, gue cukup yakin dia nyaman sama gue. Dan karena gue cukup yakin dia nyaman sama gue, gue beraniin ngajak dia ketemu. Basi, iya emang basi banget, gue ngajakin dia nonton. Sebenarnya gue emang ga tahu harus ngajak dia ngapain lagi, kami sama-sama lagi liburan dan ga ada acara tertentu yang bisa gue jadiin ajang modus.

Percaya atau tidak, Kayla langsung menerima ajakkan gue buat nonton hari ini. Perasaan gue? Gugup setengah mati. Sebagai orang yang ngajak nonton, gue memberanikan diri untuk menanyakan alamat rumah Kayla. Walaupun awalnya menolak, akhirnya dia mau juga gue jemput. Dan di sinilah gue sekarang, di depan – yang sepertinya – rumah Kayla.

Kay, gue udah di depan

Berkali-kali gue menarik napas panjang dan melirik ke arah pagar setelah mengirim pesan tersebut, berharap gue ga salah tingkah waktu ketemu Kayla. Tiba-tiba gue mendengar suara pagar yang didorong. Gue langsung masang muka setenang mungkin, dan pura-pura tidak sadar Kayla sudah keluar dari pagarnya.

“Ren.” Sapanya saat jarak kami sudah cukup dekat.

Gue reflek membalas senyumnya, “hey Kay.”


***

No comments:

Post a Comment