Sunday, August 2, 2015

Jarak: Hello, Goodbye

Narendra

Kalian pasti udah sering dengar tentang berbagai macam kepribadian. Ada yang extrovert ada yang introvert. Menurut gue sendiri, gue adalah orang yang introvert. Walau tampaknya gue ga tidak setertutup itu, kadang gue suka ngomong atau bahkan cerita sama diri gue sendiri dibanding cerita ke orang lain. Gue ga semudah itu menceritakan apa-apa tentang hidup gue ke orang lain. Gue cenderung jarang basa-basi juga sama orang, gue milih diam, apalagi sama orang baru kenal.

Cuma ada beberapa orang yang gue kenal dan bisa bikin gue nyaman ngobrol sama dia berlama-lama. Nyokap gue salah satu orang tersebut, dan
Farel. Farel sahabat gue dari SMP, dan dia kuliah di tempat yang sama kayak gue, walaupun kami beda jurusan. Kadang beberapa temen-temen SMP atau SMA ngejekin kami maho atau semacamnya karena emang kami dekat banget, tapi sumpah, gue ga maho. Lain kali, bakal gue kenalin dia ke kalian semua.  

Dan mungkin Kayla yang sekarang ini duduk di belakang gue bisa jadi salah satu orang yang bisa bikin gue betah berlama-lama ngobrol sama dia. Sekali lagi, dia ramah. Gue senang ngobrol sama orang yang ramah. Dan dia memang terlihat mendengarkan lawan bicaranya, ga sepert kebanyakan orang sekarang yang pura-pura mendengarkan, setidaknya itu penilaian gue.

Suaranya pun enak didengar. Gue senang waktu dengar suara dia menjawab pertanyaan dari gue. Mungkin juga gue bisa tahan berjam-jam dengerin dia cerita apapun, karena suaranya menyenangkan.

Gue ga tahu dia lagi ngapain sekarang, mungkin lagi mainin ponselnya, atau lagi ngobrol sama nyokapnya. Yang pasti beberapa menit lagi gue pisah sama dia, dan gue ga tahu bisa ngobrol lagi sama dia apa ga. Bus Damri yang kami naikki sudah memasuki daerah Bandara Soekarno-Hatta, ga lama lagi gue turun.

Ini konyol, tapi gue lagi mikirin apa yang bakal gue ucapin ke Kayla waktu gue turun. ‘Sampai jumpa, Kayla’?Gue masih pengen ngobrol sama lo, Kay’? ‘Kita bisa ketemu lagi ga, Kay?’? Oke, gue menyedihkan. Ya, dan gue harus turun sekarang. Nyokap gue mulai berdiri, gue ikutan.

Sepertinya Kayla sadar gue bakal turun di sini, dia udah menatap gue waktu gue nengok ke dia. Gue bingung sebentar, bingung gimana pamitnya. Gue senyum dulu.

“Eh, gue duluan ya Kay.” Akhirnya cuma gitu aja kata-kata dari gue, sama sekali bukan yang gue pikirkan.

Dia mengangguk sambil tersenyum, “hati-hati, Ren.”

Gue masih tersenyum, gue ambil koper gue, dan gue turun dari bus. Pertemuan gue dan Kayla cuma sebentar, bentar banget. Dan gue ga tahu bisa ketemu dia lagi atau ga. Walaupun gue tahu kami berasal dari kota yang sama, gue pikir ga berarti segampang itu gue bisa ketemu dia lagi. Dan sekali lagi gue ucapkan, gue pengen ngobrol sama lo lagi, Kay.

***

Kayla

Apakah setiap pertemuan memiliki maksud? Kalau begitu, bagaimana dengan pertemuanku dan laki-laki yang bernama Narendra tadi? Untuk orang yang tiba-tiba aku ajak kenalan di bus Damri, ia memberi respon positif, maksudku, aku pikir dia tidak merasa jijik denganku, dengan aku yang tiba-tiba muncul di kolom chat di LINEnya.

Mungkin itu salah satu maksud pertemuan kami. Naren mengajariku, bahwa tidak semua orang itu judes saat pertama bertemu hahaha. Ia sudah turun dari bus Damri. Kami berpisah, dan aku tidak tahu, apa pertemuan kami hanya pertemuan satu kali yang tanpa arti, atau mungkinkah aku bisa bertemu dengan Narendra sekali lagi?

No comments:

Post a Comment