Sunday, August 9, 2015

Jarak: Adaptasi

Kayla

Jadi begini rasanya kuliah. Beberapa minggu pertama, aku merasa begitu ingin pulang. Aku merindukan suasana rumah. Terlebih lagi Surabaya yang jarang sekali diguyur hujan. Ya, aku menyukai hujan. Dan angkot, aku yang terbiasa ke sana ke mari sendirian menggunakan angkot, kesulitan untuk seperti itu di Surabaya.

Namun, setelah bulan ketiga aku di sini, aku mulai betah. Syukurlah aku adalah salah satu jenis orang yang mudah beradaptasi. Aku mulai menikmati panasnya Surabaya, bukannya hujan dengan petirnya Bogor. Aku mulai terbiasa dengan segala kegiatan semester awal sebagai mahasiswa. Aku menyadari hal lucu, saat kuliah, jam di dalam kelas lebih sedikit daripada saat bersekolah, tapi aku merasa lebih sibuk dibanding saat sekolah dulu. Sungguh, kalau kau masih SMA, manfaatkan sebaik-baiknya.

“Kay, makan ga?” aku langsung menoleh
begitu mendengar seseorang memanggilku.

Tania, salah satu teman terdekatku di sini, memanggilku. Aku memang sendirian sedari tadi di sini, di kursi-kursi yang berderet di taman kampusku. Tania duduk di sampingku, dan mengintip apa yang aku lakukan dengan laptopku.

“Ngapain?” tanyanya penasaran. Aku hanya menyengir. 

“Nulis lagi?” tanya Tania, dan aku mengangguk lalu menutup laptopku. Tania sudah tahu persis hobiku, menulis. Kalau aku sedang tidak bersama laptopku, kadang aku menulis di note book yang aku bawa ke mana-mana, atau bahkan di ponselku.

“Mau makan di mana?” tanyaku sambil melihat jam tangan. Sejam lagi kami masuk kelas. Kebetulan, aku dan Tania memang memiliki beberapa kelas yang sama, dan mungkin karena itu juga kami sering bersama.

 “Ga tau, bingung. Kantin aja apa ya?”

“Yaudah, yuk.” Ajakku, lalu kami berjalan menuju kantin.

Aku ceritakan sedikit tentang Tania. Ia manis, kulitnya sawo matang, dan memiliki wajah khas Indonesia. Dia cenderung pendiam saat kami baru berkenalan, dan saat berkumpul dengan teman-teman lainnya, berbeda denganku. Namun, saat kami sudah mulai mengenal satu sama lain, Tania tidak sependiam itu. Ia peduli dengan teman-temannya, dan beruntunglah aku adalah salah satu orang terdekatnya.

Kami segera menuju kelas setelah menghabiskan makanan kami. Kelas sebelumnya belum selesai, kami memilih untuk duduk tak jauh dari sana.

“Bentar ya, Kay.” Ucap Tania tiba-tiba sambil menunjuk ponselnya. Ia menempelkan ponselnya ke telinganya untuk menerima telepon yang mungkin dari keluarganya.

Melihat Tania yang sedang sibuk dengan ponselnya, aku mengambil ponselku di tas dan membuka timeline di LINEku. Saat itu aku melihat namanya, aku kembali melihat namanya. Laki-laki yang tak sengaja ku jumpai tiga bulan lalu saat aku akan meninggalkan Bogor. Ia baru saja mengganti profile picturenya. Pikiran itu terlintas begitu saja, padahal aku sempat lupa bahwa aku pernah bertemu dengannya.


Lalu aku bertanya entah pada siapa, bisakah aku dan Narendra bertemu sekali lagi?

No comments:

Post a Comment