Saturday, July 25, 2015

Jarak: Pertemuan (Narendra)

Narendra

Hey, lo Naren yang duduk di depan gue ya?

Gue diam. Mikir. Siapa yang tiba-tiba ngechat gue? Dari display namenya yang tertulis ‘Kayla’, gue yakin dia perempuan. Karena dia bilang
gue duduk di depannya, berarti dia ada di belakang gue kan? Iya pertanyaan konyol. Tanpa basa-basi,
gue langsung menoleh ke belakang dan melihat seorang perempuan berambut lurus sebahu, lebih sedikit sih, yang lagi asik sama ponselnya.

“Kayla, ya?”

Perempuan yang gue duga sebagai Kayla itu langsung menatap gue dan tersenyum yang gue anggap sebagai ‘ya’ dari pertanyaan gue.

Gue balas tersenyum sambil menjulurkan tangan, “Naren.”

Dia menjabat tangan gue, “Kayla.” Sebenarnya tanpa acara kenalan resmi kayak gini kami sudah saling tahu nama masing-masing, biar afdol saja.

“Lo mau ke mana?” gue bingung kenapa gue bisa basa-basi sok asik sama orang baru kenalan sama gue, walaupun dia sebenarnya sudah jadi teman gue di LINE, walaupun gue ga tahu, atau lupa, gimana ceritanya.

“Ke Surabaya, lo ke mana?” dia balik bertanya. Ramah. Itu yang pertama gue pikirkan tentang Kayla ini. Ya, dia ramah. Sesaat gue lupa di sebelah gue ada nyokap. Beliau pasti bingung gue ngobrol sama siapa.

“Gue ke Bali. Mau kuliah?” sekali lagi gue bertanya. Entah kenapa rasanya gue ga mau melewatkan kesempatan buat ngobrol sama Kayla yang cara ketemu sama gue sudah kayak di sinetron atau ftv gitu.

Dia mengangguk menjawab pertanyaan gue, “lo?”

“Iya gue juga.” Gue baru sadar ada orang di sebelah Kayla, sepertinya nyokapnya, ngeliatin kami ngobrol.

Gue mencoba untuk menyapanya dengan mengangguk sopan, “tante.” Posisi gue terlalu susah kalau mau salam ke beliau.

Kayla spontan langsung mengenalkan gue dengan orang yang di sebelahnya, “Ma, ini teman Kay. Ren, nyokap gue.”

Gue senyum sambil nyebut nama gue, “Naren, tante.”

Nyokapnya Kayla tersenyum ga kalah ramah sama anaknya. Sepertinya mendengar gue menyebut kata ‘tante’, nyokap gue langsung ikutan menghadap ke kursi belakang. Gantian, gue yang mengenalkan Kayla ke nyokap gue.

“Bu, ini Kayla, teman Naren. Kay, nyokap.” Sengaja gue agak ngikutin gaya Kayla barusan. Kayla lebih berusaha dibanding gue, dia berdiri supaya bisa salam ke nyokap gue.

“Mau ke mana?” tanya nyokap gue ke Kayla.

“Surabaya, tante.” Jawab Kayla, masih ramah.

“Mau daftar ulang.” Tiba-tiba nyokapnya Kayla nimpalin.

“Wah iya sama, anak saya juga.” Jawab nyokap gue diakhiri tawa. Gue sama Kayla sama-sama diam. Dia masih memasang senyum ramahnya, dan gue masang senyum sok ramah ala gue.

“Kuliah di mana?” sepertinya pertanyaan dari nyokap Kayla ditujukan ke gue.
  
“Udayana.”

“Ohhh, Bali?” tanya nyokapnya Kayla sekali lagi sambil ngangguk-ngangguk.

“Iya, tante.” Gue nanya balik ke nyokapnya, formalitas aja sih sebenarnya. “Kayla di mana?” Iya, gue bertanya tentang Kayla ke nyokapnya, padahal Kayla ada di situ juga.

“ITS, Ren.” Kayla yang menjawab pertanyaan gue. Gue cuma ngangguk-ngangguk.

Gue ga tahu mau ngomong apalagi saat itu, akhirnya gue milih diam dan kembali duduk di kursi gue dengan nyaman. Tidak menoleh ke belakang maksud gue, padahal gue pengen ngobrol lagi sama Kayla, dia ramah.

“Kenal dari mana?” nyokap gue tiba-tiba nanya dengan suara pelan.

“Dulu kenal dari temen.” Gue jawab asal. Ga lucu aja rasanya gue cerita ke nyokap kenal dari mana. Dari mana? Damri? LINE? Ga lucu.

Lalu kami sama-sama diam. Sejak saat itu, saat pertama kali gue ngobrol sama dia, gue langsung sadar sesuatu, suaranya enak didengar. Gue pengen ngobrol lagi sama lo, Kay.

No comments:

Post a Comment