Saturday, July 18, 2015

Jarak: Pertemuan (Kayla)

Kayla

Sudah sering sekali kita melihat – aku yakin tak hanya aku – macam-macam pertemuan manis antara dua orang, biasanya laki-laki dan perempuan, lalu akhirnya mereka menjadi pasangan yang katanya hidup bahagia.

Seperti mereka yang tidak sengaja bertabrakan saat si perempuan membawa banyak buku. Lalu mereka bertemu pandang saat tangan mereka tak sengaja bersentuhan ketika mengambil buku yang sama. Atau lelaki ceroboh yang tanpa sengaja menabrak perempuan jutek sampai perempuan tersebut benci setengah mati, namun takdir terus mempertemukan mereka.

Mungkin kalian tahu Hazel dan Augustus yang bertemu di support meeting lalu akhirnya saling jatuh cinta. Begitu pula dengan Landon yang akhirnya bertemu dengan Jamie karena ia dihukum. Semua pertemuan mereka unik.

Aku tidak tahu apakah pertemuanku dengan seorang lelaki satu ini dapat dikatakan salah satu jenis pertemuan yang manis seperti di film atau di novel yang biasa kalian nikmati, atau pertemuan yang biasa saja?

Percayalah, pertemuan kami pun berjalan begitu saja. Berlangsung cepat, tanpa rencana.

***

Ini adalah salah satu hal menyedihkan namun menyenangkan dalam hidupku. Saat akhirnya aku meninggalkan Bogor, kota tempat selama aku dibesarkan, demi melanjutkan pendidikanku. Ternyata ini lebih menyedihkan dari yang aku bayangkan. Aku berusaha terus menahan air mata, aku mulai berpikir, aku belum punya sahabat di sana, kalau aku sakit bagaimana? Kalau aku rindu Bogor bagaimana? Kalau kau perantau, mungkin kau pernah berpikir seperti ini.

Hari itu, Ibuku menemaniku untuk keberangkatanku yang pertama. Kami memutuskan untuk menggunakan jasa bus Damri menuju Bandara Soekarno-Hatta. Aku memeluk kedua kakakku yang ikut mengantar ke terminal damri.

“Baik-baik di sana.” Bisik kakak perempuanku saat aku memeluknya. Aku tersenyum, masih berusaha menahan tangis.

Aku masuk ke salah satu bus yang akan berangkat sebentar lagi diikut Ibuku. Saat baru memasuki bus, Aku sempat memandang seorang lelaki cukup lama, beberapa detik. Aku tebak, ia seumuran denganku. Wajahnya tidak begitu asing, aku berusaha mengingat-ingat apa aku pernah bertemu dengan lelaki itu sebelumnya atau tidak.

Tepat kursi di belakang lelaki itu kosong, aku memilih duduk di sana, Ibuku di sebelahku. Bus itu akhirnya berangkat dan berarti aku akan segera meninggalkan Bogor.

Oh ya, aku masih memikirkan siapa lelaki yang duduk tepat di depanku. Call me a freak. Aku tidak bermaksud mengintip atau apa, tanpa sengaja aku melihat layar ponselnya melalui celah yang ada di antara dua kursi. Maafkan aku yang tidak berniat untuk berhenti mengintip. Aku terus mengamati ponselnya, aku lihat dia me­-update­ status baru di LINEnya. Hanya sebuah sticker, sticker pesawat.

Aku bersandar. Tiba-tiba aku teringat. Aku segera membuka LINEku. Aku yakin jika kau membuka friend recommendations pada LINEmu, kau akan menemukan orang-orang yang berada satu grup denganmu, atau bahkan orang-orang yang menyimpan nomormu. DI situlah aku sadar.
Aku melihat salah satu profile picture lelaki yang sudah cukup lama ada di kolom friend recommendations ku. Dan entah kenapa, aku begitu yakin lelaki itu adalah lelaki yang duduk di depanku. Mereka orang yang sama.

‘Added you by phone number’. Itulah yang tertulis tepat di bawah namanya. Heran, bagaimana bisa dia menyimpan nomorku saat kami tak saling kenal? Sekali lagi ku klik profilnya. Dan ya, aku menambahkannya sebagai teman. Aku menemukan status dengan sebuah sticker yang baru diupdate beberapa menit lalu oleh lelaki depanku. Aku tersenyum. Mereka lelaki yang sama.

Aku sempat diam beberapa saat. Aku melihat lewat celah kursi lagi, ia sedang mengobrol dengan seseorang di sebelahnya, sepertinya itu Ibunya. Sempat terpikir mungkin aku akan menyapanya tiba-tiba, namun bagaimana?

Aku kembali melirik lewat celah itu lagi, mereka sudah tidak mengobrol, namun sepertinya lelaki itu tidur. Aku menyenderkan kepalaku lalu menatap jalan. Memikirkan entah apa sampai aku kembali melihat lewat celah, lelaki itu sedang memegang ponselnya.

Hey, lo Naren yang duduk di depan gue ya?

Aku persilahkan kalian menilai aku freak sekali lagi karena berani-beraninya memulai obrolan dengan lelaki-entah-siapa melalui LINE. Ya, aku mengirimkan pesan itu padanya.

Aku hampir tertawa sendiri karena merasa geli akan tingkahku. Tidak lama setelah pesanku terkirim, aku melihat ada tulisan Read di samping chatku. Apakah ia sudah benar-benar membaca pesanku?

1 comment: