Wednesday, August 28, 2013

Dan Hidupnya Tak Lagi Sama

Malam itu, seorang lelaki berpostur tegap, yang tak lain adalah Rey, menunggu sahabatnya di sebuah kedai kopi. Baru beberapa menit ia duduk, ia menangkap sosok yang ditunggunya. Tetapi… Joe, sahabat Rey, tidak sendiri.
“Rey!” panggil Joe penuh semangat.
Joe merasakan sarafnya menegang melihat sosok yang datang bersama Rey. Sisca. Seseorang yang tiba-tiba meninggalkannya di masa lalu, tanpa alasan. Ia memaksakan seulas  senyum untuk Joe.
“Maaf bro, gue telat.” Ucap Joe.
“Oh, iya. Santai aja.” Rey berusaha bersikap setenang mungkin.
“Eh, maaf lagi nih. Gue ga bisa lama-lama. Gue ada janji.”
“Janji apa?” Tanya Rey singkat lalu mencuri pandang ke arah wanita anggun berambut hitam legam sebahu yang duduk di sebelah Joe.
“Gue belum cerita? Gue mau ke rumah orang tua tunangan gue. Kita mau ngomongin tanggal pernikahan.” Jelas Joe tanpa ia sadari membuat Sisca menyembunyikan wajahya dari Rey. Dahi Rey berkerut samar. Belum sempat Rey menanggapi, Joe melanjutkan kalimatnya.
“Rey, ini Sisca, tunangan gue. Sis, ini Rey sahabat aku itu.” Joe mengenalkan kedua orang yang sebenarnya sudah saling mengenal. Mereka bersalaman, canggung. Rey merasakan rahangnya mengeras. Amarah, kecewa, dan kesedihan bercampur aduk.
“Yaudah, gue duluan, bro!” Joe berdiri dari tempat duduknya sambil menggenggam tangan Sisca. Sisca tidak mampu menatap wajah Rey. Ia terlalu takut.

Pasangan itu pun pergi meninggal Rey yang masih terdiam tak percaya. Apakah Sisca sadar? Sejak kepergiaannya, hidup Rey tak lagi sama. Ia berusaha menikmati kesendiriannya dengan luka yang tak akan bisa sembuh. Sungguh, Rey masih menyayangi Sisca.

1 comment: